Rabu 24 Juli 2019, 09:50 WIB

PM Inggris Baru Boris Johnson Mulai Membentuk Kabinet

Deri Dahuri | Internasional
PM Inggris Baru Boris Johnson Mulai Membentuk Kabinet

AFP/Niklas Halle'n
PM Inggris baru Boris Johnson meninggalkan markas Partai Konservativ di London, Inggris, Selasa (23/7).

 

Boris Johnson mulai memproses untuk membentuk pemerintah barunya setelah terpilih untuk menggantikan Theresa May sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris. .

Pemimpin baru dari Partai Konservatif itu mulai bekerja sebagai PM Inggris pada Rabu (24/7) setelah melakukan audensi dengan Ratu Inggris di Istana Buckingham. 

Setelah memasuki Downing Street atau Kantor PM Inggris, Boris Johnson diharapkan untuk mengumumkan siapa saja yang menempati pos penting termasuk menteri keuangan dan menteri dalam negeri.

Sejumlah sumber dekat dengan Johnson, mengatakan timnya yang dibentuk Johnson akan merefleksikan 'Inggris modern'.

Johnson diharapkan untuk menggunakan kesempatannya untuk meningkatkan jumlah menteri perempuan di kabinet. Tidak hanya itu, dia diharapkan turut mendorong adanya perwakilan dari etnis minoritas.

Dalam pemilihan calon PM untuk menggantikan Theresa May, Johnson meraih suara mayoritas dengan mengalahkan Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt. Johnson meraih 66.4% dari total suara.

Setelah terpilih menjadi PM, Johnson mengatakan dirinya akan memprioritaskan untuk menerapkan Brexit, mempersatukan negara, dan mengalahkan pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn.

 Sebagaimana pendahulunya, Johnson akan mewariskan mayoritas perlemennya untuk melanjutkan dukungan kepada  Democratic Unionists untuk memegang pemerintahan di Irlandia Utara.

Dalam kepemimpinannya, Johnson berjanji untuk merenegosiasi kegagalan kesepakatan Theresa May dengan Uni Eropa. Tapi tampaknya para pemimpin Uni Eropa tampak tidak menunjukkan keinginan yang besar untuk bernegosiasi lagi terkait sejumlah kompromi. (AFP/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More