Sabtu 03 Agustus 2019, 22:00 WIB

Energi Patah Hati Lord Didi

Ferdinand | Weekend
Energi Patah Hati Lord Didi

MI/SUMARYANTO BRONTO
Didi Kempot

BINTANG ketenaran musikus sekaligus penyanyi campursari, Didi Kempot, kembali bersinar. Julukan demi julukan pun disematkan padanya, mulai Godfather of Broken Heart, Bruno Mars-nya Indonesia, hingga yang paling baru Al Jarreau-nya Indonesia yang datang dari budayawan Djaduk Ferianto. Tak pelak, kesibukannya pun bertambah. Bukan hanya memenuhi tawaran manggung, melainkan juga meladeni permintaan wawancara awak media, termasuk Media Indonesia. Berikut perbincangan Didi Kempot dengan Wartawan Media Indonesia, Ferdinand, di Kota Surakarta, Selasa (30/7).

Anda tengah menjadi idola milenial dan mendapat berbagai julukan. Bagaimana Anda menyikapinya?
Saya awalnya juga enggak nyangka kalau akhirnya bisa seperti ini, tapi saya berkarya dari dulu. Hidup saya itu memang menulis lagu terus sampai sekarang, selama saya masih mampu untuk membuat lirik.
Dari ketekunan saya selama 30 tahun, akhirnya anak-anak muda yang jelas-jelas waktu saya bikin lagu pertama (Cidro, 1989) dan populer sampai saya keliling ke Suriname, Belanda, dan lain-lain, termasuk Asia yang juga belum lahir, kini bisa mengenal saya. Dari apa yang saya buat, ternyata Tuhan kasih berkahnya sekarang.
Anak-anak muda sangat kreatif ngasih julukan saya, itu kan kreativitas anak-anak muda zaman sekarang. Apalagi ada media sosial. Buat saya tidak merugikan. 

Selain karena dimotori penyiar radio Gofar Ilham melalui kanal Youtube-nya Ngobrol Bareng Musisi (Ngobam), mengapa menurut Anda gerakan fan base Lord Didi ini bisa viral?
Sebelum itu sudah ada julukan tersebut. Anak-anak Solo sudah buat itu, baru Gofar datang. Saat itu juga tidak disangka kalau yang datang antusias kayak gitu. Pikiran Gofar sendiri, mungkin diperkirakan cuma orang seratus gitu. Enggak tahunya di atas seribu, 1.500 lebih yang datang spontanitas. Di luar dugaan.

Gofar menyebut upayanya mengusung Anda sebagai salah satu bentuk tanggung jawabnya menjaga budaya. Pendapat Anda?
Ya, dengan kehadiran Gofar semakin lengket dengan apa yang saya perbuat, semuanya. Semakin orang mengenal Didi kempot. Dari awal sampai sekarang, semakin diperjelas Gofar di situ.

Menurut Anda, sosok Didi Kempot sebagai musikus dan musik campursarinya, apakah memang perlu dilihat sebagai budaya yang perlu dilestarikan? 
Sebagai pribadi seniman, saya akan tetap di jalur saya ini. Saya akan eksis di jalur Jawa ini. Saya sekarang sudah enggak muda lagi. Di saat umur saya sudah menginjak hampir 53 tahun, ada lampu cerah lagi semacam ini, luar biasa. Dan, itu lagu tradisional. Yang membuat saya heran, anak muda bisa mengenal itu, bisa mencintai itu, dan akhirnya bisa merasakan apa yang saya tulis itu.

Sudah berapa lagu yang Anda ciptakan?
Ada 700 sekian.

Dari 700 sekian lagu itu, lirik lagu apa yang paling berkesan?
Cidro. Itu pengalaman pribadi di saat saya masih mengamen. Manusia wajar kita normal menaksir cewek, tapi tidak kesampaian. Namun, saya justru mendapat berkah dari itu. Bisa dikenal di Eropa, di Suriname karena lagu Cidro.

Dengan adanya gerakan anak muda ini, Anda terpikir membuat karya-karya baru dengan sentuh­an musik kekinian, seperti emo dan dance?
Kayaknya di jalur ini saja, kemampuan kita di sini. Gusti Allah ngasih rezeki di sini.

