Selasa 06 Agustus 2019, 06:40 WIB

Investasi dan Ekspor  Jadi Tumpuan

nur Aivanni                  | Ekonomi
Investasi dan Ekspor  Jadi Tumpuan

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawat

 

HARAPAN agar pertumbuhan ekonomi meningkat pada dua triwulan terakhir tahun ini bertumpu pada kinerja sektor investasi dan ekspor. 

Hal itu karena pertumbuhan dari sektor konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang selama ini menjadi penopang sudah berada di kapasitas optimalnya sehingga ruang untuk meningkatan pertumbuhan berada di area investasi dan ekspor.  

Menteri Keuangan  Sri Mulyani menyebutkan, karena berkaitan dengan kondisi global, kinerja ekspor kita masih jauh dari harapan

Namun,  dari sisi investasi, ia berharap setelah adanya siklus politik (pemilu) pada triwulan II, pada triwulan  III 2019 akan mulai meningkat.   

“Beberapa indikator sebenarnya menunjukkan investasi akan peak up seperti kemarin PMA kita pada kuartal II sudah tumbuh 9%,” ujar Sri Mulyani di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Dari sisi sektor keuangan, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu masih mengecek baik pertumbuhan kredit maupun belanja modal berbagai perusahaan.   

Ia menyebutkan bahwa menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), dua sektor yang kuat pertumbuhannya ialah konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,17% dan setelah itu belanja pemerintah itu konsisten dengan belanja APBN. 

“Di semester kedua, kami harapkan indikator investasi dan ekspor yang akan peak up,” tandasnya.    

Sebelumnya BPS mencatat perekonomian Indonesia masih ditopang komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) Indonesia yakni sebesar 55,79%. 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka kontribusi terhadap PDB tersebut lebih tinggi daripada di kuartal II 2018 yang sebesar 55,23%.

“Kita tahu kuartal II 2019 ada momen bulan puasa, libur sekolah, pencairan gaji dan tunjangan, pemilu, banyak peristiwa terjadi sehingga konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif 5,17% dengan dibarengi inflasi yang terkendali,” kata Suhariyanto

Adapun indikator lain yang mendukung kuatnya konsumsi rumah tangga ialah penjualan eceran yang tumbuh menguat ketimbang di triwulan II 2018. Penguatan tersebut terjadi antara lain pada penjualan sandang dan perlengkapan rumah tangga serta barang lainnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memprediksi konsumsi rumah tangga di semester II  bakal sedikit melambat. Hal itu karena pengeluaran masyarakat sudah dimaksimalkan di semester I 2019.

“Jadi akan ada sedikit perlambatan di Q3 dan Q4,” kata Faisal kepada ­Media Indonesia. 

Sementara itu, Menko ­Perekonomian Darmin Nasution mengtakan pemerintah terus melakukan perundingan untuk memperlancar arus barang.  

Di lain pihak, Bank Indonesia (BI) memandang kinerja perekonomian Indonesia triwulan II 2019 tetap positif di tengah perlambatan ekonomi dunia. Ke depan, upaya mendorong permintaan domestik, termasuk investasi, perlu ditingkatkan untuk memitigasi dampak negatif perlambatan ekonomi dunia. (Pra/Aiw/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More