Selasa 30 Juli 2019, 19:38 WIB

PM Inggris Desak Uni Eropa Terima Kesepakatan Baru Brexit

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
PM Inggris Desak Uni Eropa Terima Kesepakatan Baru Brexit

AFP/Duncan McGlynn
PM Inggris Boris Johnson bertemu dengan Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon

 

PERDANA Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, mendesak para pemimpin Uni Eropa untuk menghentikan sikap oposisi terkait negosiasi ulang kesepakatan Brexit. Apalagi nilai tukar poundsterling merosot di tengah kekhawatiran perceraian Inggris dari Uni Eropa (Brexit) tanpa kesepakatan.

Johnson yang resmi menjabat pekan lalu, ingin mengubah ketentuan Brexit yang dirumuskan pendahulunya, Theresa May.

Namun, dia bersikeras Inggris harus keluar dari Uni Eropa sampai batas waktu 31 Oktober, dengan atau tanpa kesepakatan Brexit.

"Perjanjian penarikan sudah selesai. Saya yakin kami akan meraih kesepakatan, tetapi kami juga siap jika tidak terjadi kesepakatan," kata Johnson kepada wartawan dalam kunjungan pertama ke Skotlandia, setelah menjabat sebagai PM Inggris.

Johnson bertemu dengan Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon, yang juga memimpin Partai Nasional Skotlandia pro-Uni Eropa. Sturgeon menduga Johnson diam-diam mengejar Brexit tanpa kesepakatan, yang dinilai berpotensi mendatangkan bencana.

Baca juga : Boris Johnson Bertemu Macron Bahas Posisi Inggris Di Brexit

"Di balik semua gertakan dan gangguan, ini adalah pemerintahan yang berbahaya. Pemerintah kali ini mengejar strategi (Brexit) tanpa kesepakatan, walaupun mereka menyangkal hal itu," cetus Sturgeon seusai pertemuan.

Sturgeon meyakini jika para pemimpin Uni Eropa mengubah penawarannya, maka strategi itu berujung kegagalan. Sejauh ini, Johnson diketahui belum berencana mengunjungi ibu kota Uni Eropa. Seorang juru bicara pemerintah mengindikasikan Johnson tidak akan pergi, sampai Brussels mengubah pendiriannya.

"Dia (Johnson) jelas ingin menemui para pemimpin Uni Eropa dan bernegosiasi. Sekaligus menekankan Uni Eropa sebaiknya tidak membuka kembali perjanjian penarikan," tutur juru bicara tersebut.

Nilai tukar poundsterling terpantau anjlok lebih dari 1% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan mencapai level terendah sejak Maret 2017.

Konfederasi Perindustrian Inggris (CBI) menyatakan investor membutuhkan pijakan darurat, seiring meningkatnya potensi Brexit tanpa kesepakatan.

Dalam sebuah laporan, CBI memperingatkan Inggris dan Uni Eropa kemungkinan besar tidak siap untuk Brexit tanpa kesepakatan. Mereka mendesak investor untuk menguatkan rencana darurat.

Baca juga : Boris Johnson Janji Tuntaskan Brexit

Di London, Sekretaris Perdagangan Internasional Inggris, Liz Truss, bertemu dengan Duta Besar AS untuk Inggris, Woody Johnson, guna membahas percepatan menuju kesepakatan perdagangan, begitu Inggris lepas dari Uni Eropa.

"Negosiasi dan penandatanganan perjanjian perdagangan bebas yang menarik adalah prioritas utama. Tidak ada yang lebih penting daripada kerja sama dengan AS," ujar Truss menyoroti peluang emas ke depan.

Institut Pemerintahan menegaskan Brexit tanpa kesepakatan akan mendominasi pemerintahan selama bertahun-tahun. Itu menyebabkan sedikit ruang untuk prioritas domestik, sebagaimana diutarakan Johnson, seperti sektor kesehatan, pendidikan dan transportasi.

Pada referendum 2016, 62% warga Skotlandia memilih Inggris tetap menjadi bagian Uni Eropa. Begitu juga dengan 56% warga Irlandia Utara.

PM Irlandia, Leo Varadkar, memandang Brexit tanpa kesepakatan akan membuat lebih banyak warga Irlandia Utara mendesak perpisahan dengan Inggris.(AFP/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More