Rabu 07 Agustus 2019, 00:28 WIB

Mbah Moen Ajak Umat tak Benturkan Islam dan Pancasila

Ade Alawi | Politik dan Hukum
Mbah Moen Ajak Umat tak Benturkan  Islam dan Pancasila

Antara/Hanni Sofia
Ribuan umat muslim mengantarkan KH Maimoen Zubair ke tempat peristirahtaan terakhirnya di Mekah

 

KESAN tentang ulama kharismatik KH Maimoen Zubair yang akrab disapa Mbah Moen seperti tak pernah habis digali dari sejumlah kalangan.

Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi, Oman Fathurrahman mengatakan, Mbah Moen contoh figur ulama sepuh Indonesia yang mewarisi komitmen kuat keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan, yang sejak awal telah ditanamkan oleh para ulama pendahulu.

"Beliau sangat fasih ketika berbicara wawasan kebangsaan, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, dan mengajak umat untuk tidak membenturkannya dengan nilai-nilai keislaman," kata Oman saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (6/8).

Oman berada di Mekah sebagai Pengendali Teknis Bidang Bimbingan Ibadah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2019.

Baca juga : Mbah Moen Sosok penghubung Budaya Arab dan Budaya Indonesia

Menurutnya, Mbah Moen adalah seorang ulama sepuh yang detil mengingat peristiwa sejarah. "Beliau mampu menceritakannya (sejarah) hingga berjam-jam di atas panggung," ungkapnya.

Dia menuturkan, mengikuti prosesi pemakaman Mbah Moen sejak awal keluar dari RS An Noor, Mekah, Arab Saudi, pemandian jenazah, disalatkan di Kantor Urusan Haji Indonesia Daerah Kerja Mekah dan Masjidil Haram hingga pemakamannya di Al Ma'la, menyaksikan betapa Mbah Moen adalah seorang ulama besar.

"Beliau ulama besar Indonesia yang berwibawa dan pengaruhnya lintas batas. Beliau dihormati bukan hanya oleh umat Islam yang mengenalnya, tapi juga mereka yang baru mengenal namanya," jelasnya.

Meski jauh dari tanah air, kata dia, prosesi pemakamannya di Mekah diikuti oleh ribuan pelayat dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin.

"Mautul 'alim mautul 'alam (wafatnya seorang alim adalah duka semesta) sangat terasa nyata. Cuaca Mekah yang biasa menyengat di atas 40 derajat celcius, pagi itu hingga siang hari mendung diselimuti awan, temperature hanya 34 derajat celcius," pungkas Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More