Selasa 13 Agustus 2019, 18:10 WIB

Woodstock, Puncak Mimpi Kaum Hippie

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Woodstock, Puncak Mimpi Kaum Hippie

AFP
Woodstock 1969 pemain terpilih dan di mana mereka sekarang

 

SEBUAH akhir pekan dengan kesenangan tanpa batas. Area peternakan di New York diubah oleh sekelompok pemuda menjadi kota berukuran sedang dengan sebuah perayaan musik rock dan impian utopis.

Woodstock mencakup banyak hal, namun satu yang pasti, perayaan itu dipuja banyak orang sebagai batu ujian budaya suatu generasi. Festival perdamaian, cinta, dan musik yang dimulai pada 1969, mencapai usia 50 tahun pada akhir pekan ini. Sebuah momentum yang memicu gelombang nostalgia, bagi generasi yang masa mudanya lekat dengan musik rock. Rambut panjang merupakan sebuah sikap, dan banyak yang berkata "groovy" tanpa kesan ironi.

Baca juga: Carrie Lam Hampir Menangis Saat Dicecar Wartawan

Diperkirakan sekitar 400-500 ribu orang mengikuti festival di area Max Yasgur, New York, pada 15-18 Agustus mendatang. Mereka akan memulai perjalanan nostalgia dengan menikmati suguhan karya ikonik dari Janis Joplin, Jimi Hendrix dan Santana. Kemudian, orang-orang yang hanyut dalam alunan musik akan menari.

Awalnya, pihak panitia mengenakan biaya sebesar US$ 18 kepada pengunjung festival, yang mulai menampilkan sejumlah kelompok musik rock legendaris seperti, Creedence Clearwater Revival, The Who, dan Crosby, Stills, Nash dan Young.

John Roberts dan Joel Rosenman adalah sosok yang mendukung pendanaan festival, bersama rekan sesama pecinta musik lainnya, Michael Lang dan Artie kornfeld. Festival itu dianggap sebagai peluang bisnis untuk mempromosikan calon studio rekaman di wilayah utara New York.

Akan tetapi, ketika kabar konser rock pedesaan berkembang luas, banyak orang rela menelusuri jalan desa yang berliku ke lokasi festival di White Lake. Sebuah dusun di kota kecil Betel, sekitar 100 kilometer (km) barat daya Kota Woodstock. Melihat peralihan massa, penyelenggara tidak mempunyai pilihan selain menyatakan Woostock menjadi festival kebebasan, layaknya cinta.

Begitu alunan musik menggema, hujan deras pun turun dan makanan sampai habis. Beberapa helikoter berputar di atas kepala, biasanya mengantar musisi, atau kebutuhan lainnya. Terlepas dari lumpur dan peringatan asam yang buruk, mitos Woodstock tetap hidup. Festival ini dipuja sebagai suar harapan yang muncul pada 1960, sebuah era penuh kekacauan dan pembunuhan ketika Perang Vietnam berkecamuk.

Sri Swami Satchidananda, seorang guru yoga dari India, membuka festival dengan pidato yang menggaungkan belas kasih. Woodstock diharapkan menjadi aktualisasi budaya tanpa kekerasan.

"Saya sungguh bahagia melihat seluruh pemuda Amerika berkumpul di sini, atas nama seni musik yang sangat baik," ucap pria berjanggut yang duduk bersila di depan kerumunan massa. Dia mengarahkan penonton konser dengan teriakan "om".

Setelahnya, Country Joe McDonald dari kelompok musik rock psikedelik, Country Joe & the Fish, memainkan lagu protes anti-perang "I-Feel-Like-I'm-Fixin'-to-Die Rag. Ketika Hendrix mencabik lagu "The Star-Spangled Banner" dengan aliran listrik yang abstrak, penonton kembali terbawa ke dunia nyata. Sebuah permulaan untuk menghanguskan mitos kolektif ke dalam catatan sejarah.

Danny Goldberg, seorang pewarta industri musik Billboard yang sudah meliput festival sejak 19 tahun, mengingat momen akhir pekan dengan banyak senyuman di wajah penonton.

"Saya hampir dilenyapkan rasa manis ini, gagasan sangat indah dari sesama hippie dan persaudaraan yang terbilang langka pada saat itu," tuturnya kepada AFP di Manhattan.

Pepatah menyatakan jika Anda tidak bisa mengingat Woodstock, berarti Anda tidak benar-benar ada di sana. Banyak cerita akhir pekan yang menyandera ingatan, terutama penonton yang kecanduan obat-obatan, bahkan para penyelenggara sendiri. Meski kabar angin tidak hilang, namun masih ada misteri kelahiran bayi di Woodstock. Belum ada bukti keturunan yang lahir di tempat, namun banyak kemungkinan yang mengandung di sana.

Laporan saat itu menyebut traktor pembersih secara tidak sengaja menabrak satu orang dalam kantong tidur. Adapun satu orang meninggal akibat kelebihan dosis obat terlarang.

"Impian tentang ganja dan musik rock yang menarik 300 ribu penggemar dan kaum hippie ke Catskills, memiliki sedikit kewarasan daripada dorongan yang mengantarkan barisan menuju kematian," bunyi editorial yang diterbitkan The New York Times.

"Mereka berakhir dengan mimpi buruk dan stagnasi. Budaya macam apa yang menghasilkan kekacauan yang begitu luar biasa?" tutup editorial tersebut.

Baca juga: Pemerintah Diminta Lindungi Pekerja Migran di Hong Kong

Di lain sisi, Annie Birch, yang mengikuti festival bersama sekelompok teman pada usia 20-an, mengingat sebuah perayaan yang damai dan membawa pesan kemanusiaan.

"Festival itu sangat legendaris. Walau hujan deras, kami seperti mengalami kebakaran hebat yang sulit padam. Semua pertunjukkan musik seperti mengajak berkumpul secara besar-besaran," kenangnya. (Bangkokpost/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More