Rabu 14 Agustus 2019, 18:39 WIB

Pelaku Karhutla di Musi Banyuasin akan Ditembak di Tempat

Dwi Apriani | Humaniora
Pelaku Karhutla di Musi Banyuasin akan Ditembak di Tempat

MI/Dwi Apriani
Upaya pemadaman tim satgas udara di Desa Muara Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Rabu (14/8).

 

Komandan Satgas Karhutla Sumsel Kolonel Arhanud Sonny Septiono menegaskan pihaknya sudah mengeluarkan ancaman tembak di tempat kepada pelaku pembakar hutan dan lahan. Terutama yang setiap tahun tidak mengindahkan maklumat dan larangan aparat. Hal tersebut disebut untuk memberikan efek jera agar para pelaku karhutla tidak mengulang aksi tersebut.

Sonny mengatakan, pihaknya memohon kepada Polri agar penegakan hukum dalam kasus karhutla dilakukan dengan tegas dan tidak pandang bulu agar setiap tahunnya tidak terulang lagi.

''Kalau seperti ini terus, tidak menutup kemungkinan akan saya lakukan tembak di tempat pelakunya. Tetapi kalau memungkinkan, tentu juga ada SOP-nya. Karena kalau tidak ditakuti seperti itu, mereka akan tetap terus melakukan pembakaran,'' ujar dia.

Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan Pemerintah Musi Banyuasin juga akan segera melakukan tindakan yang tegas dalam upaya penanggulangan Kebakaran hutan kebun dan lahan.

"Semua pihak segera turun ke Bayung lencir untuk mengumpulkan perusahaan-perusahaan dan kita paksa mereka untuk segera action langsung jadi bukan lagi preventif dan pencegahan tetapi mereka harus segera turunkan peralatan, sarana dan prasarana serta personel untuk memadamkan api di konsesi mereka," kata dia.

Kepala Barhakam Polri Komisaris Jenderal Condro Kirono berujar, pihaknya pun sempat melakukan pemantauan udara untuk wilayah kebakaran di sebagian Sumatera. Hasilnya, Riau terbilang parah sementara Jambi dan Palembang lebih baik meskipun masih ada titik api. Berdasarkan pengalamannya menjadi Kapolda Riau pada 2013-2014, apa yang sudah dilakukan Satgas Karhutla di Sumsel sudah baik.

Dengan melakukan status siaga darurat sejak April lalu, satgas memiliki
waktu yang lebih banyak untuk melakukan sosialisasi pencegahan dengan turun ke lapangan dan memberikan edukasi terhadap masyarakat terkait kerugian yang ditimbulkan apabila terjadi karhutla. Namun dengan cuaca kering ekstrim yang terjadi di 2019 ini dibandingkan 2018 lalu, dirinya meminta Satgas Karhutla Sumsel untuk tetap siaga hingga status tanggap darurat dicabut.

''Tim darat, bersama babinsa, bhabinkamtibmas, dan kades sudah harus tinggal di desa yang rawan kebakaran. Membagikan maklumat dan ancaman terhadap pelaku pembakar harus ditekankan. Mobil patroli polsek polres itu harus dikasih branding 'Satgas Pemburu Pembakar Hutan dan Lahan, supaya ada efek detterent-nya,'' ujar dia.

Dengan sosialisasi dan memberi pengetahuan akan ancaman yang dikenakan
kepada pelaku pembakar lahan, maka rasa takut di masyarakat untuk melakukan karhutla akan meningkat. Ketakutan tersebut akan mengurangi kebiasaan membakar untuk membuka lahan yang masih marak dilakukan.

''Ditekankan bahwa pembakar hutan adalah pelaku tindak pidana, diancam
dengan penjara dan denda. Sehingga semua orang sadar akan bahaya karhutla ini,'' tandasnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Selatan mencatat ada ratusan hektare lahan di Musi Banyuasin masih terbakar. Bahkan sampai saat ini (14/8), tim pemadam dari darat dan udara masih memaksimalkan upaya pemadaman, khususnya di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Musi Banyuasin.

Berdasar data sementara di lapangan, BPBD mencatat lebih dari 100 hektare lahan gambut di Desa Muara Medak terbakar. Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumsel Ansori mengatakan, titik api baru mulai terdeteksi pada pagi hari tadi setelah memantau melalui satelit Lapan dan dikonfirmasi oleh tim patroli udara.

Berdasarkan pantauan satelit di website Lapan, terdapat 105 hotspot
terdeteksi di Sumatera Selatan, sejak Selasa (13/8) siang hingga Rabu
(14/8) petang. Dengan tingkat kepercayaan di bawah 29% sebanyak 3
titik panas, 30%-79% sebanyak 46 titik panas, serta tingkat
kepercayaan di atas 80% sebanyak 56 titik panas.

''Untuk luasan pastinya belum dapat laporan dari tim darat. Namun
diperkirakan sekitar 100 hektare. Hasil patroli kemarin tidak terpantau, setelah pengecekan pagi ini dikonfirmasi memang benar adanya. Secara fisik asapnya sangat tebal namun api tidak terlihat. Sudah kita kerahkan 3 helikopter untuk waterbombing,'' ujar Ansori.

Ia menuturkan, tim pemadam darat kesulitan mencapai lokasi kebakaran karena wilayah gambut dan jauh dair lokasi pemukiman. Titik api diduga muncul dari lahan milik warga, yang merembet ke lahan perkebunan milik perusahaan.

''Waterbombing siang tadi sudah dilakukan 42 kali namun api belum padam. Sekarang masih dilakukan pemadaman. Tim pemadam terkendala ketersediaan air jauh dari lokasi kebakaran,'' kata dia.

Tak ingin kondisi tersebut meluas, tim gabungan Kecamatan Bayung Lencir, BPBD Muba, Kodim 0401, Polres Muba, dan Manggala Agni langsung turun ke lokasi karhutbunlah dengan cara bergotong royong dan berjibaku memadamkan api. "Sampai dengan saat ini proses pemadaman dan pendinginan oleh tim darat dan udara (WB) masih berlangsung," ungkap Camat Bayung Lencir, Akhmad Toyibir.

Dikatakannya, Fire Spot di Dusun 9 areal tersebut tidak dalam izin Lokasi Ijin Perusahaan yang aktif (eks BPUJ), penyebab karhutla berdasarkan info dari pemdes dan masyarakat dikarenakan loncatan api dari Karhutla yang terjadi diduga dari PT RHM yang lokasinya bersebrangan dengan anak Sungai Medak.

"Adapun kondisi lahan yang sudah terbakar di areal ini diperkirakan sekitar lebih kurang 60 Ha dan kondisi api sudah terkepung di antara blok jalan kebun masyarakat dan mudah-mudahan ke depan angin tidak bertiup kencang lagi," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Muba Indita mengaku hingga saat ini tim BPBD Muba masih berjibaku untuk memadamkan api supaya tidak meluas. "Saat ini pemadaman api terus berjalan bersama tim tni dan polri masyarakat dan pihak pohak perusahan yang berdekatan dengan lokasi," kata dia.  (DW/OL-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More