Kamis 25 Juli 2019, 09:01 WIB

Krisis Air, Warga Renduwawo Cebok Pakai Batu dan Daun

Ignas Kunda | Nusantara
Krisis Air, Warga Renduwawo Cebok Pakai Batu dan Daun

MI/Ignas Kunda
Warga Kampung Kampung Wololuba, Desa Rendu Wawo harus berjalan kaki satu km untuk mencari air di embung.

 

MEMASUKI musim kemarau tahun ini, warga Kampung Wololuba, Desa Rendu Wawo, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, kesulitan air bersih. Kondisi ini membuat warga harus berjalan sejauh satu kilo meter untuk mengambil air di embung. Pada pagi dan sore hari, sejumlah ibu dan anak-anak perempuan dan laki-laki terlihat keluar kampung dengan menjinjing jeriken berukuran 5 liter untuk menimba air di embung dekat kampung. Beberapa ibu ada yang menggunakan bere (tempat penampung dari anyaman daun lontar dengan tali gantungan) untuk mengisi dua buah jeriken sehingga bisa memikul lebih.

Mereka harus menuruni jalan menukik melewati sabana menuju embung terdekat. Embung seluas kurang lebih 100 meter persegi menjadi sumber air utama buat warga untuk kebutuhan rumah tangga.

"Kami ambil air di sini (embung) pada pagi dan sore sejak April. Kami ambil untuk masak, minum kalau cuci kami langsung di sini. Kalau ke WC kami langsung ke hutan," kata Lusia Ea yang sedang menimba air di embung, Rabu (24/7).

"Bak di kampung banyak yang rusak tidak bisa tampung banyak lagi," sahut dua ibu Adelina Tei dan Yovita Owa bersamaan.

Kondisi air embung yang keruh tak dihiraukan para ibu dan anak-anak ini. Hewan ternak warga akan singgah dan minum sebentar di embung ini.  Beberapa anak biasanya akan langsung mandi atau mencuci muka saat menimba air di embung. Tiara siswi kelas 3 dan Dewi siswi kelas 5 sekolah dasar ini biasa membantu ibu mereka untuk menimba air di embung. Mereka sering terlambat ke sekolah apabila pagi hari harus menimba air di embung.

"Kami  pulang sekolah biasa bantu mama ambil air di sini, kalau pagi pasti terlambat ke sekolah," kata mereka berdua serempak.

Tenaga ekstra harus dikeluarkan oleh para ibu dan anak ini ketika pulang kembali ke kampung sambil memikul jeriken penuh berisi air. Beberapa ibu terlihat memikul hingga 3 jeriken. Satu jeriken ditaruh di tas kepala dan dua jeriken lainnya diisi dalam bere diletakkan pada bagian belakang tubuh dengan tali bere digantung pada bagian ubun-ubun. Anak-anak seumuran SD hanya mampu memikul satu jeriken. Ada yang ditaruh pada pundak dan ada yang menjinjing. Keluar dari embung dan berjalan sampai 30 meter, napas sudah mulai terengah-engah. Apalagi sampai kampung mereka, jalan semakin pelan karena kemiringan yang cukup tinggi.

Menurut Kepala desa Rendu Wawo, Teodorus Aru, 36 krisis air melanda seluruh desa yang berjumlah 852 jiwa. Ketika musim hujan warganya masih berharap pada air hujan dengan bak penampung air hujan, namun hanya bertahan satu bulan selepas hujan tak turun lagi. Air embung jauh dari standar kelayakan sehingga banyak anak di desa sering sakit-sakitan. Kekurangan air membuat kondisi sanitasi desa kurang diperhatikan. Beberapa kamar wc terlihat kering tak berisi air.

"Kamar wc kami bisa pakai hanya musim hujan tetapi ketika musim kemarau terpaksa masuk hutan untuk wc, terus kasih bersih (cebok) pakai batu atau daun-daun. Pikul untuk minum masak ke kampung saja susah apalagi untuk kamar wc, makanya bidan (petugas kesehatan) selalu marah karena air wc kosong," kata Teodorus.

Teodorus mengungkapkan kesulitan air sudah terjadi sejak ia masih kecil. Kebutuhan air untuk 44 kepala keluarga atau 209 jiwa di Kampung Wololuba hanya bergantung di embung yang hanya bertahan hingga Oktober. Bila air mulai mengering, warga harus menimba air di Sungai Wasa yang memakan waktu satu jam perjalanan.

"Daripada mati kehausan lebih baik pergi ambil air," timpal Agustina Wea, 32.

baca juga: BPBD Ajak Masyarakat Bali Tingkatkan Kewaspadaan Soal Gempa

Kondisi pada lima embung desa menurut kepala desa sudah sangat dangkal akibat material berupa tanah dan batu yang ikut terbawa masuk ketika musim penghujan. Sedangkan menurut Kepala BPBD Nagekeo, Bernabas Lambar pihaknya hingga kini belum mendapat laporan terkait krisis air bersih dari kepala desa. Soal penangan dampak kekeringan pihaknya kini hanya bisa menunggu bantuan provinsi karena minimnya anggaran di kabupaten. Dan  masih menunggu rapat perubahan anggaran untuk  pengajuan penanganan dampak kekeringan serta krisis air bersih.

"Kami belum bisa memberi kalau belum ada laporan atau permohonan dari mereka. Sampai sekarang belum ada krisis air bersih. Kalau skalanya kecil mungkin dengan dana yang ada kita bisa pakai seperti pengadaan air bersih dan bahan bakar," ujarnya. (OL-3)

 

 

Baca Juga

DOK MI

Karyawan Positif Korona, Pelayanan RSUD Cibabat Dihentikan

👤Depi Gunawan 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 01:23 WIB
Pegawai RSUD Cibabat yang positif diduga tertular dari luar wilayah rumah sakit. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil tracing atau...
MI/Lilik Darmawan

Ratusan Telur Penyu Ditemukan di Pantai Kusamba

👤Arnoldus Dhae 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 01:08 WIB
Oleh petugas, telur-telur penyu tersebut kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau kelompok penyelamat...
Ilustrasi

Potensi ZIS di DIY belum Dimaksimalkan

👤Agus Utantoro 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 00:53 WIB
Rendahnya penghimpunan ZIS ditengah besarnya potensi ini  disebabkan oleh kurangnya sosialisasi ke masyarakat dan tidak adanya aturan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya