Sabtu 03 Agustus 2019, 06:00 WIB

Hadapi Industri 4.0 RI Bisa Belajar dari Jepang

mediaindonesia | Ekonomi
 Hadapi Industri 4.0 RI Bisa Belajar dari Jepang

Dok. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
Rachmat Gobel, pada Dies Natalis Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Ke-31 di Surabaya, Jawa Timur.

 

INDONESIA dapat belajar dari Jepang dalam menyikapi dua fenomena yang tengah terjadi saat ini, revolusi industri keempat (industry 4.0) dan bonus demografi.

Dengan semangat Monozukuri, misalnya, Jepang berhasil menggenjot industrialisasi serta mulai membuat inovasi-inovasi unggul dan mencuat ke panggung dunia. Jepang pun lepas landas menjadi jajaran negara industri maju hingga sekarang.

Hal itu dikemukakan Duta Investasi Presiden RI untuk Jepang, Rachmat Gobel, pada Dies Natalis Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Ke-31 di Surabaya, Jawa Timur.

"Pasca-Perang Dunia II, Jepang meng-alami baby boom. Masyarakat di sana langsung menggelorakan semangat Monozukuri dan berhasil menjadi negara industri," paparnya.

Indonesia, sambung Rachmat, kini dihadapkan pada tantangan serupa yakni populasi usia produktif lebih banyak daripada usia nonproduktif. Indonesia diprediksi mengalami puncak bonus demografi pada 2030 mendatang.

"Kita juga melihat adanya kenaikan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Ini memberi dampak pada kenaikan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya tentu diikuti dengan peningkatan konsumsi," kata Rachmat.

Tantangan itu semakin besar karena saat ini perekonomian dunia sedang masuk revolusi industri keempat yang mengarah ke ekonomi digital. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari tumbuhnya transaksi perdagangan daring (e-commerce) yang sangat pesat.

Hal itu selaras dengan adanya pembangunan proyek infrastruktur secara masif oleh pemerintah, berupa peningkatan elektrifikasi, internet-tol langit (Palapa Ring, satelit, dan kabel optik yang menjangkau 34 provinsi, 440 kota/kabupaten, panjang kabel laut 35.280 km, dan kabel darat 21.807 km), maupun berbagai infrastruktur fisik lainnya.

Sejalan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dan penduduk, serta kenaikan jumlah masyarakat kelas menengah dan peningkatan target rasio elektrifikasi menjadi 100% pada 2025, dipastikan kebutuhan peralatan elektronik akan terus meningkat, baik yang medium and low technology maupun yang high techno-logy. (RO/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More