Sabtu 10 Agustus 2019, 05:40 WIB

Peranan Sosial Kebudayaan Kebun Raya

Osmar Tanjung Sekjen Pusat Kajian dan Pengembangan Berdikari | Opini
Peranan Sosial Kebudayaan Kebun Raya

Dok Pribadi
Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan Berdikari (PKPBerdikari)

KEBUN raya pada dasarnya dikembangkan sebagai sebuah konsep yang bermanfaat bagi negara sebagai tempat untuk riset ilmiah dan konservasi yang menyimpan koleksi tanaman hidup secara jangka panjang, termasuk spesies tanaman dan 'bank benih'.

Sebagai sebuah institusi, kebun raya dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati alam (mengingat semakin banyak orang tinggal di daerah yang mengalami urbanisasi) serta menyediakan sebuah tempat yang menimbulkan kesejahteraan fisik dan psikologis.

Selain hal di atas, kebun raya berpotensi untuk dikembangkan lebih jauh agar memiliki peranan sosial kebudayaan. Dari isu-isu ketahanan pangan, ketahanan menjaga integrasi perkotaan, ekonomi hijau, keberlanjutan dan penanganan perubahan iklim, kebun raya dapat dikembangkan lebih jauh dengan memasukan isu-isu kesehatan dan pengobatan, kesejahteraan komunitas, inklusi sosial, pembelajaran sepanjang hayat, dan rasa kebinekaan.

Kebun raya dapat juga dijadikan sebuah museum terhadap kekayaan keragaman warisan alam dan budaya rakyat Indonesia.

Selain menawarkan program yang melibatkan masyarakat secara langsung, kebun raya juga bisa memfasilitasi jaringan-jaringan komunitas, seperti kelompok pertanian perkotaan, perusahaan teknologi hijau, seniman lingkungan, masyarakat kebun, kelompok rehabilitasi kejuruan, praktisi seni, budaya, dan lainnya untuk bertemu, mendiskusikan dan bekerja sama dalam menjaga kualitas hidup manusia, serta pertukaran pengetahuan antarkomunitas dan kelompok masyarakat lainnya.

Pelestarian lingkungan hidup dan budaya

Kebun raya--ataupun kebun tanaman dan budaya rakyat--sebagai kurator keragaman hayati maupun budaya semakin dibutuhkan karena semakin tingginya ancaman terhadap keanekaragaman hayati (plasma nutfah), semakin meningkatnya ancaman terhadap keanekaragaman budaya. Begitu juga dalam penggalian dan pengembangan kearifan lokal (local wisdom), kebun raya dapat dikelola untuk itu dan atas kepentingan pelestarian lingkungan hidup.

Pengakuan adanya ancaman terhadap beberapa aspek kebudayaan yang terkait erat degan ancaman terhadap keragaman hayati sudah dinyatakan secara eksplisit dalam beberapa konvensi dan kesepakatan di tingkat global. Misalnya, Pasal 8 (j) dari Konvensi Internasional tentang Keanekaragaman Hayati (1992) mendorong setiap negara untuk 'menghormati, melestarikan dan memelihara pengetahuan, inovasi dan praktik masyarakat adat dan masyarakat lokal'.

Dengan demikian, kebun raya dapat secara aktif terlibat dalam sosialisasi dampak perubahan lingkungan yang lebih luas terhadap keanekaragaman budaya dengan memasukkan pelestarian keanekaragaman budaya dalam misi dan visinya.

Mesikpun hal ini menjadi sebuah tantangan bagi kebun raya yang sudah exist, ini merupakan kesempatan dan tantangan yang baik bagi sebuah kebun raya berdasarkan kebutuhan kekinian di abad ke-21.

Bagi kebun raya baru yang sedang merancang strategi, misi dan visinya, menggabungkan keanekaragaman hayati dengan keragaman budaya akan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan sebuah kebun raya yang sudah exist. Malahan, dengan menggabungkan dua sisi penting ini, kebun raya tersebut dapat segera meningkatkan profilnya pada panggung konservasi global.

Kebun raya yang akan dikembangkan bisa memasukan local wisdom seperti 'etnobotani' di masyarakat Melayu Deli, memberi tempat dan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengembangkan tanaman khas yang sudah menjadi bagian budaya dan kehidupan masyarakat tersebut.

Kebun raya di mana-mana sudah mulai menunjukkan peranan sosialnya yang memiliki relevansi dan tanggung jawab lebih tinggi terhadap kebutuhan masyarakat.

Kebun raya dalam kepahaman yang lebih luas ini juga berpotensi untuk memberikan kontribusi yang bermakna terhadap pemerintahan, baik di tingkat nasional maupun daerah, termasuk inklusi sosial, merekatkan masyarakat (community cohesion) dan agenda pembelajaran sepanjang hayat. Ini telah dicapai di Inggris dengan pendanaan strategis dan justru dengan dorongan dari pemerintah daerah (pemda) yang mengeluarkan beberapa kebijakan yang bersifat inovatif dan sebagai perintis.

Selain itu, kebun raya dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Manfaat bagi kebudayaan dari adanya kebun raya sama juga dengan manfaatnya sebuah museum yang sering memiliki koleksi-koleksi dengan nilai budaya yang signifikan, termasuk tanaman asli atau endemik, artefak, dan karya seni yang semuanya bermanfaat bagi kebudayaan. Terkadang kebun raya dibuat di sekitar atau ditempatkan di gedung-gedung atau lokasi yang bersejarah atau memiliki makna yang penting dari sisi kebudayaan. Contohnya, Lyon Arboretum di Hawaii berpartisipasi dalam sebuah program yang disebut Welina Manoa yang memperkenalkan guru dan murid SD dengan budaya dan lingkungan hidup Hawaii.

Arboretum tersebut juga menyediakan sebuah 'jejak spesies lokal' yang memiliki arti penting bagi budaya Hawaii.

Kontribusi kebun raya bagi ekonomi lokal dan nasional dapat diukur dengan berbagai cara berikut ini.

1. Sebagai tempat wisata yang membawa wisatawan lokal dan yang datang dari luar daerah dengan pengeluaran yang menguntungkan masyarakat luas.

2. Sebagai penyedia lapangan kerja dan pembeli jasa dan barang.

3. Sebagai penggagas investasi modal yang mendukung aktivitas ekonomi lokal dalam skala cukup besar.

4. Sebagai organisasi yang meningkatkan nilai-nilai estetika dan rekreasi lingkungan, misalnya, dengan naiknya harga properti di sekitarnya dan kontribusi perpajakan.

Mempertimbangkan kembali visi dan misinya, kebun raya--ataupun kebun taman dan budaya rakyat--merupakan institusi penting yang meliputi estetika, kebudayaan, dan ilmiah yang berpotensi untuk berkontribusi besar bagi kesejahteraan masyarakat kita dan pertumbuhan ekonomi.

Pada abad ke-21, kebun raya akan memainkan peran penting dalam mengatasi masalah global, seperti perubahan iklim, keamanan pangan, konservasi keanekaragaman hayati, pendidikan lingkungan, keberlanjutan, kebudayaan, dan kesejahteraan manusia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More