Senin 12 Agustus 2019, 14:17 WIB

Kebakaran Hutan di Cikole Diduga Puntung Rokok

Depi Kurniawan | Nusantara
Kebakaran Hutan di Cikole Diduga Puntung Rokok

MI/Dwi Apriani
Ilustrasi

 

KEBAKARAN hutan terjadi di lahan Perum Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara. Menurut dugaan, kebakaran yang terjadi pada Minggu (11/8) disebabkan faktor kelalaian manusia. Administratur Perhutani KPH Bandung Utara, Komarudin mengakui area lahan yang terbakar kurang dari 1 hektare. Pihaknya dibantu masyarakat langsung bergerak memadamkan api sehingga tidak sampai menjalar lebih luas.

"Kejadiannya Minggu (11/8) di sekitar Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kurang dari 1 hektare, hanya sekitar 0,2 hektare, kalau enggak salah. Nanti saya lihat lagi datanya," ungkap Komarudin, Senin (12/8).

Menurut dia, api menjalar ke alang-alang yang berada di sekitar pohon pinus. Pihaknya pun mengaku kesulitan untuk mengidentifikasi sumber api.

"Bisa jadi karena ada yang membuang puntung rokok. Kalau dari faktor alam, sangat kecil kemungkinannya. Soalnya, faktor alam itu biasanya dari petir kalau yang sampai menimbulkan api," bebernya.

Komarudin menyatakan, sejak memasuki musim kemarau atau sekitar tiga bulan lalu pihaknya telah menyatakan bencana kebakaran.

"Artinya, kami sudah coba antisipasi kalau terjadi kebakaran lahan dan hutan," ujarnya.

Persiapan yang dilakukan, terang dia, di antaranya ialah melengkapi para petugas lapangan dengan peralatan pemadam kebakaran yang bersifat manual. Perhutani juga melakukan sosialisasi kepada lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) maupun pengunjung wisata, terutama para pendaki gunung.

"Diupayakan agar tidak membuat api di hutan. Kalaupun mereka membuat api di hutan, harus dipastikan padam sebelum meninggalkan tempat. Kemudian kami juga bekerja sama dengan LMDH dan masyarakat peduli api di desa-desa, dan menyiagakan petugas di lapangan," katanya.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan peta kerawanan untuk mengantisipasi kebakaran hutan. Komarudin menerangkan, bahwa parameter yang dijadikan dasar peta kerawanan di antaranya ialah petak-petak yang biasa terdapat interaksi manusia. Misalnya, kawasan hutan yang berbatasan dengan kebun masyarakat.

baca juga: Kapolda Minta Masyarakat Berperan Dalam Penanganan Karhutla

"Kemudian di jalur pendakian, dan di daerah-daerah yang memang sering terjadi kebakaran pada tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Dia menambahkan, Perhutani juga memanfaatkan teknologi untuk mengidentifikasi titik api atau titik panas.

"Rekan-rekan juga punya peta kawasan hutan yang bisa di-overlay, sehingga langsung diidentifikasi apakah lokasinya ada di dalam atau di luar hutan," jelasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More