Selasa 13 Agustus 2019, 10:34 WIB

17,5 Ha Tanaman Padi di Tiga Kabupaten di Bali Gagal Panen

Ruta Suryana | Nusantara
17,5 Ha Tanaman Padi di Tiga Kabupaten di Bali Gagal Panen

Antara
Petani tetap merawat tanaman padi kendati irigasi mulai mengering di sejumlah wilayah di Bali.

 

TANAMAN padi seluas 17,5 hektare yang tersebar di tiga kabupaten di Bali saat ini mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan. Luasan lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Kabupaten Buleleng sebesar 9,5 hektare, disusul Kabupaten Jembrana 7 hektare, dan Kabupaten Karangasem seluas 1 hektare.

"Tanaman padi yang sudah mengalami puso saat ini seluas 17,5 hektare," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali, Nyoman Suastika saat dihubungi Selasa (13/8).

Bila kemarau terus berkepanjangan hingga minimal dalam satu bulan  ke depan, menurut Suastika ancaman puso bisa bertambah lagi hingga 181 hektare yang tersebar di lima kabupaten. Yakni Buleleng 90 hektare, disusul Jembrana 80 hektare, Karangasem 6 hektare, Badung 3 hektare dan Tabanan 2,4 hektare.

"Saat ini luasan 181 hektare tanaman padi itu dalam kondisi kekeringan ringan, sedang hingga berat," jelas Suastika.  

Adapun upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padi dari ancaman puso terutama yang mengalami kekeringan ringan adalah dengan sistem bergilir dalam penggunaan air subak yang debitnya sudah menurun drastis.Dengan estimasi target produksi 6 ton/hektare, maka Bali bisa terancam kehilangan hingga 188 ton padi kering panen dari luas sawah baku yang mencapai 79 ribu hektare.

baca juga: Menggali Potensi Tanaman Obat Dari Pegunungan Meratus

"Tapi yang sudah pasti kehilangan sekitar 105 ton dari 17,5 hektar sawah yang saat ini kondisinya puso," ujarnya.

Tahun 2018, realisasi produksi padi kering panen di Bali mencapai 790 ribu ton dengan target produksi 5,6 ton/hektarenya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More