Kamis 08 Agustus 2019, 05:00 WIB

Kejahatan Hoaks dan Kerapuhan Kita

Radhar Panca Dahana Budayawan | Opini
Kejahatan Hoaks dan Kerapuhan Kita

MI/seno
Ilustrasi

PADA 24 Oktober 2006, ketika sebagian besar masyarakat merayakan Idul Fitri, Samanto keluar dari penjara yang mengurungnya selama lima tahun akibat kejahatannya memakan beberapa mayat di Lampung dan Purbalingga. Apa yang mengejutkan di hari itu? Samanto keluar disambut sekelompok orang 'penggemar' yang bersyukur, memberi selamat, termasuk minta foto bersama. Sang 'pemakan mayat' kini menjadi selebritas dadakan.
Di kampungnya, Samanto juga mendapat sambutan serupa. Sering ia mendapat tawaran panggung untuk ceramah (bahkan tentang agama), menyanyi, bahkan didukung untuk mencalonkan diri menjadi lurah. Dengan dandanan berubah, seperti santri saleh atau ustaz, Samanto menikmati hidup baru yang benar-benar baru.

Ilustrasi di atas memberi kita lukisan tentang masyarakat yang begitu mudah melupakan masa lalu, entah itu positif atau negatif, masa gemilang atau kehancuran. Banyak pihak mengategorikannya sebagai 'amnesia publik', atau semacam kondisi psikis yang seseorang begitu mudah lupa pada realitas di masa lalu (sejarah). 

Namun, boleh jadi hal tersebut juga menjadi penanda bagi kenyataan rakyat Indonesia yang tidak (terbiasa dengan) romantis(me). Kecuali mungkin sebagian elite yang bisa jadi lantaran terinduksi filosofi dan ideologi Barat atau budaya Kontinental, sering membayangkan diri atau komunitas bangsanya berada dalam masa kejayaan (semacam zaman Romawi) masa lalu, entah itu puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tahun lalu.

Dalam dunia bahari, yang segalanya mengalir seperti air, menuju muara (laut) dan selalu meninggalkan hulu juga sungai perjalanan, orang Indonesia kebanyakan lebih fokus pada hari ini dan kemungkinan esok. Sebuah pragmatisme-etis juga kultural yang tentu berbeda dengan pragmatisme material Barat/Kontinental, termasuk dengan apa yang dikembangkan William James di Amerika Serikat, misalnya.

Apakah salah satu watak dari karakter bahari ini buruk atau justru menyimpan banyak kebaikan di dalamnya? Ada jawaban tersendiri untuk itu yang membutuhkan kertas berbeda. Apa yang jelas dari fakta di atas ialah kenyataan mutakhir rakyat atau bangsa kita yang mudah berubah sikap atau penyikapannya pada sebuah isu, gejala, atau persona. Semacam air yang mengambil bentuk dari wadah apa saja yang ditemui dalam perjalanan arusnya. Sikap atau penyikapan itu tidak pernah abadi, tidak monumental, apalagi dimonumentalisasi. Semua peninggalan monumental di negeri ini hampir semua memiliki latar budaya/adab berbeda, Kontinental terutama.

Argumen di atas pun dapat kita gunakan untuk mengurai penjelasan mengapa belakangan begitu massifnya kabar bohong (fake news, deception, hoaks, dll) terdistribusi, tepercayai, dan teryakini oleh masyarakat kita. Bukan hanya oleh kalangan jelata (grass roots), melainkan juga kaum elite terpelajar, akademisi senior, pemuka agama kondang, politisi kawakan, seniman berpengalaman, perwira tinggi tentara dan polisi, hingga pengusaha sukses.

Gangguan akal-jiwa
Karakter berbasis adab bahari membuat seseorang lebih meyakini apa yang ia lihat, dengar, atau rasakan 'saat ini', ketimbang berletih mencari, memperhitungkan, atau menilai rekam jejak atau masa lalu dari sebuah kabar atau isu. Bila seseorang, misalnya, tampak meyakinkan, tak bercacat apalagi populer, bolehlah ia kita percaya. Karena itu, seorang artis, pelawak, propagandis, bahkan penipu, provokator, atau koruptor 'murah hati' bisa dipilih jadi pejabat (negara), bahkan dengan perolehan suara terbesar.

