Selasa 13 Agustus 2019, 17:45 WIB

Dua Garis Biru Ingatkan Pentingnya Pendidikan Seks

Suryani Wandari Putri | Weekend
Dua Garis Biru Ingatkan Pentingnya Pendidikan Seks

dok. CGV
Film Dua Garis Biru mengingatkan pentingnya edukasi seks sejak dini.

Film Dua Garis biru sempat menuai kontroversi. Namun film yang tayang 11 Juli lalu berhasil mematahkan pandangan negatif. Terbukti mereka yang menyaksikan film ini mendapatkan banyak pelajaran dari sebuah pendidikan seks yang masih dianggap tabu.

Film yang dibintangi Zara JKT48, Angga Yunanda, Cut Mini, Lulu Tobing, Dwi Sasono, dan Arswendy ini menyimpan pesan-pesan mendidik yang untuk para millenial yang pergaulannya semakin bebas. Istimewanya film ini disampaikan secara ringan tanpa menggurui, meski kisah yang diangkat cukup berat, mengenai kehamilan di luar nikah pada remaja.

"Misi film ini sejalan dengan Dance4Life, untuk mengedukasi anakmuda umur 0-24 tahun agar dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab terkait kesehatan seksualitas dan reproduksi mereka," kata Asmara Abigail, Brand Ambassador Dance4Life Indonesia dalam acara Diskusi Film Dua Garis Biru di FX Sudirman, Senin (12/8). Dance 4Life merupakan waralaba sosial dengan skala global yang berbasis di Amsterdam, Belanda untuk mengedukasi mengenai seks.

Menurut psikolog Nunik Widyantoro, film garapan sutradara Gina S Noer ini secara gamblang menjelaskan proses dan risiko yang akan dialami Dara (Zara, pemeran utama) saat hamil usia remaja. "Ya, karena tubuhnya belum siap, umur 17 hormon di tubuhnya masih dipakai untuk pertumbuhan tinggi, berat, dan lain-lain. Panggul dan alat reproduksinya akan kuat di umur lebih dari 20 tahun," ucap Nunik.

Penjelasan itu menurutnya harus disampaikan kepada anak-anak usia dini guna mengurangi fenomena hamil di luar nikah. Misalnya umur 2-3 tahun, ia diberikan pemahaman tentang bagaian tubuh termasuk alat vital  tanpa menggantinya dengan nama lain. Penjelasan lainnya tentang reproduksi, bagian-bagian dari alat vital atau reproduksi sekalipun.

Orangtua juga berperan penting di dalam pengenalan ini, bukan hanya guru di sekolah. Orangtua bisa menjelaskannya lewat gambar dan menyampaikannya dengan gamblang, tak ada yang ditutup-tutupi.

"Kegagalan pendidikan seks ini karena sejak dulu kita menganggapnya tabu, pengetahuan kita juga terbatas sehingga dikaitkan pada tabu dan  bahkan kerap dilekatkan dengan dosa," kata Nunik.

Kondisi ini juga dialami Zara ketika bercerita dengan teman-temannya. Ia menilai banyak temannya yang belum bercerita mengenai seks atau menstruasi sekalipun. Beruntungnya di lingkungan keluarga ia kerap berdiskusi dengan ibunya. "Aku menstruasi sejak kelas 5 SD. Waktu itu aku pun diskusi sama ibu mengenai mengapa kita bisa menstruasi," Zara.

Lebih jauh Zara mengungkapkan rasa bangganya bisa berperan di film ini. "Saat reading, jadi suka merenung sendiri kadang diskusi pula. Aku senang karena bisa belajar lebih lengkap dan mengetahui tentang seks lebih dulu dari teman-teman seumuranku," kata Zara. (M-3)

Baca juga : Empat Jawaban Tantangan Parenting Orang Tua Milenial

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More