Jumat 09 Agustus 2019, 07:58 WIB

Jokowi tidak Jamin Gerindra Bergabung

Arnoldus Dhae | Politik dan Hukum
Jokowi tidak Jamin Gerindra Bergabung

ANTARA/Nyoman Budhiana
Presiden Joko Widodo bersama Wapres Jusuf Kalla, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Wapres terpilih Ma’ruf Amin

 

KEHADIRAN Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Kongres V PDI Perjuang-an belum dapat diartikan sebagai kepastian bergabungnya partai itu dalam koalisi pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.  Presiden Joko Widodo ­menegaskan hal itu seusai menghadiri Kongres V PDIP di Denpasar, Bali, kemarin (Kamis, 8/8/2019).

“Belum. Kita ini belum ketemu dengan ketua-ketua partai koalisi, kita belum ketemu. Kalau ketemu, kita akan berbicara nanti mengenai tambahan koalisi, misalnya yang berkaitan dengan menteri,” ujar Presiden Jokowi.

Jokowi mengatakan, dalam ­dunia politik apa pun bisa terjadi, ­termasuk soal terbentuknya ­koalisi antara pemerintahannya dan Prabowo Subianto. Namun, Jokowi menekankan segalanya masih perlu dibicarakan dengan partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja.     

Sinyal atas bergabungnya ­Gerindra ke dalam koalisi Jokowi-Amin menguat seiring langkah Ketua Umum PDIP Megawati ­Soekarnoputri meng-undang secara khusus Prabowo ke Kongres V PDIP.

Prabowo pun hadir dalam acara pembukaan Kongres PDIP dan menjadi tamu spesial yang disambut hangat oleh seluruh kader PDIP. ­Tak hanya itu, Prabowo juga diberikan kursi yang berbeda dengan kursi para ketua umum partai koalisi.   

Prabowo bahkan duduk dalam jajaran tamu VVIP, secara berturut-turut sebaris dengan Wapres Jusuf Kalla, Presiden Jokowi, Megawati Soekarnoputri, dan Wapres terpilih Ma’ruf Amin.  Adapun jajaran ketua umum partai koalisi yang hadir diberikan tempat duduk di barisan lain, yakni di sisi bagian kiri.

Ideologi
Pada salah satu bagian pidato sambutan pembukaan Kongres V PDIP, Megawati dengan gaya berse-loroh mengimbau Prabowo supaya mendekati dirinya agar sukses dalam program politiknya ke depan.

Hal itu diungkapkan Megawati seusai memaparkan kisah sukses PDIP memenangi pilpres di Jawa Tengah dan menyumbang kemenangan bagi Jokowi.

“Makanya, kalau nanti, ya, enggak tahu, ya (maju capres lagi atau tidak), tolong deket-deketin saya, ya,” seloroh Megawati disambut tawa seluruh tamu kongres.

Prabowo pun ikut tertawa, lalu berdiri dan memberikan hormat kepada Megawati.

Baca juga: Soal Jatah Menteri, Jokowi: Jelas, PDIP Pasti Terbanyak

Dalam bagian lain pidatonya, Megawati menekankan kepada para kader PDIP agar meresapi pernyataan Bung Karno bahwa toleransi dan demokrasi ialah dua hal yang tidak terpisahkan dalam politik.

Ia mengungkapkan, pada 1954 atau satu tahun menjelang Pemilu 1955, Bung Karno mengamanatkan agar pemilu jangan dijadikan arena pertempuran politik. Bung Karno kala itu, menurut Mega, sudah melihat adanya gejala-gejala yang muncul terkait dengan potensi karamnya toleransi.

Oleh karena itu, Megawati yang dalam kongres itu kembali dikukuh-kan sebagai Ketua Umum PDIP periode 2019-2024 meminta kader partainya menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa dan perpecahan politik. 

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengapresiasi pidato Megawati itu. Surya sepakat soal potensi disintegrasi bangsa yang kian besar. “Ini warning, harus bisa dipahami semua komponen bangsa. Benar yang dikatakan Megawati bahwa potensi disintegrasi bangsa sudah di depan mata kalau ­dilakukan pembiaran.”

Oleh sebab itu, Surya mendorong agar keterikatan emosional sesama anak bangsa ditingkatkan dan kesadaran atas ideologi sebagai alat pemersatu kian diyakini. “Soal itu, saya sangat sepakat dengan Ibu Megawati.” (Faj/*/Ant/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More