Beredarnya hoaks menjadi semacam minyak dari api gairah pragmatis manusia bahari di atas. Sekumpulan kabar bohong atau data palsu, juga semacam personal image branding yang dilakukan banyak politikus karbitan, bisa dipastikan akan mendongkrak elektabilitas seseorang. Kebohongan dalam branding semacam itu menjadi ekspresi semiotik yang menciptakan kekeliruan pikiran (fake thought) hingga kesadaran-keliru (fake consciousness) yang kejahatan sosial menjadi salah satu produk praktisnya.

Sekurangnya, kian kuat dan meluasnya kesadaran-keliru, sebagai dimensi utama dari apa yang kita sebut post-truth, itu segera menimbulkan gangguan kejiwaan akibat relasi tak terhindarkan dari logos (akal) dan psykhe (jiwa) dari setiap orang. Seseorang yang begitu memercayai, bahkan meyakini hingga tingkat taklid, tentu tidak hanya memiliki gangguan pada cara berpikir, tapi juga mentalitas atau kejiawaannya. Alangkah menakjubkan, jika tidak dibilang mengerikan, jika jumlah penyakit akal-jiwa tersebut memiliki jumlah yang signifikan, mencapai hampir separuh dari penduduk negeri ini.

Bahkan, seseorang yang tidak dilahirkan dan dibesarkan dalam adab bahari, tapi karena begitu bergairah dan cintanya pada Indonesia, akhirnya terperangkap dalam watak 'pragmatis' dari hidup keseharian bangsa ini. Jerry Duane Gray yang 30-an tahun hidup di negeri ini, belasan tahun terakhirnya sebagai WNI, menjadi satu kasus (bukti) bagaimana budaya dan adab yang diperkuat selama ribuan tahun ini, memiliki tingkat kerentanan atau kerapuhan yang membahayakan, di tingkat personal hingga nasional.

Tentu saja saya wajib memaparkan watak bahari tidaklah simplistis atau sekurangnya satu muka saja, seperti gambaran di atas. Ada juga watak idealistis (bukan ideologis, yang menjadi semacam monumentalisme idealisme) dari orang bahari dan membuat kebudayaan berkembang hebat, bahkan bertahan hingga hari ini. Namun, sekali lagi, paparan itu membutuhkan kertas tersendiri.

Kejahatan hoaks
Penting untuk diperhatikan saksama dalam persoalan ini, segala bentuk kabar bohong, termasuk hoaks, dalam sejarahnya yang ribuan tahun, tidaklah senaif apa yang sudah dilakukan banyak pihak di banyak bangsa di masa dahulu. Sejak Zhang Yingyu di masa akhir Dinasti Ming, menulis buku cerita tentang pelbagai hoaks atau kabar bohong pada 1617, dan istilah hoaks diperkenalkan Thomas Ady dalam bukunya A candle in the dark, terbitan 1656, sudah banyak sekali hoaks diproduksi, baik untuk lingkungan tertentu maupun masyarakat luas, dari sekadar penipu iseng, pencari popularitas, penggemar kontroversi, hingga para pedagang atau politisi yang menyangkut nama-nama besar di tingkat dunia.

Sejarah mencatat bagaimana hoaks sudah hampir menjadi tradisi ratusan tahun di Amerika Serikat (AS), bahkan melibatkan tokoh sekaliber Benjamin Franklin, bapak bangsa yang turut merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan AS. Pada 17 Oktober 1745, Franklin menulis di majalah Pennsylavania Gazzete, tentang 'batu Tiongkok' yang dapat menyembuhkan pelbagai penyakit dari rabies hingga kanker. Namun, selang seminggu kemudian, tulisan lain memberi bukti 'batu Tiongkok' itu tidak dari tanduk rusa yang tak punya khasiat apa-apa.

