Sabtu 10 Agustus 2019, 09:30 WIB

Parameter Ekonomi Nasional Terjaga

Atalya Puspa | Ekonomi
Parameter Ekonomi Nasional Terjaga

MI/PANCA SYURKANI
Seorang wanita melintas di dekat logo Bank Indonesia di Gedung C Bank Indonesia (BI), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (13/9).

 

BANK Indonesia mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejak awal 2019 hingga 8 Agustus mencapai Rp179,6 triliun. Itu menunjukkan parameter ekonomi domestik cukup terjaga di tengah peningkatan ketidakpastian global karena eskalasi perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan aliran modal asing tersebut terdiri atas Rp113,7 triliun yang diserap pemerintah melalui surat berharga negara dan Rp65,9 triliun yang masuk ke pasar saham.

"Itu memperlihatkan keperca-yaan investor pada ekonomi Indonesia baik prospeknya, stabilitasnya, maupun kebijakan-kebijakan yang ditempuh BI, pemerintah, dan OJK masih cukup baik," kata Perry di Jakarta, kemarin.

Peningkatan ketidakpastian risiko global karena eskalasi perang dagang, ujar Perry, memang sempat menekan pasar keuangan domestik. Di pasar saham sempat terjadi arus modal keluar karena investor berpindah untuk memburu aset keuangan di negara yang paling minim risiko.

Hal itu terjadi ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor sebesar 10% untuk komoditas impor asal Tiong-kok sebesar US$300 miliar, yang kemudian dibalas Tiongkok dengan penghentian perusahaan negeri itu membeli produk-produk pertanian dari AS serta dugaan memanipulasi kurs mata uang yuan.

"Itu biasa terjadi karena investor ada yang keluar masuk, tetapi investor menengah panjang tetap memberikan modal asing masuk ke Indonesia," lanjut dia.

Selain itu, tekanan ketidakpastian global juga menyebabkan premi risiko yang diukur dengan credit default (CDS) untuk tenor lima tahun di Indonesia sebesar 90,8 basis poin, atau sedikit meningkat dari awal Agustus 2019.

"Memang sedikit meningkat 4 basis poin dari posisi sebelumnya di awal Agustus 2019. Secara keseluruhan CDS tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ekonomi yang sepadan (peer)," kata Perry.

Perry mengungkapkan pula perkembangan itu menunjukkan kepercayaan investor global kepada ekonomi Indonesia tetap baik serta nilai tukar bergerak relatif stabil. "Kami pastikan BI selalu ada di pasar untuk stabilkan nilai tukar saat ada faktor teknikal jangka pendek," kata Perry.

Dia memastikan BI melakukan intervensi tidak hanya pada pasar spot, tetapi juga melalui pasar valas berjangka domestik (domestic non-deliverable forward/DNDF), serta pasar obligasi dari pasar sekunder. "Secara keseluruhan pasar valas bergerak stabil dan mekanisme pasar bergerak bagus," ujar dia.

Ditutup hijau

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ditutup 'menghijau' dalam tiga hari berturut-turut. IHSG ditutup menguat 7,46 poin atau 0,12% ke posisi 6.282,13. Adapun kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 0,67 poin atau 0,07% menjadi 991,03.

Analis Indopremier Sekuritas Mino menilai penguatan IHSG tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal, yakni terkait dengan meredanya sentimen perang dagang AS-Tiongkok.

"Direncanakan pada September mendatang akan diagendakan pertemuan bilateral AS-Tiongkok di Washington dalam rangka renegosiasi dagang," kata Mino.

Setelah dibuka menguat, IHSG nyaman berada di zona hijau sepanjang hari hingga penutupan bursa saham.

Penutupan IHSG sendiri di-iringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli asing bersih atau net foreign buy sebesar Rp63,84 miliar. (Ant/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More