Sabtu 10 Agustus 2019, 07:25 WIB

Jokowi Tetap Perlu Oposisi

Putra Ananda | Politik dan Hukum
Jokowi Tetap Perlu Oposisi

ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Yusuf Kalla, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto

 

MERAPATNYA kubu Partai Gerindra ke koalisi pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin disambut berbagai reaksi, baik dari partai-partai peng-usung Jokowi-Amin dalam Pilpres 2019 maupun pihak lain di luar koalisi.

Meskipun Presiden Jokowi mengisyaratkan bahwa bergabungnya Partai Gerindra dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Amin 2019-2024 masih tergantung pada persetujuan partai-partai Koalisi Indonesia Kerja (KIK), sejumlah respons mulai dikemukakan, di antaranya terkait dengan kehadiran Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Kongres V PDI Perjuangan di Denpasar, Bali, Kamis (8/8).

Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate, misalnya, menyatakan Presiden Jokowi tidak pernah mengajak Gerindra bergabung dalam KIK ataupun mendapatkan portofolio kursi menteri di kabinet ke depan. Ajakan Jokowi kepada Gerindra, menurut Johnny, sejatinya merupakan ajakan untuk sama-sama membangun negara pasca-Pilpres 2019.

"Jokowi tidak pernah itu mengajak langsung mereka (oposisi) ke dalam kabinet. Maksud Jokowi ialah mari bersatu membangun negara. Jangan dianggap bagi-bagi kursi di kabinet," tegas Johnny, kemarin.

Menurut Johnny, sistem demokrasi Indonesia tetap membutuhkan oposisi sebagai penyeimbang pemerintahan. Tanpa oposisi, pemerintahan Jokowi ke depan tak akan berjalan seimbang. Partai-partai di luar KIK tetap bisa bersama-sama membangun negara dengan mengambil bagian menjadi oposisi pemerintahan Jokowi-Amin.

Karena itu, Johnny meminta tak ada lagi pihak yang bermanuver dengan membuat narasi jika oposisi tidak masuk kabinet, akan terus terjadi perpecahan seperti saat pilpres. "Itu pikiran pragmatis yang merugikan kemajuan bangsa."

Survei

Politikus PDI Perjuangan Kapitra Ampera menyatakan pihaknya terbuka atas peluang oposisi termasuk Gerindra merapat ke kubu Jokowi-Amin. Hal itu didasarkan chemistry yang muncul pada Kongres PDIP.

"Saya pikir peluangnya terbuka. Apalagi Ibu Megawati sudah memberikan sinyal (saat kongres)," kata Kapitra, kemarin.

Dalam kaitan yang sama, hasil survei Cyrus Network baru-baru ini menyebut sebagian besar masyarakat menilai positif atas keha-diran Gerindra dalam pemerintahan Jokowi.

"Sebanyak 46,2% menjawab perlu dan sangat perlu Prabowo ada di pemerintahan Jokowi. Kemudian 24,1% menyatakan tidak perlu dan sangat tidak perlu Prabowo ikut andil. Selebihnya 17,1% menganggap biasa saja dan sisanya tidak menjawab dan tidak tahu," papar Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Afianto, kemarin.

Saat menanggapi hasil survei itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo menghargai aspirasi masyarakat terkait kemungkinan keikutsertaan Gerindra dalam pemerintahan Jokowi-Amin.

Menurut Bambang, aspirasi publik atas rekonsiliasi dan akomodasinya sepenuhnya tergantung sepenuhnya kepada Presiden Jokowi.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria menuturkan Gerindra telah menyiapkan tiga opsi dalam menyikapi pemerintahan 2019-2024. Ketiga opsi itu ialah bergabung ke pemerintahan Jokowi-Amin, berkoalisi di parlemen, atau menjadi oposisi dengan melakukan pengawasan. (Ins/*/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More