Senin 12 Agustus 2019, 18:50 WIB

Tercemar dan Kemarau, Produksi Air Bersih Menurun

Gana Buana | Megapolitan
Tercemar dan Kemarau, Produksi Air Bersih Menurun

ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Pekerja mengoperasikan kolam pengolahan air bersih instalasi Water Treatment Plant (WTP) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patriot

 

MUSIM kemarau yang berkepanjangan diduga menyebabkan turunnya produksi air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patriot.

Kasubag Humas PDAM Tirta Patriot, Uci Indrawijaya mengatakan, biasanya produksi air bersih mencapai 500 liter perdetik namun saat ini relatif menurun. Padahal produksi air tersebut untuk disalurkan pada 31.000 pelanggan.

“Normalnya, produksi air baku 490-500 liter per detik, menurun menjadi 420 liter per detik," ungkap Uci, Senin (12/8).

Uci menjelaskan, penurunan produksi air bersih disebabkan karena menurunnya kualitas air baku di Kali Bekasi. Selain karena debit Kali Bekasi yang menurun drastis juga karena pencemaran limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Baca juga: BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau pada Agustus

“Penurunan air baku mulai terjadi pada pertengahan Juli ini, dampak dari musim kemarau dan pencemaran limbah berat,” katanya.

Uci mengatakan, produksi air bersih berkaitan langsung dengan kualitas air di Kali Bekasi yang hulunya berada di Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi. Sehingga, dampak pembuangan limbah berbahaya di Sungai Cileungsi, memengaruhi kualitas air baku Kali Bekasi. Bahkan di aliran kalinya kerap muncul buih di sekitar Bendung Kali Bekasi karena limbah.

“Busa di Kali Bekasi terjadi akibat turbulensi air kali yang jatuh. Busa sudah diselidiki dari pabrik pembuat keramik di Cileungsi,” katanya dia.

Menurut Uci, pihaknya telah melakukan berbagai siasat agar pelayanan terhadap pelanggan air bersih tetap berjalan. Ia pun memastikan, agar air tetap mengalir ke rumah pelanggan walaupun dengan debit sedikit berkurang. PDAM juga berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II untuk melakukan buka-tutup Bendung Nowo dan Bendung Palanta.

Saat dimintai tanggapannya, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengak, akan meminta pendampingan dari Gubernur Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan penegakan hukum terhadap pencemar Sungai Cileungsi-Kali Bekasi. Pasalnya, kali tersebut  juga melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi.

“Harus ada pendampingan Pak Gubernur dan Kementerian LH agar ada law enforcement terhadap perusahaan nakal itu.”

Pemerintah Kota Bekasi, kata dia, tidak bisa menindak perusahaan yang berada di daerah Kabupaten Bogor. Padahal sungai tersebut mengalir melintasi tiga wilayah.

“Kalau ada di wilayah Kota Bekasi, sudah kita tutup, disegel, malah sudah pindah. Ini bukti konkret konsistennya Kota Bekasi,” tandas dia. (Gan/A-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More