Kamis 01 Agustus 2019, 05:40 WIB

Separuh Dana Riset untuk Infrastruktur

(Pra/H-2) | Humaniora
 Separuh Dana Riset untuk Infrastruktur

ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ama/16
Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

 

TAHUN ini pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp35,7 triliun untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Namun, sebanyak 53% anggaran riset itu habis untuk belanja modal, sedangkan yang benar-benar untuk kegiatan litbang hanya 47%.

"Sebanyak 53% itu untuk infrastruktur riset karena selama ini memang tidak ada," sebut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, kemarin.

Jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya yang hanya Rp24,9 triliun, kata Menkeu, anggaran untuk riset itu naik signifikan. Selama ini sebagaian besar dana riset masih bertumpu pada APBN. Adapun peran swasta masih sangat kecil, hanya sekitar 10%.

Situasi itu berbanding terbalik dengan kondisi di negara maju yang pembiayaan risetnya didominasi pelaku usaha. Bahkan, angkanya bisa mencapai 70%.

Menurut Menkeu, upaya pelibatan swasta dalam pengadaan riset sudah dimunculkan 10 tahun lalu lewat beragam insentif. "Swasta bilang prosesnya berbelit. Terlalu banyak rambu-rambu. Akhirnya, 10 tahun berjalan tidak banyak dampak yang dihasilkan," tukasnya.

Pemerintah bertekad mengubah pandangan itu dengan memudahkan prosedur dan pemberian insentif pengurangan penghasilan bruto maksimal 300% untuk kegiatan litbang.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Teguh Dartanto, menyatakan, pertumbuhan ekonomi dan kegiatan litbang berkaitan erat. Jika ingin memiliki angka pertumbuhan ekonomi yang sehat, serunya, sebuah negara harus memiliki salah satu pendorong berupa investasi di bidang litbang.

Tiga negara teratas dengan dana riset terbesar ialah Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. Mereka mengalokasikan lebih 2% dari PDB untuk litbang, sedangkan Indonesia baru 0,25% dari PDB.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Vietnam 0,44% dari PDB, Thailand (0,78%), dan Malaysia (1,3%), Indonesia pun masih tertinggal. "Membangun iptek perlu proses panjang didukung SDM dan finansial yang mencukupi," cetusnya. (Pra/H-2)

Baca Juga

Ist/KLHK

Menteri LHK : Berkah Pandemi Covid-19, Jumlah Satwa Melahirkan

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 25 Mei 2020, 20:11 WIB
Bayi orang utan ini merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari induk Evi dan jantan Ipung diberi nama 'Fitri' oleh...
Antara/Nova Wahyudi

Cegah Penularan Covid-19, Kemenhub Perketat Pengawasan Arus Balik

👤Hilda Julaika 🕔Senin 25 Mei 2020, 20:01 WIB
“Pengawasan pada fase jelang Idul Fitri dan pada saat Idul Fitri sudah dilakukan dan berjalan dengan baik. Mulai hari ini kami akan...
MI/Ramdani

Tidak Hanya Pasien, Kesehatan Mental Tenaga Medis Juga Penting

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Senin 25 Mei 2020, 19:00 WIB
Seperti di RSD Wisma Atlet, jam kerja tenaga medis lebih panjang dibandingkan saat bertugas normal di rumah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya