Selasa 06 Agustus 2019, 20:38 WIB

Gunungkidul Minta Daging Kurban Dibungkus dengan Daun Jati

Agus Utantoro | Nusantara
Gunungkidul Minta Daging Kurban Dibungkus dengan Daun Jati

MI/AGUS UTANTORO
ilustrasi -- Hewan-hewan kurban sapi, kambing, dan domba di Pasar Hewan Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta

 

WAKIL Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi, Selasa (6/8), meminta masyarakat khususnya panitia penyelenggara penyembelihan ternak kurban tidak lagi menggunakan tas plastik (kresek) untuk membungkus daging kurban.

Sebagai gantinya, kata Immawan, daging dibungkus dengan menggunakan daun jati. 

"Saya mengharap para panitia meninggalkan plastik sebagai pembungkus daging sembelihan kurban. Sebagai gantinya, bisa menggunakan daun jati," katanya.

Menurut Wakil Bupati Gunungkidul itu, jauh sebelum penggunaan plastik itu meluas, pembungkus daging yang dibeli di pasar-pasar, biasa menggunakan daun jati.

Dikatakannya, hal itu masih sebatas imbauan dan Pemkab Gunungkidul belum mengeluarkan edaran yang terkait penggunaan plastik untuk pembungkus daging kurban. 

"Belum ada edaran yang secara formal dikeluarkan. Kami sudah berkali-kali mengajak masyarakat agar tidak lagi menggunakan kantong plastik. Pada Idul Adha ini, kami harapkan lagi agar tidak menggunakan plastik, sebagai pengganti bisa saja menggunakan daun jati sebagai pembungkus," ujarnya.

Immawan menambahkan penggunaan daun jati merupakan kearifan lokal dan penggunaan daun jati sebagai pembungkus ini lebih ramah lingkungan serta daging tidak cepat membusuk.

Baca juga: Kesehatan Hewan Kurban di Kota Bekasi Mengkhawatirkan

Sementara Dinas Lingkungan Hidul (DLH) Kota Yogyakarta meluncurkan gerakan Idul Adha tanpa kantong plastik. Kampanye ini diharapkan akan mengurangi limbah plastik. 

"Selain akan meningkatkan volume limbah plastik, penggunaan kantong plastik sebagai pembungkus daging juga tidak baik bagi kesehatan," kata Kepala DLH Kota Yogyakarta, Suyana, Selasa (6/8).

Menurut dia, kantong plastik memiliki dampak yang tidak baik bagi kesehatan. Salah satu penyebabnya karena banyaknya kantong plastik yang terbuat dari bahan daur ulang. 

"Memang menggunakan kantong plastik bening lebih baik dibanding dengan menggunakan kantong plastik warna hitam. Namun akan lebih baik jika tidak lagi menggunakan plastik," ujarnya.

Sebagai gantinya, DLH menyodorkan penggunaan besek atau wadah yang terbuat dari anyaman bambu.

Selain mengimbau tidak menggunakan kantong plastik, DLH juga mengimbau agar tidak mencuci atau membuang kotoran sisa sembelihan ke aliran sungai. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah penyebaran bakteri E-coli.

"Mencuci jerohan di sungai berpotensi menyebarkan bakteri E-coli," katanya. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More