Selasa 13 Agustus 2019, 10:30 WIB

Menggali Potensi Tanaman Obat Dari Pegunungan Meratus

Denny Susanto | Nusantara
Menggali Potensi Tanaman Obat Dari Pegunungan Meratus

Antara
Ilustrasi

 

PEGUNUNGAN Meratus di Kalimantan Selatan tidak hanya menyimpan kekayaan berupa hasil hutan alam maupun sumber daya mineral dan batubara, tetapi juga hasil hutan bukan kayu termasuk beragam tanaman berkhasiat. Beragam jenis tanaman hutan Meratus telah dimanfaatkan masyarakat lokal secara turun-temurun sebagai obat-obatan tradisional mulai dari akar, batang pohon, daun dan buah. Beberapa obat-obatan tradisional ini bahkan sudah terkenal hingga mancanegara. Di antaranya Pasak Bumi, Tapak Barito serta Kayu Manis.

Pegunungan Meratus berada di tenggara Kalimantan, membentang di bagian utara-selatan sepanjang 600 kilometer persegi hingga perbatasan Kalteng dan Kaltim. Pegunungan Meratus mempunyai luasan 9.113,48 km2 dan menjadi bagian delapan kabupaten di Kalsel.

Kawasan hutan Pegunungan Meratus memiliki keanekaragaman hayati yang bisa dikembangkan bagi kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah beragam jenis tanaman obat (herbal). Herbal adalah tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih dalam pengobatan.

Dr Sutomo, Peneliti pada Prodi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, mengatakan pihaknya telah melakukan penelitian terhadap lima jenis tanaman liar yang banyak terdapat di kawasan hutan Pegunungan Meratus. Dan hasilnya adalah tanaman tersebut dapat dikembangkan sebagai bahan baku farmakopi herbal.

"Ada banyak jenis tanaman di hutan Meratus yang mempunyai khasiat sebagai obat. Beberapa tanaman mulai langka sehingga perlu upaya pelestarian dan Kebun Raya Banua punya peran penting," ujarnya.

Lima jenis tanaman obat dari hutan tropis Meratus yang diteliti selama hampir satu tahun ini antara lain Matoa, Jualing, Bilaran Tapah, Racun Ayam dan Mundar.

"Tanaman ini mempunyai senyawa antioksidan untuk pengobatan penyakit kanker, jantung dan sebagainya," ungkap Sutomo yang berharap agar koleksi tanaman obat di Kebun Raya Banua dapat terus ditambah.

Bilaran Tapah (merrenia peltata) misalnya daunnya berbau khas dan pahit. Berkhasiat sebagai obat anti kanker payudara dengan cara meminum ait rebusan daunnya. Bilaran Tapah juga bisa untuk pengobatan luka dan bengkak dengan cara menempelkan daun yang sudah dihaluskan. Kemudian Jualing (micromelum minulum) adalah tanaman perdu
setinggi 3-15 meter dengan ciri kulit batang licin dan berwarna gelap, daun jualing beraroma menyengat dan khas. Juga ada Mundar (garcia forbesii king) jenis buah-buahan lokal berkhasiat karena kaya antioksidan yang bisa digunakan sebagai obat kanker, diabetes, hipertensi, jantung, stroke, alzheimer dan antibakteri.

Menurut Sutomo ada banyak jenis tanaman hutan Meratus lain yang selama ini banyak digunakan masyarakat lokal khususnya suku Dayak sebagai obat. Sebelumnya ada beberapa jenis tanaman yang sudah banyak digunakan sebagai tanaman obat oleh masyarakat secara tradisional seperti Sintuk, Kasturi, Tapak Barito, Kayu Manis dan Pasak Bumi.

Pusat Penelitian Herbal

Pemerintah Provinsi Kalsel berencana membangun Pusat Penelitian Tanaman Obat (Herbal) endemik Kalimantan di kawasan Kebun Raya Banua yang ada di Kota Banjarbaru.  

"Kita telah bekerjasama dengan Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat dan berhasil meneliti beragam tanaman endemik Kalimantan mempunyai khasiat sebagai obat. Ke depan kita akan membangun Pusat Penelitian Tanaman Obat," tutur Kepala UPT Kebun Raya Banua Kalsel, Agung Sriyono.

baca juga: Iuran BPJS Kesehatan Naik Bisa Membenani Rakyat

Kebun Raya Banua sendiri sudah beberapa kali menerjunkan tim ekspedisi untuk mengumpulkan tanaman langka untuk memperkaya koleksi termasuk tanaman obat-obatan dari berbagai wilayah kabupaten. Saat ini Kebun Raya Banua Kalsel telah memiliki 720 jenis atau 6.152 spesies tanaman yang ditanam pada lahan seluas 100 hektar.

Kebun Raya Banua merupakan kebun raya dengan spesipikasi tanaman obat dan konservasi tanaman langka khas Kalimantan. Kebun Raya Banua saat ini juga sudah menjadi salah satu lokasi tujuan pariwisata di Kalsel. Tercatat jumlah pengunjung ke Kebun Raya Banua pada 2018 sebanyak 17.188 dan meningkat menjadi 31.085 orang. (OL-3

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More