Sabtu 03 Agustus 2019, 08:40 WIB

BI Lakukan Tiga Intervensi Antisipasi Sikap Trump

Aiw/Ant/X-8 | Ekonomi
BI Lakukan Tiga Intervensi Antisipasi Sikap Trump

Brendan Smialowski / AFP
Presiden AS Donald Trump

 

BANK Indonesia memastikan sudah melakukan tiga intervensi (triple intervention) di pasar spot, pasar obligasi, dan domestik non-deliverable forward (DNDF/pasar berjangka valas) kemarin.

Langkah itu dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang tertekan setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump, terkait penaikan kembali tarif perdagangan dengan Tiongkok. Kamis (1/8), Trump mencuit di akun Twitter bahwa pihaknya akan memberlakukan tarif baru pada impor barang-barang Tiongkok.

Kebijakan itu disebut Trump sebagai upaya melindungi ekonomi AS dari risiko kebijakan perdagangan global. Dia mengatakan akan mengenakan tarif 10% pada US$300 miliar impor Tiongkok mulai 1 September 2019. Padahal, sebelumnya, AS sudah mengenakan tarif 25% pada US$250 miliar impor Tiongkok yang bertujuan untuk menekan ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Pernyataan Trump pun membuat tensi konflik berpengaruh pada perekonomian global. Di Indonesia, misalnya, nilai rupiah kemarin langsung melemah. Pada penutupan kemarin sore, nilai tukar rupiah melemah 64 poin menjadi 14.180 per dolar AS.

Untuk mengantisipasi dampak negatif dari sikap Trump, BI langsung bergerak. "Kami sudah intervensi di spot, pasar obligasi, dan DNDF," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, di Jakarta. Dia menyebutkan pelemahan rupiah ini hanya sementara karena sentimen pelaku pasar menyikapi pernyataan Presiden Trump.

Ekonom Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, menilai rencana Trump menerapkan tarif baru untuk barang-barang dari 'Negeri Tirai Bambu' merupakan strategi Amerika untuk menggertak Tiongkok agar segera mencapai kesepakatan bersama. "Itu strategi yang namanya gertak, mudah-mudahan Tiongkok mau cepat setuju," ucapnya.

Menurut Ari, baik Tiongkok maupun AS, sama-sama telah terkena dampak negatif dari perang dagang antarkeduanya selama ini. Pertumbuhan sektor manufaktur Tiongkok, umpamanya, telah mengalami penurunan. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi Indonesia, yakni pada sisi ekspor.

Namun, kondisi itu juga dapat memberikan dampak positif apabila Indonesia bertindak kreatif. Menurut dia, kesempatan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya di bidang manufaktur, bisa terbuka lebar akibat perang dagang. (Aiw/Ant/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More