Selasa 06 Agustus 2019, 14:30 WIB

Pencarian Panjang Keluarga Korban Kediktatoran Pinochet

Adiyanto | Internasional
Pencarian Panjang Keluarga Korban Kediktatoran Pinochet

Foto: Martin Bernetti / AFP
Juana Cerda, putri dari Cesar Cerda memegang foto ayahnya. Cerda satu dari ribuan orang yang diculik rezim diktator Augusto Pinochet.

 

JUANA Cerda masih berusia 19 tahun ketika ayahnya, Cesar Cerda diciduk tentara pemerintah pimpinan Jenderal Augusto Pinochet pada 19 Mei 1976.

Sebagai remaja putri yang beranjak dewasa, saat itu dia tahu afiliasi politiklah yang membuat ayahnya diciduk penguasa Cile tersebut. Ayah Juana merupakan anggota Partai Komunis Cile, penentang keras Jendral Pinochet.

Baca juga: Tiongkok Hentikan Impor Produk Pertanian AS

Sejak penangkapan itu, ayah Juana tak kunjung kembali. Tak jelas nasibnya, hidup atau mati. Cerda hanyalah satu dari ribuan penentang rezim sayap kanan yang masih dinyatakan hilang, meskipun ada upaya tak kenal lelah dari anggota keluarga untuk menemukan mereka.

"Di mana dia? Di mana jenazahnya? Kami menghabiskan hidup kami dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu," ujar Juana, yang kini berusia 62 tahun seperti dikutip AFP, Selasa (6/8).

Bersama ibunya, Juana pernah menyambangi sejumlah rumah sakit, kantor polisi, pusat penahanan, dan barak militer tanpa menemukan jawaban atas pertanyaannya. Hal serupa dialami anggota keluarga lainnya yang dilenyapkan rezim kediktatoran berdarah Cile selama 1973-1990.

"Pencarian ini sangat menyakitkan. Ibuku pernah mogok makan, dia merantai dirinya sendiri ke pagar di luar gedung Kongres," ungkap Juana.

Setahu dia, ayahnya pernah dibawa ke pusat penyiksaan yang terkenal di Villa Grimaldi dan Simon Bolivar di ibu kota. Hanya itu, selebihnya gelap.

Kisah serupa juga dialami keluarga Eduardo Campos, dari Gerakan Kiri Revolusioner, yang ditangkap pada 1973.

"Kami sudah mencari selama bertahun-tahun dan kami tidak punya apa-apa," kata saudara perempuan Campos, Silvia, yang telah melanjutkan pencarian sejak ibunya meninggal pada 1994.

Kabar menyejukkan sempat datang ketika Campos sempat ditemukan walau sudah menjadi mayat. Namun, belakangan keluarganya diberi tahu pada 2006 oleh layanan forensik bahwa tubuh yang telah diidentifikasi sebagai Campos sebenarnya adalah orang lain.

Setelah digali, mayat 'Campos' tersebut harus dikubur kembali, dan keluarganya kembali mencari dari titik awal.

Pinochet berkuasa di Cile melalui kudeta berdarah dengan menggulingkan Presiden dari Partai Sosialis, Salvador Allende pada September 1973. Selama berkuasa hingga 1990, dia memerintah dengan tangan besi. Dia tak segan melenyapkan lawan politiknya.

Sejauh ini, dari 1.100 orang yang secara resmi dilaporkan hilang, hanya 104 yang ditemukan. Keluarga para korban menyalahkan pemerintah berturut-turut karena menunjukkan kurangnya minat. Mereka menilai tidak ada yang berubah sejak presiden konservatif Sebastian Pinera mengambil alih jabatan 18 bulan lalu.

"Saya pikir pemerintah ini tidak hanya tidak tertarik, tetapi secara aktif memboikot kemajuan dalam hal ini," kata Lorena Pizarro, pemimpin sekelompok keluarga tahanan yang hilang. Ayah Lorena, Waldo Pizarro juga ikut dilenyapkan pada 1976.

Bentuk tim

Sebelum menyerahkan kekuasaan kepada Pinera, mantan presiden sosialis Michelle Bachelet, yang sekarang menjadi Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dan sempat disiksa selama kediktatoran Pinochet, membentuk tim pada akhir 2017 untuk mencari tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang hilang. Investigasi tim ini ditargetkan rampung pada 2021.

"Pekerjaan di bidang ini telah terus menerus dan diperluas. Kami telah menyatakan di setiap kesempatan bahwa kami memegang komitmen kami dalam domain ini," kata sekretaris hak asasi manusia Cile, Lorena Recabarren via email kepada AFP.

Menurut dia kasus ini tak berjalan di tempat. Hingga akhir 2018, kata Recabarren, sebanyak 451 orang telah dituntut atas eksekusi terhadap 851 korban, dan 266 orang telah dituntut karena telah menghilangkan 618 orang secara paksa.

Sejak awal Juni lalu, dua pengacara juga telah memeriksa kasus-kasus 355 korban lainnya, tetapi bukan sebagai bagian dari prosedur penuntutan.

Dalam sebuah laporan baru-baru ini, Komite Komisi Tinggi PBB untuk Penghilangan Paksa menyatakan keprihatinannya lantaran minimnya orang hilang yang berhasil ditemukan. Mereka menyarankan pemerintah Cile untuk mengintensifkan upayanya untuk membuka penyelidikan atau mempercepat proses yang sudah berjalan.

Menurut Elizabeth Lira, pakar politik dari Universitas Alberto Hurtado sepertinya sulit untuk menemukan mereka yang telah diculik rezim Pinochet. Sebab, kata dia, tentara memang berupaya menghilangkan jejak.
Menurut cerita yang beredar banyak mayat diledakkan menggunakan dinamit dan sekitar 180 orang dilemparkan ke laut dari pesawat.

"Itu adalah luka yang merusak hati nurani bangsa ini," kata Pizarro, yang ingin negaranya menunjukkan kemauan politik untuk "menolak impunitas."

Selain upaya keluarga korban, sekitar 10 hakim kini sedang menyelidiki kasus ini dan unit khusus dari Layanan Kedokteran Hukum sedang bekerja untuk mengidentifikasi sisa-sisa potongan tubuh yang telah ditemukan, meski kesulitan lantaran banyak yang rusak.

Baca juga: Komunitas Latin Salahkan Trump atas Rangkaian Penembakan di AS

"Teknologi ini tersedia, tetapi informasi dan kualitas informasi yang kami kerjakan sangat bervariasi," kata Marisol Intriago, kepala unit khusus yang saat ini bekerja mengidentifikasi 45 tersangka korban.

Layanan ini memiliki sekitar 4.000 sampel darah dan 1.800 pecahan tulang dari keluarga orang-orang yang hilang untuk memastikan bahwa pencarian terus berlanjut bahkan ketika keturunan mereka mati.

Pihak keluarga korban pun tidak mau menyerah. "Kita akan terus berjuang sampai kita mati !," tukas Juana. (AFP/OL-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More