Rabu 07 Agustus 2019, 08:55 WIB

Eskalasi Perang Dagang Picu Sentimen Negatif

Atalya Puspa | Ekonomi
Eskalasi Perang Dagang Picu Sentimen Negatif

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/8/2019).

 

PERANG dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang makin memanas seiring langkah pemerintah Tiongkok melemahkan mata uang yuan membuat bursa saham dan nilai tukar mata uang global berguguran.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih ditutup melemah signifikan 0,91% ke level 6119.471.

Rupiah melemah 22 poin atau 0,15% menjadi 14.277 per dolar AS dari sebelumnya 14.255 per dolar AS

"Perselisihan antara dua ekonomi terbesar dunia ini dengan cepat berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya dan berhasil mengguncang pasar," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi seperti dikutip dari Antara.

Pemerintahan Trump secara resmi menyebut China sebagai manipulator mata uang, sebuah pernyataan yang meningkatkan ketegangan perang dagang lebih jauh.

Sikap tersebut disampaikan Washington setelah Bank Sentral China (PBOC) dengan sengaja membiarkan nilai yuan jatuh terhadap dolar AS sebagai bentuk balasan atas tarif impor oleh AS.

"Kini perang dagang sepertinya sudah naik kelas, bertransformasi menjadi perang mata uang. Jika praktik yang dilakukan China ditiru negara lain demi menggenjot ekspor, akan terjadi devaluasi mata uang secara kompetitif. Perang mata uang sudah di depan mata," tandas Ibrahim.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan bahwa pelemahan mata uang Tiongkok yuan akan membuat impor barang Tiongkok semakin sulit dibendung.

Jika impor barang Tiongkok sulit dibendung, lanjutnya, neraca perdagangan Indonesia-Tiongkok akan semakin defisit, terutama di tengah terus turunnya harga komoditas.

Potensi rebound

Dalam perdagangan di BEI kemarin, pelemahan didominasi oleh sektor aneka industri yang turun 2,26%, diikuti sektor keuangan turun 1,90%, dan sektor perdagangan turun 1,28%.

BEI mencatat adanya transaksi total frekuensi perdagangan saham sebanyak 548.686 kali dengan volume perdagangan 16,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp10,4 triliun.

Analis Bina Artha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan, pergerakan IHSG yang terus bertahan di zona merah murni berdasarkan sentimen negatif yang datang dari luar negeri.

"US China Trade War, China's currency devaluation, Hong Kong crisis, Iranian Crisis. Itu saja sentimennya," kata Nafan kepada Media Indonesia.

Adapun, dirinya menilai rilis data PDB Indonesia tidak memengaruhi pergerakan IHSG hari ini. "Tidak. Sebab itu hanya merupakan sentimen hari kemarin lalu. This is pure global sentiment," lanjutnya.

Namun begitu, dirinya memprediksi adanya potensi rebound pada IHSG yang disebabkan faktor jenuh jual para investor.

"Meskipun demikian, terlihat bahwa Stochastic dan RSI sudah menunjukkan oversold atau jenuh jual. Di sisi lain, terlihat pola bullish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi rebound pada pergerakan IHSG," jelasnya.

Sejumlah rekomendasi saham dari Bina Artha yang dapat menjadi pertimbangan investor, yakni ADHI, ASRI, BBTN, BMRI, ELSA, PGAS. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More