Kamis 08 Agustus 2019, 08:45 WIB

BI Siapkan Kebijakan Moneter Longgar

Atalya Puspa | Ekonomi
BI Siapkan Kebijakan Moneter Longgar

MI/PIUS ERLANGGA
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan)

 

DEPUTI Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberi sinyal lembaganya akan menerapkan kebijakan moneter longgar guna mendorong laju investasi demi pertumbuhan ekonomi.

"Kami ingin mendorong investasi. Kemarin sudah diturunkan GWM (giro wajib minimum) rupiah dan juga suku bunga. Tampaknya kita lihat easing monetary policy (kebijakan moneter longgar) dalam jangka panjang. Kita butuh stimulus untuk pertumbuhan ekonomi ke depan," kata Destry seusai dilantik menjadi Deputi Gubernur Senior BI di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, kemarin.

Sejatinya, kata Destry, kondisi perekonomian Indonesia masih terbilang positif. Hal itu ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5%, serta inflasi selama 4 tahun terakhir yang masih stabil di kisaran 3%.

Meski begitu, ia menyoroti laju ekspor Indonesia yang mengalami perlambatan. Hal itu tak lepas dari dampak pelambatan pertumbuhan ekonomi secara global akibat perang dagang AS-Tiongkok.

Dalam menyikapi situasi itu, lanjut Destry, BI perlu untuk mempertahankan kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif. Pasalnya, mandat utama BI untuk menjaga stabilitas ekonomi sudah terpenuhi.

"Ke depan kami berharap BI bersama pemerintah bisa lebih meningkatkan diversifikasi daya ekspor tersebut dan juga terhadap pertumbuhan di pasar-pasar yang sifatnya konvensional," jelas mantan Kepala Ekonom PT Bank Mandiri itu.

Secara khusus Destry menyoroti tantangan perekonomian yang datang dari global. Perang dagang AS-Tiongkok yang tak kunjung reda kini justru sudah mengarah ke perang nilai tukar mata uang. "Kita patut waspadai karena memang pengaruh global ini cukup memberikan dampak terhadap domestik kita, dan juga negara-negara emerging market secara keseluruhan."

'Jual peluru'

Di kesempatan berbeda, dalam Seminar Market Outlook Bank Mandiri, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan Indonesia dapat memanfaatkan perang dagang AS-Tiongkok. Salah satunya dengan strategi 'jual peluru', yakni mengambil pasar Tiongkok di Amerika Serikat akibat tingginya tarif impor yang ditetapkan Presiden Donald Trump untuk impor dari Tiongkok.

"Kita gunakan akal dengan keadaan itu. Artinya, sekiranya ini perang beneran maka bagaimana kita jual peluru. Jadi sekarang bagaimana kita punya peluang menjual barang yang selama ini mahal di Tiongkok," kata Wapres JK, kemarin.

Perang dagang dua negara raksasa ekonomi dunia itu, sambung Kalla, meski berdampak negatif secara global, tetap memberi celah yang bisa dimanfaatkan Indonesia. Dengan strategi 'jual peluru', Indonesia dapat mengekspor barang-barang yang selama ini diekspor Tiongkok ke AS, tentunya dengan harga lebih murah.

Wapres menganalogikan kondisi perang dagang tersebut seperti Perang Dunia II, ketika banyak tentara AS menjadi korban, pabrik senjata dan peralatan perang justru meraup untung dalam perang tersebut.

"Setiap perang, ada yang untung, ada yang rugi. Amerika waktu Perang Dunia II memang banyak serdadunya meninggal, banyak korban, tapi yang untung ialah pabrik senjata, pabrik pesawat, dan pabrik tank," ujarnya.

Di kesempatan itu, Kalla juga menilai Indonesia tidak perlu panik atas kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang menurunkan suku bunga. Kalla yakin hal itu tak akan membuat rupiah terbang ke AS. (Dro/Ant/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More