Selasa 23 Juli 2019, 20:59 WIB

Kualitas Makanan Jemaah Haji Terjamin

Sitria Hamid dari Madinah | Humaniora
Kualitas Makanan Jemaah Haji Terjamin

ANTARA FOTO/Hanni Sofia
Sejumlah petugas menata makanan khas Indonesia untuk jamaah calon haji.

 

PEMERINTAH memastikan bahan baku untuk makanan jemaah haji Indonesia berasal dari bahan dengan kualitas terbaik. Bahkan, beberapa bahan baku seperti bumbu dan ikan berasal dari Indonesia.

Pengendali Teknis Pelayanan Luar Negeri PPIH Sri Ilham Lubis menyampaikan hal itu, saat melakukan kunjungan ke perusahaan katering Bahar Harr, satu dari 15 perusahaan katering yang disewa pemerintah di Madinah, kemarin.

"Kita mensyaratkan dalam kontrak dengan penyedia katering mereka harus menyiapkan bahan baku terbaik, termasuk beras, dll dengan standar yang terbaiknya, beras yang terkenal baik, pulen, sudah kita tentukan mereka harus gunakan yang baik," jelas Sri Ilham.

Menurut dia, proses memasaknyapun harus higienis dan tepat. Para petugas yang memasak menggunakan seragam, dan penggunaan bahan baku seperti ikan, daging, dan ayam dengan kualitas tinggi. Dia menyebutkan, bahwa ayam berasal dari Arab Saudi, daging dari Brasil dan ikan berasal dari Indonesia. Termasuk, bahan baku seperti bumbu-bumbu semua juga berasal dari Indonesia.

"Juru masak Indonesia, semua bahan baku (bumbu) Indonesia, tenaga kerja Indonesia," katanya.

Baca juga: Sebanyak 110 Calon Haji Sidoarjo Diberangkatkan

Dia menyebutkan, bahwa penggunaan bahan baku dari Indonesia merupakan salah satu peningkatan pelayanan konsumsi terhadap jemaah haji pada tahun ini.

"Yang sangat kita syukuri, produk yang digunakan baik bumbu masak, makanan dan kelengkapan makanan dan minuman dan juga ikan patin semuanya dari Indonesia. Kita merasa bangga, karena produk makanan Indonesia bisa dinikmati oleh jemaah haji pada tahun ini," jelasnya.

Sri Ilham menyebutkan, bahwa untuk packing makanan yang sudah dimasak, selanjutnya siap untuk diantar ke hotel-hotel jemaah menggunakan alat pemanas makanan, yang alatnya khusus didatangkan dari Jerman, dan diatur suhu panasnya 70 derajat celcius. Makanan dalam pemanas tersebut disimpan, hingga jemaah haji siap mengkonsumsinya.

"(Makanan) tetap dalam kondisi panas, walaupun jemaah mengkonsumsi tiga jam setelah tiba di hotel, tetap dalam kondisi hangat, lemari (pemanas makanan) juga fungsinya agar makanan bisa awet dan tahan lama, meski di dalamnya ada menu sayurnya," kata dia.

Bahkan, lanjut Sri Ilham, dalam boks makanan para jemaah haji juga dicantumkan petunjuk, bahwa menu itu adalah menu makan siang atau makan malam. Dan, disebutkan juga bahwa untuk makan siang hanya boleh dikonsumsinya hingga pukul 15.00 waktu Arab Saudi. Demikian juga untuk menu makan malam, disebutkan aturannya.

"Tidak boleh jemaah mengkonsumsinya melebihi waktu yang telah ditentukan, dalam boks juga ada nomor kontak call center dan kontak perusahaan bila terjadi masalah," jelasnya lagi.

Lebih lanjut, Sri Ilham Lubis menambahkan, di dalam menyusun menu, pihaknya juga sudah berkonsultasi dengan direktorat bina gizi Kementerian Kesehatan,yang menyatakan, bahwa menu yang diberikan kepada jemaah haji sudah memenuhi standar kecukupan gizi. Bahkan, dalam takaran sesuai, yang juga dicantumkan dalam kontrak dengan para pengusaha catering di Arab Saudi.

"Dalam kontrak dengan penyedia sudah mencantumkan nasi 200 gram, lauk 100 gram, sayuran 80 gram. Tidak boleh kurang, kalau kurang kita kasih teguran. Ini dalam rangka untuk menjamin kecukupan gizi untuk jemaah, dari sisi standarisasi, kualitas, dan ketepatan waktu," tegas Sri Ilham.(OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More