Selasa 13 Agustus 2019, 22:03 WIB

Hujan di Tanah Suci Seperti Setetes Embun di Tengah Padang Pasir

Sitria Hamid Laporan dari Arab Saudi | Humaniora
Hujan di Tanah Suci Seperti Setetes Embun di Tengah Padang Pasir

AFP/FETHI BELAID
Jemaah haji yang tetap melaksanakan rangkaian ibadah meskipun hujan deras mengguyur Mina.

 

JEMAAH haji Indonesia yang sudah menyelesaikan nafar awal di Mina sudah kembali ke hotel-hotel di Mekah. Dan, sebagian jemaah yang akan menyelesaikan nafar tsani masih mabid ( bermalam) di Mina.

Kepala Daerah Kerja Mekah Subhan Cholid mengatakan hal itu, di Kantor Urusan Haji Indonesia, di Mekah, Selasa (13/8).

"Hari ini jemaah haji yang nafar awal sudah tiba di hotel dan menikmati perjalanan hajinya. Sebagian jemaah menyelesaikan nafar tsani di Mina. Jemaah haji yang ingin nafar tsani tetap berada di Mina. Nanti jumrah ula wusto aqabah," kata Subhan.

Jika mengambil nafar awal jemaah harus sudah meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam Selasa (13/8). Jika jemaah masih berada di Mina, maka dia harus mabit satu malam lagi pada 13 Dzulhijjah dan melontar tiga kali jumrah lagi, atau yang disebut nafar tsani.

Subhan menyatakan, bahwa jemaah haji Indonesia di Mina dalam keadaan baik dan sudah kembali ke hotel-hotelnya di Mekah, bersama dengan jutaan umat Islam dari seluruh dunia.

"Alhamdulillah jemaah haji Indonesia baik-baik saja. Keluarga di tanah air tenang. Tidak terjadi apa-apa. Jemaah menjalankan ibadah haji dengan baik. Layanan akomodasi, konsumsi, transportasi berjalan sesuai rencana," jelasnya.

Baca juga: 20 Menit Menag Antre Toilet di Mina

Subahan Cholid menyatakan, terjadi hujan di kota Mekah termasuk di Mina. Hujan itu, lanjutnya, seperti setetes embun di tengah padang pasir, yang sangat menyegarkan. Dan akibat hujan tersebut, kata Subhan, di tenda Mina ada sebagian karpet basah. Tetapi tidak membuat jemaah keluar tenda. Karpet yang basah dilipat dan sudah dipasang lagi. Selain itu, menurut dia, memang ada beberapa maktab yang listriknya dimatikan. Hal itu, untuk menghindari korsletingl karena air.

"Jemaah diimbau tetap berada di tenda. Karena di luar hujan. Dan juga jemaah yang sedang di jamarat berhenti di jamarat karena berlindung dari hujan. Kalau yang ditenda berangkat ke jamarata, bisa terjadi penumpukan. Beresiko kepadatan di jamarat," jelasnya lagi.

Sementara, terkait adanya satu atau dua eskalator yang dimatikan, kata Subhan, hal itu karena memang eskalator berada di tempat terbuka. Menghindari kongslet dan bisa berakibat pada jemaah. Maka oleh Arab Saudi peralatan elektrik dimatikan.

"Adapun kemudian kita menerma berbagai gambar atau video kondisi Mina, itu sesungguhnya hanyalah genangan air saja. Karena petugas kita sudah langsung melakukan antisipasi dengan sigap berada di tenda jemaah. Berkoodinasi dengan pengurus maktab. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Menjelang magrib Senin (12/8) sudah nyala. Ada yang setelah isya."

Hujan di Mekah, lanjut Subhan, hanya terjadi Senin (12/8) sore dan saat Isya hujan sudah reda. Sementara, di hari Selasa (13/8) sejak pagi hingga sore hari udara cerah dan cenderung kembali normal. Bahkan, cuaca cukup panas.

" Yang kami rasakan di Mina itu hujan biasa saja. Dan hujan air. Apakah itu es? Saya rasakan itu es biasa seperti di tanah air. Tapi karena terjadi di tanah suci, kita bisa rasakan bedanya," jelas Subhan lagi.(OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More