Minggu 28 Juli 2019, 19:08 WIB

Kaligua Culture Festival, Mengenang Jejak Tanam Paksa di Brebes

Supardji Rasban | Nusantara
Kaligua Culture Festival, Mengenang Jejak Tanam Paksa di Brebes

Supardji Rasban
Kaligua Culture Festival (KCF) yang digelar pemerintah Brebes, Jawa Tengah yang digelar untuk mengenang sejarah.

 

SELAMA ini, Brebes dikenal sebagai daerah penghasil telur asin. Mungkin jarang yang tahu kalau salah satu wilayah di pesisir utara Jawa ini, adalah juga penghasil teh.

Di abad ke-19, tepatnya pada 1880, pemerintah kolonial Belanda mendirikan pabrik teh Kaligua. Nama ini mengacu pada wilayah tempat pabrik tersebut didirikan yang berada di ketinggian antara 1.500-2.050 meter di atas permukaan laut.

Untuk membangun pabrik tersebut, konon katanya pemerintah Belanda sampai harus mendatangkan ketel uap raksasa. Kala itu, warga setempat diperintahkan menggotong ketel tersebut ke lokasi kebun teh di wilayah yang berbukit.

Guna mengenang peristiwa bersejarah sebagai dampak kebijakan cultuurstelsel (tanam paksa) yang diterapkan pemerintah Belanda  tersebut, Pemerintah Kabupaten Brebes bekerjasama dengan PTPN IX Semarang, Jawa Tengah, menggelar Kaligua Culture Festival (KCF).

Rangkaian acara digelar di Agro Wisata Kaligua, di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes. Agro Wisata Kaligua merupakan kebun teh sekaligus pabrik teh di bawah naungan PTPN IX Semarang. Acara yang digelar pada Sabtu hingga Minggu (28/7) tersebut diisi antara lain dengan kirab dan napak tilas. Ratusan orang dilibatkan dalam kegiatan yang bertujuan mengenang sejarah alat uap atau ketel di pabrik pengolahan teh tersebut

Kirab dan napak tilas diikuti mayoritas warga Desa Pandansari. Mereka secara beriringan membawa replika ketel uap berukuran raksasa. Warga juga membawa gunungan hasil bumi. Sebelum kirab dan napak tilas dimulai diawali pementasan tari Ronggeng di Lapangan Kaligua. Sesaji dan gunungan kemudian diarak dibawa menuju ke lokasi pabrik.

Penggagas dan Penanggungjawab KCF, Dimas Indianto menuturkan kegiatan tersebut bertujuan untuk selalu mengingat sejarah di era kerja paksa zaman Belanda. Saat itu, kata Dimas, banyak  warga jadi korban untuk memindahkan alat ketel uap seberat 120 kilogram tersebut.

"Alat sebesar itu dipikul dengan menempuh jarak 12 kilometer dan memakan waktu sekitar 20 hari. Medannya selain menanjak juga banyak kelokan. Namun, warga harus patuh, guna mengikuti perintah Belanda waktu itu," terangnya.

Oleh Belanda, lanjut Dimas, warga yang terpaksa sebagai pekerja diberi suguhan tari ronggeng dan lainnya sebagai penyemangat. "Untuk menghibur masyarakat yang lelah, menyelenggarakan ronggeng untuk para pekerja. Semuanya memakan waktu 20 hari untuk satu alat dengan digotong bergantian," jelasnya.

Bupati Brebes, Idza Priyanti berharap kegiatan tersebut dapat melestarikan dan mengembangkan potensi di daerah. Idza menilai, selain sebagai sarana pengingat sejarah, KCF juga berpotensi dapat menjadi momen memajukan sektor pariwisata. "Semoga dapat menjadi event tahunan. Dapat memajukan pariwisata agar perekonomian masyarakat berkembang," ujar Idza. (A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More