Kamis 08 Agustus 2019, 20:49 WIB

BPPT Usul Hujan Buatan di Sumatra dan Kalimantan

Sri Utami | Nusantara
BPPT Usul Hujan Buatan di Sumatra dan Kalimantan

ANTARA FOTO/Ahmad Rizki Prabu
Areal lahan gambut yang terbakar di desa Rambutan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

 

KEPALA Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan modifikasi cuaca untuk penanggulangan karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih berpeluang besar terjadinya hujan. Hingga kini, BBTMC-BPPT masih tunggu komando dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).  

"Pantauan saat ini, di wilayah Sumatra dan Kalimantan masih terdapat pertumbuhan awan sehingga penerapan teknologi modifikasi cuaca berpeluang besar. Kami sudah menyerahkan data pada pihak BNPB untuk modifikasi cuaca di Sumatera dan Kalimantan. Namun, memang baru provinsi Riau yang dilaksanakan TMC,” ujarnya, Kamis (8/8).

Operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi  kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau telah dilaksanakan sejak 26 Februari hingga saat ini. Pada 30 Juli, jumlah titik api (hotspot) di wilayah Provinsi Riau terpantau nol. Sementara, jumlah tertinggi sekitar 20 titik panas selama akhir Juli 2019.

Meningkatan jumlah hotspot  juga dipengaruhi berkurangnya  curah hujan pada bulan Juni, Juli serta puncaknya Agustus hingga September. Data historis curah hujan kurun 2009-2018 pada Juli dan Agustus di wilayah Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat sangat rendah dan berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan.

“Curah hujan juga minim untuk September, namun membaik pada bulan Oktober. Pada bulan September di wilayah-wilayah tersebut masih rawan terjadi karhutla. Jadi untuk Riau kami usulkan diperpanjang hingga akhir September atau akhir musim kemarau sesuai prediksi BMKG ,” ujarnya.

Sementara  itu, Posko Riau untuk antisipasi Karhutla pada 26 Februari- 20 April 2019  telah dilaksanakan sebanyak 63 penerbangan dengan total jam terbang capai 114 jam dengan habiskan sekitar 50.000 kg bahan semai, menggunakan pesawat Cassa 212-200 milik TNI AU.  Hasil air mencapai 324,01 juta M3.

Sementara periode 22 Mei hingga 3 Agustus, operasi TMC dilaksanakan dua tahap, dengan menggunakan sistem flare dan bahan semai. Pada tahap pertama total jam terbang 36 jam menghabiskan 74 Gygroscopic flare dan 4 Agl BIP dengan menggunakan PK-TMC (BPPT). Sedangkan tahap kedua,  total jam terbang 25 jam dengan menghabiskan 12.400 kg bahan semai mengggunakan pesawat Cassa 212-200 PK-PCT. TMC mulai dimanfaatkan sebagai salah satu solusi di dalam upaya penanganan bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Indonesia untuk pertamakalinya pada 1997 dalam operasi Pengendalian Karhutla di Sumatera dan Kalimantan, sebagai dampak El Nino pada  September – Oktober 1997.

"Secara historis, peningkatan jumlah hotspot secara signifikan di Sumatra mulai  Juni dan di Kalimantan mulai Juli, hingga puncaknya pada  Agustus pada September,“ tukasnya.

Sebelumnya wilayah yang diusulkan BBTMC-BPPT untuk dilaksanakan TMC antisipasi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) meliputi Provinsi Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More