Minggu 04 Agustus 2019, 22:20 WIB

Ritual Panjang Penjaga Tradisi     

Widjajadi | Nusantara
Ritual Panjang Penjaga Tradisi     

MI/LILIEK DHARMAWAN
Ribuan pengunjung menyaksikan gelaran Dieng Culture Festival (DCF) ke-10 yang berlangsung di Dieng, Banjarnegara

 

RASA syukur itu dipanjatkan warga Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Tidak cukup satu hari, mereka menggelarnya selama tiga hari berturut-turut. 

“Panen tembakau kali ini, setidaknya menghasilkan 4 ton pada setiap hektarenya. Dengan harga minimal Rp9.000 per kilogram, hasil ini sangat pantas disyukuri,” ungkap Agus Sudarmo, petani ­tembakau Senden, Sabtu (3/8). 

Sebelum panen, warga ­Senden menggelar tradisi Tungguk Tembakau. Tungguk berarti memetik. Dijalankan rutin setiap tahun, tradisi itu sudah meluruh menjadi sebuah festival. 

Diawali dengan doa di ma-kam leluhur, warga menggelar kirab hasil bumi, berupa gunungan tembakau, sayuran dan makanan, keliling desa. Pesta diikuti warga dengan pakaian adat. 

Pesta adat ini juga sudah menjadi incaran kunjungan warga dari luar daerah. Tahun ini, artis Betran Antolin, ikut merasakan kesukariaan warga. 

“Saya bangga tradisi ini ­terus terjaga. Keguyuban warga tidak lekang di sini,” ujarnya. 

Meski tidak hadir, Gubernur Ganjar Pranowo menilai prosesi Tungguk Tembakau harus dilestarikan. “Warga berdoa agar hasil panen bagus. Ini tradisi baik menghormati Sang Pencipta.” 

Dari sisi wisata, Senden punya semua. Selain upacara dan kesenian, daerah ini juga berada di lereng tiga gunung, yakni Mer-babu, Merapi, dan Lawu. “Udara dan pemandang-annya sangat menawan,” tutur Ganjar. 

Upaya menguri-uri budaya ini diakui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali Darmanto, merupakan wujud dari nilai yang ditanamkan para leluhur, yakni gotong royong. “Bersyukur pada Allah, dan melestarikan budaya Jawa harus terus dilakukan. Warga Senden melakukannya dengan kesadaran dan tanpa putus,” jelasnya. 

Festival Dieng
Ritual adat tahunan juga di-gelar di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, kemarin. Sebanyak 11 anak berambut gimbal mengikuti prosesi potong rambut di Kompleks Candi Arjuna. 

Ritual itu merupakan puncak dari acara Dieng Culture Festival (DCF) 2019. Festival ke-10 yang berlangsung sejak Jumat hingga Minggu, juga menampilkan Festival Domba Batur, Jazz di Atas Awan, dan Senandung di Atas Awan. Selain itu, juga ada Festival Java Coffee, Dieng Bersih, dan sejumlah acara lain. 

Ribuan pengunjung datang, tidak hanya dari Banjarnegara dan daerah di Jawa Tengah, tapi juga dari luar Jawa, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. “Masyarakat harus terus menjaga budaya Dieng ini. Ritual ini mampu menyedot ribuan pengunjung,” kata Wakil Gubenur Taj Yasin. 

Ritual potong rambut gimbal diikuti 11 anak yang semuanya perempuan. Sebelum pemotongan rambut, anak-anak itu diperbolehkan meminta berbagai keinginan mereka, mulai dari es krim, sepeda, bahkan uang. Seluruh permintaan itu dipenuhi. 

Sabtu (3/8), masyarakat Kota Medan, Sumatra utara, juga membanjiri Festival Pesona Lokal. Salah satu kegiatannya ialah parade Karnaval Budaya yang diikuti 48 kelompok kesenian tradisional. 

Sebanyak 861 seniman menampilkan atraksi kekayaan budaya Sumatra. “Festival Pesona Lokal 2019 juga mengadakan lomba tari lokal kontemporer yang diikuti 12 kelompok, lomba desain motif khas lokal kontemporer dengan 30 peserta, dan kompetisi ala selebgram lokal yang bisa diikuti seluruh pengunjung,” papar Direktur Utama Adira Finance, Hafid Hadeli, yang mendukung acara itu. (LD/DG/YP/Ant/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More