Bagaimana Anda melihat perkembangan musik campursari sejauh ini?
Bagus, positif. Di dalam dunia musik semacam ini sekarang orang semakin gampang menikmati. Sambil duduk di mobil, di rumah, mau bangun tidur tengah malam juga bisa kenal dan dekat dengan kita.

Sekarang juga banyak bermunculan campursari dengan warna khas daerah masing-masing, seperti di Banyuwangi dan daerah-daerah Jawa Timur lain. Pendapat Anda?
Itu berarti berhasil lagu-lagu tradisional di setiap daerah dan konsumennya ada. Itu membuat kreativitas senimannya muncul semua dan itu bagus.

Namun, kan masih ada yang memandang sebelah mata musik campursari. Apakah ini jadi soal?
Itu boleh, wajar-wajar saja. Semua jenis musik apa pun pasti ada orang senang dan tidak. tapi nanti kalau sudah betul-betul mengenal campursari dan lagu-lagu tradisional yang ada di negara ini, mungkin akan sadar bahwa kita itu kaya raya dengan budaya-budaya yang sangat luar biasa.

Sejauh ini masih banyak pula yang mengidentikkan musik campursari sebagai cross genre dangdut dengan musik daerah dan juga berlirik jenaka?
Memang betul. Kita menyuguhkan apa yang ada di negara ini, kita rangkum di situ. Kita sampaikan dengan cara seniman-seniman campursari. Apa yang diperbuat teman-teman dan saya sendiri itu berhasil. Terbukti sekarang anak-anak muda akhirnya mau menerima. Itu yang membuat kita bangga.

Ada anggapan hal tersebut menyebabkan banyak yang kurang menyadari bahwa lagu-lagu musik ini juga banyak yang filosofis, misal, lagu Ojo Dipleroki karya Ki Narto Sabdo. Apa lagu-lagu campursari harus lebih banyak berfilosofi?
Setiap komposer atau pencipta lagu pasti punya gaya tulisan ma­sing-masing seperti wartawan pun kalau menulis atau mengambil foto pasti punya gaya sendiri.
Jadi, gayanya Mbah Gesang almarhum, Anjar Any, Bu Waljinah, Mas Manthous, Mbah Narto Sabdo, semacam itu dan saya semacam ini. Semua tujuannya baik, untuk ngasih hiburan kepada semua penikmat.

Anda sendiri lebih condong kepada lirik-lirik yang ngepop. Sejak kapan itu?
Dari awal saya sudah bermain semacam itu. Layang kangen, Sewu Kuto, dan sebelumnya ada lagu Cidro. Saya sudah gaya ngepop sejak 30 tahun yang lalu. Jadi, bukan sekarang saja. Dari awal sudah semacam itu dengan harapan supaya anak muda bisa menerima. Karena penikmat dulu zaman Bu Waljinah, Mas Mus Mulyadi, dan lain-lain, artis top Indonesia tradisional punya gaya masing-masing. Di saat itu saya membuat, aku semacam ini. Biar dapat pengakuan, ‘Oh ini gaya Didi Kempot’.

Momentum apakah yang bisa dimanfaatkan industri musik campursari maupun musisinya dengan adanya fenomena Lord Didi?
Terus berkarya dan harapan saya kepada musisi campursari, yang junior-junior, kreativitas ditunjukkan terus. Berkarya terus-menerus. Sejelek-jeleknya karya kita sendiri, kita bisa puas. Sebagus-bagusnya karya, kalau kita hanya meng-cover (karya orang), tidak ada artinya. Kalau kita punya karya sendiri itu bangga, minimal istri dan anak kita bisa bilang, itu lagu bapakku.

Menurut Anda, dapatkah musik campursari memainkan peran dalam menjaga keberagaman kita?
Bisa. Seandainya saya nyanyi di Banjarmasin, saya nyanyi lagu Pera­wan Kalimantan. Yang ceweknya nyanyi pakai bahasa Banjar. Jambu Alas, ceweknya nyanyi dengan bahasa Tarling. Itu sudah kita mulai. Itu termasuk mimpi saya juga, dan sudah saya jalankan, serta lagunya laku.

Ke depan akan terus melakukan upaya-upaya seperti itu?
Terus. Kalau ada yang bersedia, kita bareng-bareng. Kita mikir seni lewat apa yang kita bisa di daerah masing-masing. Kita satukan biar seperti slogan negara kita, NKRI lewat budaya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More