Namun, hoaks yang sungguh memberi dampak destruktif dimulai seorang sastrawan ternama dunia, Johathan Swift, penulis legenda 'Perjalanan Gulliver' yang sangat kondang itu. Menggunakan nama samaran, pada 1708, Swift meramalkan kematian seorang astrolog terkenal, lalu ia menulis elegi di hari yang ia tetapkan itu, seolah sang astrolog sungguh telah wafat. Tentu saja, kenyataannya sang peramal masih sehat walafiat, tapi almanak yang ia buat tidak lagi dijual selama bertahun-tahun akibatnya. Inilah awal April Mop yang kita dan dunia kenal selama ini.

Dalam sejarahnya, banyak nian hoaks yang terkenal dan berdampak besar, termasuk dalam dunia keilmuan, terjadi di Amerika Serikat. Selain tujuan-tujuan naif, seperti 'kenikmatan bisa menipu banyak orang', 'menarik perhatian orang akan keahlian menipu', sampai untuk mendapatkan keuntungan finansial, hoaks didiseminasi memang sengaja untuk mengelabui orang yang cenderung paranoid atau labil jiwanya. Secara religius banyak digunakan untuk menciptakan kesadaran dan kesalehan (tauhid) yang keliru dan ilusif hingga memungkinkan muncul atau masuknya agama baru.

Secara tradisional hoaks disebar lewat bibir, majalah-koran, radio, dan televisi, tapi di beberapa dekade terakhir internet menjadi arsenal utama. Penyebaran melalui platform itu memiliki kecepatan dan percepatan tak tertandingi dan jangkauan hingga ke sudut terpencil wilayah fisik maupun jiwa manusia. Hoaks yang menyebutkan bahwa Georgia diinvasi Rusia pada 13 Maret 2010 berakibat pergolakan besar di kawasan. Pergolakan besar pun terjadi di kawasan Timur Tengah dan magribi, akibat hoaks yang disebar sejak awal sehingga menciptakan perubahan-perubahan radikal, termasuk terbunuhnya pemimpin tertinggi, perang regional, jutaan korban jiwa, hingga pergantian sistem.

Apa yang terjadi belakangan, mulai kemampuan nuklir Iran yang mengancam Israel dan Arab Saudi, Korea Utara mengancam Jepang dan Amerika Serikat, hingga ponsel Huawei yang menjadi alat intelijen Tiongkok meruyak menciptakan persepsi sesat di kalangan internasional. Hoaks yang disebarluaskan demi kepentingan politik satu golongan, kini menjadi isu tiada habis di Amerika Serikat, Inggris di seputar referendum Brexit, hingga meningkatnya popularitas kaum populis di Eropa daratan. Apa yang bisa kita katakan saat Donald Trump memutuskan mundur dari Kesepakatan Paris karena menganggap isu climate change ialah hoaks? Bagaimana bila kebenaran universal disebut bohong oleh sebuah kekuatan global? Apakah suatu saat keberadaan Tuhan pun dianggap hoaks? Jangan-jangan satu ketika Indonesia pun dianggap sebuah entitas yang ilusif, hoaks, atau sekadar imagined.

Kejahatan hoaks yang bukan hanya menciptakan ancaman, melainkan juga destruksi faktual dan aktual di pelbagai dimensi kehidupan masyarakat berbagai bangsa, tentu tak membuat kita luput darinya. Sebagai negeri merdeka dan terbuka, terlebih sejak reformasi, Indonesia juga terinfeksi fenomena global di atas. Kerusakan yang terjadi akibat kejahatan itu telah nyata di hadapan kita. Menciptakan bukan hanya rasa miris, tragis, melainkan juga kebingungan untuk memahami subtansi, asal muasal, apalagi cara pencegahannya.

Jalan keluar
Fenomena kebohongan meluas begitu pesat dan global, selain karena penetrasi teknologi komunikasi dan informasi yang sangat maju, tentu juga diakibatkan kondisi mental dan kultural dari sebuah komunitas atau bangsa yang terinduksi. Setiap wilayah memiliki karakteristiknya sendiri sehingga respons dan akibatnya juga bermacam-macam. 

