Kamis 08 Agustus 2019, 18:58 WIB

Penjualan Timah Murni RI Naik via Secondary Market di Singapura

Rendy Ferdiansyah | Ekonomi
Penjualan Timah Murni RI Naik via Secondary Market di Singapura

MI/Rendy Ferdiansyah
Pusat Logistik Berikat ICDX

 

MENINGKATNYA country risk perdagangan timah murni batangan di Indonesia khusus pada semester I 2019 mengakibatkan secondary market timah Indonesia di Singapura meningkat tajam.

"Tahun ini hingga Juli berdasarkan data transaksi timah murni batangan di bursa penjualan timah di Singapura meningkat tajam hingga 100% atau sekitar 49,50% atau 19,620 metrik ton," kata Komisaris Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Fenny Wijaya di Pangkalpinang, Rabu (7/8).

Ia menguraikan transaksi timah di Singapura 2014 sebanyak 43 ribu metrik ton, namun sejak ada bursa pada 2015 mulai menurun hanya 39 ribu metrik ton, begitu pula pada 2016 menjadi 29 ribu metrik ton.

Kemudian pada 2017 kembali turun menjadi 24 ribu metrik ton dan pada 2018 sebanyak 18 ribu metrik ton. Namun pada 2019 hingga Juli di tengah banyaknya smelter timah swasta tidak ekspor, transaksi timah melalui secondary market meningkat tajam 19 ribu metrik ton.

"Pada 2019 ini hingga Juli transaksi timah melaui secondary market timah Indonesia di Singapura meningkat tajam hingga 19 ribu metrik ton atau sekitar 49%," ujarnya.

Hal itu, menurutnya, disebabkan pelaku pasar timah dan khususnya end user lebih memilih membeli timah asal Indonesia melalui Singapura karena Indonesia dinilai rendah dalam kepastian hukum. "Awalnya ada 23 negara tujuan ekspor kita, Namun tahun ini tersisa 16 negara karena negara yang lain tidak memilih membeli timah dari Indonesia melainkan dari Singapura," kata dia.

Ia menyarankan Pusat Logistik Berikat (PLB) di Pangkalbalam Pangkalpinang adalah jawaban yang tepat untuk persoalan di atas eskpor yang masuk PLB adalah tentunya barang-barang yang telah memenuhi standar dan ketentuan ekspor sehingga memperoleh imunitas dan kepastian hukum. "PLB ini merupakan progran Presiden Joko Widodo yang mengarah pada visi Indonesia yang berdaulat."

Baca juga: Bea Cukai Hadiri Pameran Infrada Daerah Sumatra Selatan 2019

Gubernur Bangka Belitung Babel Erzaldi Rosman Djohan mengaku belum bisa berkomentar tentang itu karena akan ada rapat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta PT Timah,

"Kita akan segera rapat koordinasi. Di satu sisi pendapatan PT Timah meningkat, orang merasa pendapatan berkurang. Di sisi lain, penjualan beralih ke Singapura, saya belum dapat data persisnya seperti apa," kata Erzaldi. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More