Selasa 13 Agustus 2019, 19:00 WIB

Mencintai Wastra Nusantara, Menjaga Ingatan Tentang Peradaban

Ghani NUrcahyadi | Humaniora
Mencintai Wastra Nusantara, Menjaga Ingatan Tentang Peradaban

Dok. Norojono Tobacco International
Diskusi soal kain nusantara

 

MENCINTAI dan menjaga wastra Nusantara atau kain tradisional Indonesia berarti menjaga ingatan terhadap budaya dan peradaban Nusantara, karena setiap lembar wastra mempunyai nilai nilai filosofis yang agung dan luhur.

Kecintaan terhadap wastra itu pun diwujudkan PT. Nojorono Robacco International lewat diskusi soal wastra Nusantara di Jakarta, Selasa (13/8). Diskusi itu melibatkan pegiat-pemerhati batik Notty J Mahdi dan pegiat-pemerhati ulos Erfan Siboro.

"ini menjadi bagian penting dari kepedulian dan tanggung jawab kami sebagai perusahaan nasional yang terus menerus memberikan kontribusi nyata di bidang pelestarian budaya dan pendidikan bagi masyarakat," Kata Debora Amelia Santoso, General Marketing Communication and Corporate Branding PT Nojorono Tobacco International.

Debora berharap diskusi menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-74 dengan tema Wastra dan Kemerdekaan itu menjadi tonggak penting bagi PT Nojorono Tobacco International dalam menumbuhkan semangat untuk selalu mencintai warisan budaya nusantara yang kaya dari berbagai derah di Indonesia, seperti wastra atau kain tenun batik, lurik, dan ulos.

Notty J Mahdi yang juga Antropolog Universitas Indonesia mengatakan, jika nilai nilai filosofis dari motif motif batik di seluruh nusantara, dikaji lebih dalam, maka akan terlihat bahwa motif motif itu memiliki benang merah yang mencerminkan karakter budaya Indonesia.

Baca juga : Eksotisnya Tenun NTT

"Memahami makna dan cerita dibalik motif-motif kain nusantara, menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga ingatan kita tentang bagaimana peradaban nusantara terbentuk. Dalam konteks hari ini, menjadi bagian dari upaya melestarikan keberadaan kain-kain nusantara," ujar Notty.

Notty menambahkan, sejatinya setiap kain-kain nusantara memiliki tujuan penggunaan masing-masing saat kain itu dibuat.

Namun meski setiap pengguna kain-kain nusantara  harus memahami makna kain yang digunakan, jangan sampai menjadikannya sangat jauh dari keseharian masyarakat.

“Fenomena hari ini dengan meluasnya penggunaan batik, tenun, dan beragam kain nusantara lainnya sebagai pakaian keseharian menjadikan kain akan lebih merakyat dan masyarakat bangga mengenakannya,” ujar Notty lagi.

Hal itulah yang juga diupayakan oleh Erfan Siboro yang merupakan karyawan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta itu. Ia ingin menjadikan ulos sebagai pakaian keseharian lewat karya desain fesyennya.

Ia mengatakan, karyanya berawal dari keinginan untuk turut meramaikan pilihan penggunan kain Indonesia sebagai pakaian formal untuk dikenakan bekerja sejak pemerintah menetapkan adanya hari penggunaan Kain Indonesia Dalam Bekerja, selain batik, tenun NTT dan tenun lainnya.

Baca juga : Triawan Munaf Cebong dan Kampret untuk Motif Kain

Usaha fesyen tenun Ulos, Abit Kain, yakni produk yang dibuat berdasarkan pesanan, dan Abit Catalogue, koleksi fesyen siap pakai yang diproduksi dalam jumlah tertentu, yang Erfan rintis sejak 2015, kian dikenal tak hanya kalangan masyarakat atau pecinta kain tenun, tapi juga sudah mendunia.

Erfan mengungkapkan, usahanya seperti membuka tabir sejarah dan fakta serta mengembalikan fungsi tenun Ulos sebagai produk sandang, sebagaimana nenek moyang orang Batak dahulu gunakan.

"Banyak orang Batak sendiri menggangap Ulos sebagai sebuah benda keramat, “dihormati” dan terkesan berhala, padahal dari dokumen sejarah bisa kita temukan foto-foto nenek moyang orang batak mengenakan ulos sebagai pakaian keseharian,” ujar Erfan. (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More