Di Indonesia banyak ahli yang coba menengarai ihwal kerentanan kita pada hoaks, mulai kondisi psikologis hingga faktor genetik. Penjelasan watak atau dasar karakter bangsa bahari di bagain atas tulisan ini sebenarnya menjadi salah satu faktor utama terjadinya wabah mental-intelektual ini. Namun, penjelasan tersebut juga harus dilengkapi dengan argumen tentang keliru dan kacaunya sistem pendidikan modern kita, yang notabene berbasis filosofi dan ideologi Kontinental, juga penggunaan sistem di berbagai bidang (politik, hukum, ekonomi, ilmu, dsb) yang juga memiliki basis serupa. 

Praktik kehidupan bernegara semacam itu sudah banyak ditengarai menciptakan benturan dengan realitas publik yang memiliki basis budaya/adab berbeda selama ribuan tahun. Namun, kekuatan modern yang dibela pemerintah dengan segala institusi dan arsenal 'negara' yang dimilikinya, melakukan persuasi hingga represi yang kemudian memproduksi kesadaran dan keyakinan yang terbelah (skizofrenik), kepribadian yang kacau dan disoriented, dan akhirnya pemikiran serta tauhid yang ilusif. Satu kondisi psikologis yang segera menciptakan paranoia, ruang yang hoaks dapat bertamu bebas dan diterima dengan santun dan gembira.

Untuk semua itu, sekurangnya ada lima hal yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi atau menanggulangi kejahatan dari semiotika (simbol-simbol verbal, material, hingga mental) yang diprouksi hoaks. Hingga kemudian ia menumbuhkan kepribadian individual dan juga nasional yang tangguh dan tetap pada jati dirinya sesuai dengan karakter asli bahari yang toleran-akseptan, penjelajah, berani, inovatif, dsb.

Pertama, secara taktis-politis, hoaks atau pelbagai bentuk informasi tipuan (deception) lainnya mau tak mau harus dilawan dengan keras melalui diseminasi fakta valid yang menyatakan kebenaran nyata (real truth). Publik harus di(ter)latih untuk cermat dan cerdas memahami sebuah kabar dengan mengujinya melalui data-data yang absah, melalui jejak digital. 

Tanggung jawab pemerintah di atas, dapat diiringi dengan satu aksi yang bersifat rahasia (intelijen) yang kabar-tipu dibalas dengan kabar-tipu juga yang jauh lebih keras dengan arah kuat pada produsen kabar yang pertama. Hal ini menciptakan kerancuan yang akan merangsang setiap konsumen berita untuk mencari data sesungguhnya dari kabar-tipu yang diterimanya. Taktik ini tentu saja tidak bisa dilakukan sembarangan, tapi hanya dalam situasi dan cara tertentu yang akurat tujuan dan sasarannya.

Kekuatan agama budaya
Kedua, daya tahan publik sudah semestinya diperkuat dengan memperhitungkan basis kerentanan kepribadian manusia (di tingkat personal hingga nasional) yang ada pada tipisnya literasi atau komprehensi kulturalnya. Peningkatan literasi kebudayaan masyarakat ini menjadi imperasi awal bagi upaya terbangunnya bukan saja kepribadian yang kukuh, melainkan juga sumber daya manusia yang digemborkan pemerintah sebagai fokus pembangunan saat ini.

Tentu saja sebelum itu harus dipahami dengan baik, koheren dan komprehensif, makna kebudayaan, baik sebagai kata sifat, benda atau kerja. Dalam realitas saat ini, definisi kebudayaan sebagai kata benda dan sifat, yang teoretis dan ideologis, biarlah menjadi bagian laboratorium di perguruan tinggi atau kelompok studi. Namun bagi masyarakat, kebudayaan harus menjadi kata kerja, menjadi panduan praksis hidup sehari-hari, menjadi dasar idealisme atau cita-cita masa depannya. Pemerintah bersama obligor atau pemangku kepentingan bertanggung jawab melakukan elaborasi aplikatif dari kebudayaan ini, sekurangnya berbasis tradisi lokal dari setiap unit masyarakat yang ada. 

