Senin 22 Juli 2019, 11:15 WIB

Tol Trans Jawa Bisa Pacu Pariwisata

Ferdinand | Nusantara
Tol Trans Jawa Bisa Pacu Pariwisata

MI/Ferdinand
Salah satu oleh-oleh khas di Saung Angklung Udjo, Kota Bandung, Jawa Barat yang disukai wisatawan.

 

PEMBANGUNAN jalan tol menjadi salah satu program pembangunan paling masif dalam Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kehadiran jalan bebas hambatan diproyeksikan meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat. Salah satu sektor yang paling merasakan manisnya adalah pariwisata. Kehadiran jalan tol dapat meningkatkan jumlah wisatawan.

Akan tetapi, belum semua daerah memiliki kapasitas memadai untuk memetik manfaat tersebut. Kelemahan itu disadari betul oleh Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, hingga memutuskan mengirim duta untuk belajar ke Kota Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Perjalanan panjang menggunakan kereta api dengan waktu tempuh kurang lebih sembilan jam itu dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Humas dan Protokol, Heri Purwoko. Kunjungan selama tiga hari itu juga mengajak serta para jurnalis, termasuk Media Indonesia.

Kota Bandung menjadi pilihan lantaran memiliki kesamaan dengan Kota Surakarta. Kota berjuluk Paris van Java ini juga tidak memiliki banyak destinasi wisata alam. Dan, yang paling penting Bandung dan Surakarta sama-sama dilalui jalan tol. Bandung dilewati tol Cipularang, sementara Surakarta dilalui tol Trans Jawa.

Bedanya, Kota Bandung telah merasakan manisnya kehadiran tol Cipularang yang sekarang terkoneksi dengan tol Trans Jawa. Sejak dioperasikan sekitar 2005 silam, kunjungan wisatawan ke kota itu meningkat tajam. Sementara, Kota Surakarta baru memulai.

"Kami akan mempelajari inovasi yang telah dilakukan Pemerintah Kota Bandung dalam memanfaatkan jalan tol untuk menggaet wisatawan. Baik wisata budaya, sejarah, kuliner dan belanja," kata Heri.

Ungkapan bernada pujian yang dilontarkan Heri itu tidak berlebihan. Sejumlah destinasi wisata yang kami kunjungi semuanya ramai oleh wisatawan. Mulai dari destinasi wisata berbasis seni budaya sampai kuliner dan belanja.

Rasa lelah dan penasaran yang membuncah di dada kami akhirnya terobati di gedung Bandung Creative Hub (BCH). Kepala Bidang Kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Nanang Sodikin menyambut kami dengan tangan terbuka. Ditemani oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Indra, Nanang dengan suka cita membagi resep keberhasilan mereka.

Nanang menuturkan, dulu sebelum ada tol Cipularang kunjungan wisatawan ke Bandung tidak sebanyak sekarang ini. Kendala utamanya adalah waktu tempuh yang lama.

Ia mencontohkan perjalanan Jakarta-Bandung atau sebaliknya melalui jalur darat. Dulu sebelum ada tol waktu tempuhnya sekitar 5 jam, melalui jalan berkelok dan naik turun pegunungan. Tapi, setelah ada jalan tol cukup ditempuh 1,5 jam-2 jam dengan kendaraan pribadi.

"Bahkan, sebelum 2017 banyak warga Jakarta cuma makan siang di Bandung lalu kembali lagi ke Jakarta," katanya.

Akses yang kian terbuka itu dibidik dengan baik oleh Pemerintah Kota Bandung. Berbagai inovasi dan kreasi untuk menggaet wisatawan pun dilakukan. Termasuk menciptakan destinasi wisata baru, seperti Pasir Kunci, teras Cibiru, dan Museum Sejarah Kota Bandung. Keberhasilan itu juga tidak terlepas dari peran pelaku industri pariwisata. Melalui paket-paket perjalanan wisata, mereka menyatukan potensi Kota bandung dengan kabupaten lain disekitarnya dan merasakan berkah atas bumi Pasundan bersama-sama.

"Bandung tidak punya laut, gunung, dan danau. Bandung hanyalah kota di cekungan. Tapi, dari sektor wisata bisa menyumbang 32,9% dari total PAD Rp2,9 triliun," kata Nanang.

Nanang mengatakan, ada tiga hal penting untuk menjadi destinasi wisata. Yaitu, amenitas atau fasilitas, atraksi dengan memanfaatkan seni budaya, dan aksesibilitas.

"Untuk promosi kami banyak memanfaatkan media sosial. Disamping juga bekerja sama dengan pihak Jasa Marga, agen travel dan komunitas," imbuh Indra.

Trik lainnya adalah menyiapkan tim percepatan khusus untuk menangani wisatawan yang datang. Promosi tanpa tim tidak akan terukur kinerja dan hasilnya.

Aksesibilitas dengan kehadiran tol Trans Jawa telah dimiliki Kota Surakarta. Waktu tempuh yang semakin singkat menuju Kota Surakarta baik dari arah Barat maupun Timur merupakan peluang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

baca juga: Hutan Gunung Panderman Terbakar

Demikian pula fasilitas pendukung dan atraksi berbasis seni dan budaya. Hanya tinggal diberikan sentuhan yang lebih serius dan didukung promosi yang lebih gencar. Ilmu dan resep sudah didapat. Sekarang tinggal menunggu langkah lebih lanjut dari Pemerintah Kota Surakarta untuk meramunya menjadi sebuah kebijakan yang tepat. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More