Kamis 08 Agustus 2019, 04:20 WIB

Korban Luka Ledakan Kabul Capai 95 Orang

Tesa Oktiana Surbakti tesa@mediaindonesia.com | Internasional
Korban Luka Ledakan Kabul Capai 95 Orang

(Photo by WAKIL KOHSAR / AFP)
Seorang pria Afghanistan yang terluka menerima perawatan medis di Rumah Sakit Isteqlal setelah sebuah bom mobil Taliban meledak

 

SEBUAH bom bunuh diri yang menargetkan markas kepolisian di lingkungan minoritas Syiah di wilayah barat Kabul, terjadi pada Rabu (7/8) pagi. Otoritas Afghanistan mengungkapkan jumlah korban luka mencapai 95 orang.

Kelompok Taliban mengklaim bertanggung jawab atas ledak-an besar. Mereka mengargetkan pusat rekrutmen pasukan keamanan. Sejauh ini, belum ada konfirmasi korban tewas dalam peristiwa yang menjadi serangan kedua di Kabul, dalam beberapa hari terakhir.

Dalam serangan tersebut, pelaku bom meledakkan mobilnya di sebuah pos pemeriksaan keamanan di luar gedung. Juru bicara kepolisian, Firdaus Faramarz, mengatakan sekolah militer terletak tak jauh dari lokasi kejadian.

Mengutip pernyataan juru bicara kementerian kesehatan, jumlah korban luka tercatat 95 orang. Mayoritas korban ialah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Saat ini, seluruh korban dirawat di rumah sakit.

Pemberitaan media lokal menunjukkan gumpalan asap hitam di atas wilayah Kabul, yang menjadi rumah bagi komunitas minoritas Hazara. Bagian depan sebuah bangunan bertingkat terpantau rusak parah. Para pemilik toko berupaya membersihkan pecahan kaca. "Saya sedang sarapan di sebuah restoran ketika ledakan terjadi. Setelahnya, saya langsung berlari ke luar," tutur Mohmmad Qasem, seorang warga lokal.

Markas besar kepolisian telah menjadi target serangan. Pada 2017, terjadi serangan yang menewaskan lebih dari 20 orang. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Nusrat Rahimi, menyatakan tidak ada penyerang lain dalam ledakan kali ini. Dia pun menepis laporan terkait pertempuran senjata.

Kelompok Taliban, yang melancarkan serangan hampir setiap hari di seluruh negeri, biasanya menargetkan pasukan Afghanis-tan dan pejabat pemerintah. Pada Selasa kemarin, sebuah bom menyasar sebuah kendaraan yang mengangkut pegawai divisi anti-narkotika Kementerian Dalam Negeri. Insiden itu menewaskan 5 orang dan melukai 7 orang lainnya.

Serangan pada Rabu itu terjadi di tengah perundingan antara Taliban dan Amerika Serikat (AS). Negosiasi berlangsung di negara Teluk Arab, Qatar, lokasi gerilyawan mempertahankan markasnya.

Kemajuan Perundingan

Utusan AS yang ditugaskan mencari kesepakatan damai konflik hingga 18 tahun, Zalmay Khalilzad, melaporkan kemajuan luar biasa dalam perundingan Qatar. Seorang pejabat Taliban juga mengamini, seraya menyebut perbedaan mengenai beberapa isu telah diselesaikan. Di antaranya penarikan pasukan AS dari Afghanistan, dan jaminan Kelompok Taliban untuk memutuskan hubungan dengan kelompok pemberontak lain.

"Masih ada rincian yang perlu didiskusikan. Jadi, memang belum ada kesepakatan. Nantinya, kesepakatan yang dicapai bergantung situasi. Kami sedang mengejar perjanjian damai, bukan perjanjian penarikan," jelas juru bicara Deplu AS.

Taliban terus menyampingkan pemerintah Afghanistan dalam meja perundingan. Kelompok itu enggan bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, karena dianggap sebagai boneka AS. Taliban juga menyerukan boikot terhadap pemilihan umum Afghanistan pada 28 September.

Kelompok Taliban menguasai setengah dari wilayah Afghanistan, dan berada pada posisi terkuat sejak 2001. Waktu itu invasi pimpinan AS menjatuhkan pemerintah Taliban, setelah menyingkirkan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Khalizad berharap kesepakatan akhir dengan AS tercapai pada 1 September. Dengan begitu, 20 ribu pasukan AS dan NATO akan meninggalkan Afghanistan.(CBSNews/AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More