Selasa 13 Agustus 2019, 05:25 WIB

Painem, The Legend of Tempe Daun Jati dari Blora, Jawa Tengah

Akhmad Sapuan/N-3 | Nusantara
Painem, The Legend of Tempe Daun Jati dari Blora, Jawa Tengah

MI/Akhmad Safuan
Painem atau Mbah Waki, 70, (tengah), berfoto bersama dengan Wakil Bupati Blora Arief Rohman (kanan).

 

USIANYA tidak lagi muda. Meski sudah menginjak 70 tahun lebih, ia masih lincah bergerak. Daya ingatnya pun cukup kuat.

Painem, 70, tinggal sendiri di sebuah rumah papan berlantai plesteran di pinggir hutan jati Dukuh Banaran, Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Warga sekitar menyapa Painem dengan Mbah Waki, sesuai nama mendiang suaminya.  Saat ditemui di rumahnya yang sederhana, dia tengah duduk di atas tikar pandan. Tangannya lincah membungkus kacang kedelai dengan lembaran daun jati yang dipetik dari hutan sekitar rumahnya.

Senyumnya tersungging tatkala setiap orang menyapa saat melintas di depan rumahnya. Di tengah era modern dan serbainstan saat ini, Mbah Waki tetap dengan kesederhanaannya.

Dia  tetap aktif membuat tempe tanpa bahan kimia atau menggunakan pembungkus dari plastik. Sebagai wadah pembungkus, dia menggunakan daun jati. Tempe buatan Mbah Waki diproduksi secara tradisional dan sudah bertahan selama 50 tahun.

Di Blora, tempe berbungkus daun jati cukup tersohor. Panganan ini sangat disukai karena rasanya tidak kalah enak ketimbang tempe yang dijual di pasar.

Di sana, sebagian tempe berbalut daun jati tersebut dibuat tangan-tangan lanjut usia, seperti Painem. Namun, sayangnya, perajin tempe daun jati di Blora kini tinggal beberapa yang bertahan.

Rata-rata usia mereka sudah lanjut dan tidak ada regenerasi. Akibatnya, tempe khas yang dibuat secara alami ini jumlahnya tidak banyak lagi di pasaran.

“Dulu banyak perajin tempe daun jati, tapi sekarang hanya tersisa beberapa orang,” kata Painem.
Perempuan yang mendapat julukan The Legend of Tempe Godong Jati itu kemudian mengungkapkan cara membuat tempe daun jati yang tersohor.

Pertama, sebelum dipakai membungkus, daun jati berukuran sedang terlebih dahulu dilubangi kecil agar jamurnya keluar.

Jamur yang keluar dan menempel pada daun jati akan menjadi ragi organik. Setelah ragi keluar, kata Painem, kemudian dijemur hingga kering dan ditumbuk serta dicampur dengan kedelai. Baru kemudian dibungkus dengan daun jati lagi dan ditiriskan selama 10 jam.

Kini, tempe berbungkus daun jati sudah siap dipasarkan.

Bagi Painem, membuat tempe daun jati merupakan mata pencarian pokok.

“Setiap hari hanya 8 kilogram kedelai. Dibungkus  menjadi 45 bendel berisi 10 bungkus tempe daun jati per bendel,” pungkasnya. (Akhmad Sapuan/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More