Jumat 09 Agustus 2019, 19:27 WIB

Aktivis Demokrasi di Hong Kong Demo di Bandara

Tesa Oktiana Subakti | Internasional
Aktivis Demokrasi di Hong Kong Demo di Bandara

Anthony WALLACE / AFP
Demonstran membentangkan spanduk di Bandara Hong Kong, Jumat (9/8). Mereka menentang RUU ekstradisi.

 

RATUSAN aktivis prodemokrasi, sebagian mengenakan topeng dan helm, menggelar aksi duduk di bandara Hong Kong, pada Jum'at (9/8) ini. Mereka berupaya menarik dukungan dari turis asing terhadap gerakan protes.

"Tidak ada perusuh, yang ada hanya tirani," seru pengunjuk rasa ketika memulai aksi protes selama tiga hari. Ini merupakan langkah terbaru dalam serangkaian protes yang mengguncang pusat finansial global, selama lebih dari dua bulan.

Sejumlah aktivis berpakaian hitam, sebagai tanda gerakan protes. Mereka duduk di lantai area kedatangan bandara. Para demonstran kompak mengangkat spanduk maupun selebaran dalam bahasa Tiongkok dan Inggris, yang mengecam tindak kekerasan petugas kepolisian.

"Selamatkan Hong Kong dari tirani dan keburalan polisi!," bunyi salah satu selebaran. Hampir 1.000 orang berpartisipasi dalam gerakan protes.

"Kami ingin mengabarkan kepada banyak orang, tentang apa yang terjadi di Hong Kong," kata seorang aktivis dengan nama belakang Choi.

Protes yang digencarkan dua bulan lalu, merupakan respons terhadap rancangan undang-undang (RUU) kontroversial, yang membuka celah ekstradisi ke Tiongkok daratan. Penolakan itu meluas menjadi gerakan yang mendesak otoritas untuk mempertahankan kebebasan demokratis.

Para pengunjuk rasa juga menuntut pemilihan langsung pemimpin kota, serta investigasi dugaan tindak kekerasan polisi terhadap demonstran.

Sebelumnya pemerintah Hong Kong menangguhkan RUU ekstradisi, namun tidak membatalkannya secara utuh. Alhasil, gerakan protes semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Otoritas berwenang telah menahan ratusan orang.

"Kami ingin pemerintah mencabut RUU dan membentuk komisi penyelidikan independen. Keberadaan kami di sini untuk mendukung para demonstran yang ditangkap," pungkas Choi.

Promosi daring terhadap gerakan protes di bandara selama tiga hari, digambarkan dengan kartu pas bertuliskan "HK to freedom" dan "warm pick-up to guests to HK". Para penumpang yang tiba di bandara tampak kebingungan. Sebagian berhenti untuk mengambil foto atau melihat selebaran yang dibagikan demonstran.

"Saya pikir gerakan ini sangat penting. Demokrasi adalah sesuatu yang mutlak, dan harus diperjuangkan. Saya melihat perjuangan warga Hong Kong luar biasa," tutur Clara Boudehen, turis dari Prancis.

Meski aksi duduk belum mendapat izin, pengunjuk rasa berupaya menjalankan protes dengan damai, tanpa menganggu jadwal penerbangan. Keamanan ekstra tetap diberlakukan sebagai langkah antisipasi. Otoritas berwenang mencegah siapapun tanpa "boarding pass", yang ingin memasuki area konfirmasi "check in".(AFP/Tes)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More