Selasa 23 Juli 2019, 18:35 WIB

4 Jam Operasi, Bayi Kembar Siam Adam-Malik Berhasil Dipisahkan

Yoseph Pencawan | Nusantara
4 Jam Operasi, Bayi Kembar Siam Adam-Malik Berhasil Dipisahkan

MI/Yoseph Pencawan
Operasi pemisahan bayi kembar Adam dan Malik.

 

SETELAH melakukan operasi selama sekitar empat jam akhirnya tim dokter Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan, berhasil memisahkan dua bayi kembar siam yang mengalami penyatuan perut.

Menurut Ketua Tim Dokter Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUPHAM), Prof. Guslihan SpA, kedua bayi berhasil dipisahkan tepat pada pukul 11.52 WIB, setelah sebelumnya menjalani operasi mulai sekitar pukul 08.00 WIB.

Baca juga: Bayi Kembar Siam Adam dan Malik Jalani Operasi Pemisahan

Secara garis besar, tindakan operasi terdiri dari dua tahapan, yakni pembedahan untuk pemisahan dan pembedahan lanjutan."Keberhasilan pemisahan bayi ini berkat kerja sama tim dokter yang baik dan didukung perlengkapan medis rumah sakit yang sangat lengkap," ujarnya kepada wartawan, Selasa (23/7).

Secara rinci, dia tuturkan, pembedahan lanjutan menjadi tahapan yang krusial karena menjadi bagian akhir dari proses pemisahan. Setelah terpisah, kedua bayi yang masing-masing diberi nama Adam dan Malik tersebut dibawa ke ruang operasi yang berbeda untuk dilakukan operasi lanjutan. Kemudian, Dokter Erjan Fikri menutup rongga perut bayi nomor 1 (Adam) dan Dokter Safruddin menutup rongga perut bayi kedua.

Sesudah dipastikan rongga dalam kedua bayi tidak ada yang cidera, dan dari hasil monitoring tim anastesi bahwa kondisi mereka stabil, proses penutupan rongga dilanjutkan oleh tim bedah plastik.

Tim bedah plastik sangat bertanggung jawab dalam penutupan kulit karena bila terjadi infeksi atau kulit tidak menyatu, maka akan menjadi masalah.

Dan setelah selesai operasi, kedua bayi yang berasal dari Desa Manalu Purba, Kecamatan Parmonangan, Tapanuli.Utara, diserahkan ke tim pediatrik intensife care untuk mempertahankan kestabilan kondisinya.

Utama Tarigan, Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUPHAM mengatakan, sampai tujuh bulan ke depan timnya akan terus memantau perkembangan kulit yang menutup dinding perut Adam dan Malik.

Untuk menutup dinding perut kedua bayi, timnya tidak memerlukan bahan tambahan, seperti bahan sintetis, tetapi masih memadai dengan menggunakan kulit si bayi sendiri.

"Namun dalam satu minggu ke depan kami baru bisa menilai apakah luka bekas operasi sudah tertutup dengan baik atau belum," ujarnya.

Terdapat empat orang dokter spesialis bedah plastik dari total 50 anggota tim dokter yang terlibat menangani pemisahan bayi kembar siam Adam dan Malik. Masing-masing dua dari mereka menangani satu bayi dalam proses pembedahan lanjutan.

Soejatharto, Dokter Spesialis Anastesi RSUPHAM mengungkapkan, sebelum melakukan pembedahan tim dokter sudah mengadakan beberapa kali pertemuan. Dan salah satu aspek yang paling banyak dibahas adalah masalah pembiusan.

Terkait dengan pembiusan, dalam menangani kasus ini dokter yang dilibatkan dari sub-divisi pediatrik khusus anak dan sub-divisi pembuluh darah (jantung). Ditambah dari sub-divisi lain untuk menghilangkan nyeri. "Dalam kasus ini, pembiusannya tidak sekaligus. Memang sempat agak kesulitan menegakkan pembuluh-pembuluh darah arterinya, tetapi Alhamdulillah bisa dilalui dengan baik," ujarnya.

Dr. Erjan Fikri SpBA menambahkan, sebelum melakukan tindakan pemisahan tim dokter sudah memeriksa dengan teliti dan membuat skenario pembedahan serapih mungkin. "Yang sempat menjadi tantangan sebelumnya adalah adanya pembuluh darah yang menyilang antara bayi satu dan bayi dua," kata dia

Menurut dokter radiologi, penyilangan terjadi di dalam hati dan ditafsirkan sebagai Vena Porta. Tim dokter pun sudah bersiap dengan berbagai instrumen penghenti pendarahan.

Namun ternyata, di bawah kulit bayi tim dokter menemukan pembuluh darah besar dari pusat ke hati (arteri umbilikalis). Setelah itu dokter mengikat dan memutusnya. "Alhamdulillah pendarahan dapat kami atasi. Kekhawatiran terhadap Vena Porta ternyata tidak begitu berarti," ujarnya.

Direktur Medik RSUPHAM, Zainal Safri, mengapresiasi kinerja tim dokter yang telah berhasil melakukan pemisahan Adam dan Malik. Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari upaya tim dokter yang sudah bekerja ekstra dalam dua bulan terakhir.

Bagi Rumah Sakit Adam Malik, keberhasilan ini merupakan salah satu sumbangsih bagi pelayanan terhadap masyarakat. Sekaligus menjadi semacam kado istimewa untuk Adam Malik yang baru saja memperingati Hari Jadi ke-26, dua hari lalu.

Dia mengungkapkan, hampir semua anggota tim dokter yang terlibat adalah para dokter sub-spesialis yang dimiliki RS Adam Malik. Dan tim ini sudah berpengalaman beberapa kali melakukan pemisahan bayi kembar.

Adapun si kecil Adam dan Malik merupakan anak ketiga dan keempat dari pasangan Juliadi Silitonga, 29, dan Nurida Sihombing, 28. Kedua bayi memang mendapat perlindungan pembiayaan dari BPJS Kesehatan, tetapi karena tidak cukup, RS Adam Malik membantu lebih dari separuh kebutuhan biaya.

Baca juga:

Bantuan diberikan karena sebagai penderes karet, Juliadi tidak memiliki kemampuan untuk menutup seluruh biaya yang dibutuhkan. Apalagi sejak 27 November 2018 lalu kedua bayi sudah menjalani perawatan di RS Adam Malik, lima hari setelah dilahirkan di RSUD Subolga "Kami mengucapkan terima kasih buat semua pihak yang sudah berbelas kasihan. Semoga anak-anak ini menjadi orang baik setelah besar," ujar Juliadi.

Dia memastikan baru akan membawa kedua anaknya kembali ke kampung setelah mendapatkan izin dari tim dokter. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More