Rabu 24 Juli 2019, 18:36 WIB

Terdakwa Korupsi Membujuk Hakim dengan Kesalehan

Melalusa Susthira K/Antara | Politik dan Hukum
Terdakwa Korupsi Membujuk Hakim dengan Kesalehan

MI/Adam Dwi
Terpidana kasus korupsi di Kementerian PUPR Anggiat Partunggul Nahot Simaremar (berdiri)

 

SEPENGGAL bait kidung rohani meluncur dari mulut Anggiat Partunggul Nahot Simaremar. Sembari mata terpejam dan terisak, ia berusaha menghayati lagu yang dipopulerkan penyanyi cilik Grezia Epiphania.

"Walaupun ku tak dapat melihat ku tak dapat mengerti semua rencanamu Tuhan, namun hatiku padamu, kau tuntun langkahku. Walau ku tak dapat berharap atas kenyataan hidupku. Namun hatiku tetap memandang padamu, kau ada untukku".

Anggiat tidak sedang khusyuk mengikuti kebaktian gereja, melainkan tengah duduk di kursi panas sebagai terdakwa kasus korupsi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (24/7).  Anggiat  menjadi terdakwa kasus dugaan suap proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Tahun Anggaran 2017-2018 di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Jaksa Penuntut Umum menduganya menerima suap Rp4,9 miliar dan USD5000 saat menjabat sebagai Kasatker Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Strategis, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR.

Baca juga: Agama, Kesalehan Ritual, dan Korupsi - Media Indonesia

Sebelum mengakhiri pledoinya dengan kidung rohani, Anggiat banyak mengumbar penyesalan di hadapan majelis hakim. "Seperti syair dalam lagu ini biarlah segala sesuatu yang membuat saya ketakutan dan kuatir, menjalani sisa hidupku dan hidup istriku sepenuhnya diserahkan ke dalam tangan kanan Tuhan. Tuhan memberkati kita semua," ujarnya sembari terisak.

Kasus ini, jelasnya, berdampak kepada kehidupan pribadi, keluarga bahkan rekan kerjanya. Ia meminta maaf kepada semua pihak, terutama keluarganya yang turut dirugikan atas kesalahannya.

"Tentu saja ini menjadi bentuk hukuman bagi saya. Terkait kasus operasi tangkap tangan bagi saya ini merupakan aib, bagi kementerian PUPR sebagai manusia yang lemah saya punya kesalahan dan bukan orang suci. Dan apa yang ada di diri saya ini, harusnya menjadi pelajaran untuk tidak melakukan hal yang serupa," ujar pria beracamata itu.

Anggiat berharap penyesalannya ini mampu membuka hati mejelis hakim mengganjarnya dengan vonis ringan. JPU menuntutnya 8 tahun penjara dan denda Rp400 juta.

"Istri saya sekarang hidup sendirian, padahal secara rutin harus berobat karena mengidap penyakit diabetes. Kemudian saya memiliki orang tua yang telah lanjut," tandansya.

Selain Anggiat, nuansa religiositas juga menyelimuti Donny Sofyan Arifin yang berstatus terdakwa untuk kasus yang sama. Sebelum menutup pledoinya, ia mengutip ayat suci Alquran dari surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6.

"Izinkan saya mengutip ayat suci Al Quran, Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6, bismillahirahmanirahim, Fainnama'al Usri Yusro, Inna ma'al Usri Yusron, artinya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesudah kesulitan itu ada kemudahan,"ujarnya sembari terbata-bata.

Mengutip pernyataan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Burhanuddin Muhtadi, religiositas masyarakat bukan faktor yang menentukan perilaku korupsi. Peran agama, jelasnya, memang terlihat, tapi baru sebatas memengaruhi sikap, belum sampai pada level perilaku antikorupsi. (OL-8)

 


 
 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More