Selasa 13 Agustus 2019, 10:10 WIB

Inovasi Guru Terbaik Jadi Materi Pelatihan

Dhika Kusuma Winata | Humaniora
Inovasi Guru Terbaik Jadi Materi Pelatihan

ANTARA/Lucky R
Guru (tengah) berinteraksi pada kegiatan belajar mengajar

 

PEMBANGUNAN sumber daya manusia (SDM) yang unggul tidak terlepas dari peran para guru. Karena itu, guru-guru dituntut untuk bisa berinovasi dan kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran guna mengembangkan potensi siswa.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Supriano di sela jumpa pers Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019, di Jakarta, Senin (12/8).

Supriano menyampaikan inovasi menjadi kunci dalam pembelajaran kepada peserta didik. "Pada akhirnya output-nya akan berpengaruh pada peserta didik. Mereka harus bisa menghadapi tantangan kemampuan abad ke-21 dan bisa menjadi SDM yang unggul," ungkap Supriano.

Itu sebabnya, kata Supriano, dari hasil inovasi pembelajaran dari guru berprestasi pada Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019, bakal dijadikan contoh-contoh terbaik (best practise) untuk pelatihan peningkatan kompetensi guru.

"Hasilnya, dari inovasi mereka ini kami jadikan best practices, karena pengalaman tahun lalu banyak inovasi-inovasi yang mereka hasilkan dan banyak kreativitas yang mereka buat cukup baik," kata Supriano.

Dia mengatakan hasil inovasi itu akan didiseminasikan melalui program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP). Nantinya tahun ini akan ada perubahan dalam sistem pelatihan dari yang dulunya berada pada tingkat pusat menjadi berbasis zona.

Sistem pelatihan tersebut, terang dia, menggunakan sistem 5 in 3 on. Sistem tersebut, kata mantan direktur pembinaan SMK Kemendikbud ini, bakal digalakkan lantaran selama ini tidak ada pengawasan atas tindak lanjut hasil pelatihan.

"Ini yang sekarang kami galakkan, jadi selama ini pada tingkat pusat, mereka begitu selesai siapa yang menjamin mereka kembali ke sekolah benar-benar dilaksanakan, siapa juga yang menjamin KI KD (Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar) itu berjalan," jelasnya.

Supriano menjelaskan, dengan sistem 5 in dan 3 on. In pertama adalah refleksi. Terdapat dua sumber refleksi. Pertama internal akan melihat masalah internal. "Ini yang namanya pelatihan dengan sistem supervisi klinis, jadi pelatihan ini ketika mereka in pertama kumpul, melihat masalah apa yang sekolah alami di zona," ucapnya.

Sumber kedua melihat hasil Ujian Nasional (UN). Semua mata pelajaran yang diujikan, akan ditelaah dan diskusikan dengan lebih tepat sasaran sehingga bisa melihat kekurangannya.

Setelah in 1 selesai, lanjut Supriano, masuk ke In 2, yakni membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), kemudian masuk On 1 melakukan pengajaran di kelas, evaluasi dan diskusi. Pada In 3, akan dilakukan perbaikan dari hasil On 1.

Masuk lagi On 2, ada masalah didiskusikan pada In 4, begitu pada In 4 diperbaiki lagi pembelajarannya dan diskusi bersama masuk on 3. On 3 selesai, maka masuk In 5. Nantinya di In 5 akan ditulis sebagai best practice-nya. "Ini model pelatihan yang kami lakukan sekarang, pertama 5 in 3 on, berkelanjutan totalnya 24 jam," ucap Supriano.

Dia mengungkapkan hasil inovasi guru dan tenaga kerja kependidikan berprestasi akan menjadi best practices untuk didiseminasikan di zona-zona dengan sistem berbasis musyawarah guru mata pelajaran (MGMP).

"Ini perubahan, kami mendorong kepada guru tenaga kependidikan untuk melakukan inovasi agar bisa disebarkan melalui pelatihan berikutnya," ujarnya.

 

Jadi katalisator

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir

Effendy juga mengimbau para guru inti untuk turut serta bekerja keras membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Karena itu, definisi keberhasilan guru haruslah diubah, yaitu dapat mendidik dan mengantarkan semua siswa berprestasi, tanpa diskriminasi. Muhadjir juga berharap para guru bisa lebih meningkatkan kontribusi mereka untuk mendukung pembangunan SDM Indonesia guna menyongsong bonus demografi.

Sekretaris Ditjen GTK Kemendikbud Wisnu Aji menambahkan guru merupakan kunci kualitas pendidikan. Di tangan para guru yang mumpuni, siswa-siswi bisa mengembangkan diri secara optimal.

Karena itu, guru harus menjadi fasilitator agar siswa dapat berpikir kreatif, dan kritis. Guru juga harus mumpuni menjadi katalisator dalam memacu anak didik sukses di bidang sesuai minat dan kemampuannya.

Pada saat yang sama tantangan baru yang dihadapi para guru ialah perkembangan zaman. Guru juga perlu mengembangkan kompetensi sesuai dengan perkembangan terkini. Selain keahlian inti sebagai pendidik, perubahan zaman saat ini mau tidak mau mengharuskan guru menyiapkan peserta didik untuk memiliki kemampuan abad ke-21. Di antaranya ialah keterampilan berpikir kritis, kreatif, inovatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi.

"Anak-anak era sekarang sudah berbicara soal big data dan kecerdasan buatan. Guru yang profesional sepatutnya membangun sikap diri untuk terus mau mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan mengikuti laju perubahan zaman," tutup Wisnu Aji. (Dhk/S5-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More