Selasa 23 Juli 2019, 05:20 WIB

Mendag Intip Celah Pasar Nontradisional

Andhika Prasetyo andhika@mediaindonesia.com | Ekonomi
 Mendag Intip Celah Pasar Nontradisional

ANTARA /M. IRFAN ILMIE
PUSAT PROMOSI: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kedua dari kanan) beserta jajaran KJRI Shanghai menggunting pita

 

KEMENTERIAN Perdagangan menggencarkan perjanjian dagang dan ekonomi dengan pasar nontradisional di luar negeri sebagai upaya mencari pasar baru guna meningkatkan ekspor.

"Kami membuka pasar baru dan menyelesaikan perjanjian perdagangan. Tanpa itu, kita tidak mungkin bisa bersaing," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Shanghai, Tiongkok, kemarin.

Menurut Enggar, defisit neraca perdagangan yang terjadi saat ini harus disiasati dengan melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pasar.

"Intensifikasi dilakukan atas produk yang ada, itu kita tingkatkan, sedangkan ekstensifikasi, kita buka pasar-pasar baru. Tujuannya ialah meningkatkan ekspor," ujar Enggar.

Hingga 2020, Mendag menargetkan sejumlah perjanjian perdagangan dapat dirampungkan. Beberapa perjanjian dagang yang telah selesai, yakni Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-The European Free Trade Association (EFTA) CEPA, dan General Review Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (GR-IJEPA).

Sementara itu, lanjut Mendag, perundingan perjanjian yang masih berlangsung ialah (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), yang terdiri dari 16 negara dan menaungi 50% penduduk di dunia.

"RCEP ini perjanjian perdagangan bebas regional terbesar dan harus selesai," ujar Mendag.

Selain itu, Mendag juga membidik penyelesaian perjanjian kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan, Mozambik, Tunisia, Uni Eropa, Eurasia, Mesir, Pakistan, Bangladesh, dan Mercosur, Argentina.

"Untuk Mozambik, paling tidak kami tanda tangani Agustus ini," ujarnya.

Pusat promosi

Di Shanghai, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga meresmikan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang merupakan pusat promosi Tanah Air pertama di Tiongkok.

Keberadaan ITPC di 'Negeri Tirai Bambu' itu merupakan hal yang sangat penting, mengingat Tiongkok merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia.

Sepanjang semester pertama tahun ini, nilai ekspor ke Tiongkok tercatat sebesar US$11,4 miliar, atau memegang porsi 15,36% dari seluruh total perdagangan luar negeri Indonesia.

Sayangnya, angka tersebut masih lebih rendah dari capaian periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai US$12,31 miliar.

"Jadi kita semua ingin ITPC ini bukan sekadar lembaga pemerintah, melainkan juga sebagai agen promosi bisnis dan produk-produk asal Tanah Air," ujar Enggar.

Ia pun meminta seluruh petugas di ITPC Shanghai dapat menjembatani para pelaku usaha dari kedua negara sehingga terjalin komunikasi yang lebih intens ke depannya.

"Jika ada persoalan, bisa dikomunikasikan dengan kami di Jakarta sehingga bisa segera diselesaikan dalam rangka peningkatan ekspor," ungkapnya.

Setelah membuka kantor pusat promosi di Shanghai, Enggartiasto berkeinginan untuk kembali membuka beberapa perwakilan di provinsi-provinsi lain di negara tersebut.

"Minimal sekali harus ada lagi di Guangzhou," ucapnya.

Shanghai dan Guangzhou merupakan dua kota yang menjadi pusat bisnis di Tiongkok. (Ant/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More