Sesungguhnya dalam kenyataan, literasi budaya ialah sebuah fakta di kalangan rakyat (jelata), yang elite justru yang mengingkari, bahkan kerap melakukan tipu daya. Peningkatan literasi ini tidak lain penguatan cara hidup berbudaya yang ada dengan kembali menekankan tradisi-tradisi positif, termasuk pola dan nilai hidup budaya yang selama ini teruji dapat digunakan untuk menangkal ekses dari infiltrasi budaya asing destruktif.

Ketiga, dimensi yang tak dapat diluputkan karena ia menjadi identitas primer lain dari bangsa Indonesia, selain homo culturalis, ialah homo spiritualis. Literasi spiritual rakyat negeri ini menjadi imperasi untuk ditingkatkan dengan serius, mengingat realitas mutakhir kita yang kian menunjukkan bagaimana keyakinan kita akan Tuhan (tauhid) begitu rapuh dan rentan sehingga zat yang agung itu menjadi begitu mudah 'dimainkan' oleh kepentingan duniawi. Akibatnya, akidah dan syariah (dalam pengertian generik) yang ketentuan kerap dipelintir dengan gampang. Terjadi semacam desakralisasi Tuhan yang dilakukan justru oleh elite (agama)nya sendiri. Satu kondisi yang turut bertanggung jawab pada meluasnya keraguan di kalangan muda (milenial) pada agama karena kerapnya Tuhan diikutsertakan dalam nafsu-nafsu yang profan.

Keempat, penguatan defensi atau ketahanan agama-budaya dalam diri seseorang di atas bisa jadi tidak berjalan mulus bila penggunaan internet sebagai media tak bertuan, tak berhukum, tak bernegara tetap dibuka selebarnya hingga tingkat individual bahkan kanak-kanak (sejak balita hmm...). Pemerintah yang lemah ialah dia yang selalu mengatakan bahwa semua itu sebagai hal (kemajuan) yang inevitable. Atau menyerah begitu saja pada rengekan remaja publik untuk bisa mengakses bebas dunia tanpa-nilai yang kita mafhum sekali daya rusaknya pada akal sehat, jiwa, hingga secara fisiologis itu kuat sekali.

Selaiknya ada pembatasan pada penggunaan internet, entah di waktu tertentu, di kalangan tertentu, maupun di tujuan tertentu. Tak ada yang tak terhindarkan atau tak tertolakan dari teknologi modern. Kita dan banyak bangsa lain juga pernah menolak sebuah produk teknologi karena potensi dampak buruknya yang dahsyat. Reaktor atau senjata nuklir, misalnya.

Terakhir, semua upaya di atas akan sempurna atau justru jadi sia-sia jika pendidikan (tidak) dibenahi secara radikal, baik dalam sistem, silabus, hingga tujuan-tujuan pragmatis maupun idelistisnya. Harus ada, menurut saya, perhitungan kembali secara komprehensif mengenai dunia pendidikan yang telah kita jalani sepanjang tiga perempat abad ini, yang harus diakui jujur, hanya menjadi estafet dari model pendidikan kolonial atau Kontinental yang basis filosofi, kultural, hingga metodologinya bisa dikatakan berbeda secara diametral dengan model pendidikan yang ada dalam tradisi ribuan tahun (suku) bangsa-bangsa di Nusantara.

Mulailah kita, bila tidak menghentikan, mengurangi secara drastis penggunaan cara pandang, sistem, atau teori dari pihak-pihak luar yang selama ini secara fanatik berlebihan, bahkan taklid kita anggap lebih baik atau lebih memahami diri kita di samping diri kita sendiri. Kembalikan rasa percaya diri bangsa ini bila mereka memiliki seluruh kapasitas dan kapabiltas untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sendiri, menjawab tantangan masa depannya sendiri. 

Sejarah membuktikan kita pernah melakukan itu, berulang kali. Mengapa tidak saat ini?


 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More