Senin 22 Juli 2019, 10:54 WIB

Partai Koalisi Shizo Abe Menangi Pemilihan untuk Majelis Tinggi

Ihfa Firdausya | Internasional
Partai Koalisi Shizo Abe Menangi Pemilihan untuk Majelis Tinggi

Kazuhiro NOGI / AFP
PM Jepang Shinzo Abe (kanan) dan Sekjen LDP Toshihiro Nikai menempelkan (kiri) bunga kertas pada nama calon anggota parlemen.

 

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengklaim kemenangan untuk koalisinya dalam pemilihan anggota perlemen untuk majelis tinggi, Minggu (21/7). Namun, Abe tampaknya gagal mengamankan 'mayoritas super' di majelis itu sebagai upaya mewujudkan mimpinya mengubah undang-undang Pasifik yang menjadi Jepang hanya sebagai negara yang mempertahankan diri dari serangan luar.

Di sisi lain, hasil tersebut akan menopang Abe dalam menjalankan mandatnya perihal kenaikan pajak konsumsi yang penting di akhir tahun ini. Ia juga menyiapkan negosiasi perdagangan dengan Washington.

"Partai-partai yang berkuasa diberi mayoritas karena rakyat mendesak kami mendorong kebijakan di bawah basis politik yang stabil," kata Abe kepada penyiar NHK. "Saya ingin memenuhi harapan mereka dengan baik," imbuhnya.

Partai Demokratik Liberal (LDP) pimpinan Abe dan mitra koalisinya Komeito diperkirakan akan memperoleh setidaknya 69 dari 124 kursi. Sekitar setengah kursi di majelis tinggi.

Kedua pihak menguasai 70 kursi dari 245 kursi majelis yang tidak diperebutkan. Ini menempatkan mereka di jalur mempertahankan mayoritas secara keseluruhan. Proyeksi NHK dan perkiraan serupa oleh media lain didasarkan pada polling keluar dan analisis lainnya.

"Hasilnya, yang sesuai dengan harapan, mengindikasikan bahwa pemilih memilih status quo, bukan perubahan," ujar Shinichi Nishikawa, profesor ilmu politik di Universitas Meiji Tokyo kepada AFP.

Abe hampir pasti akan tetap berkuasa hingga November. Ia akan memecahkan rekor perdana menteri terlama di negara itu yang sebelumnya dipegang Taro Katsura. Taro adalah politisi terhormat yang mengabdi sebanyak tiga kali antara 1901 dan 1913.

Sementara itu, media lokal Jepang meramalkan LDP pimpinan Abe yang mendukung revisi konstitusi akan gagal mencapai 85 kursi atau dua per tiga mayoritas di majelis.

Setelah pemungutan suara, Abe mengatakan akan terus berusaha memperluas dukungan untuk revisi konstitusi. Bahkan jika kelompok pro-revisi akhirnya melewati target yang diperlukan untuk mengusulkan amandemen konstitusi.

Abe telah berjanji untuk menetapkan peran Pasukan Bela Diri dalam konstitusi. Hal itu akan melarang Jepang mengobarkan perang dan mempertahankan militer.

Ketentuan-ketentuan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat setelah Perang Dunia II itu sangat populer di kalangan masyarakat luas. Namun, hal tersebut dicerca oleh kaum nasionalis seperti Abe yang menganggapnya usang.

Di sisi lain, setiap revisi konstitusi juga memerlukan persetujuan dalam referendum nasional.

Sementara itu, koalisi yang berkuasa tampaknya memenangkan kepercayaan pemilih. "Situasi sulit masih di depan," kata Koji Nakakita, profesor politik di Universitas Hitotsubashi di Tokyo.

Di antara tugas-tugasnya yang akan segera dilakukan adalah menaikkan pajak konsumsi menjadi 10 persen pada Oktober. Hal tersebut sebagai bagian dari upaya meringankan pembengkakan biaya jaminan sosial di negara "usia lanjut" ini, kata Nakakita.

"Saya mendukung pemerintah saat ini karena saya tidak melihat (adanya) alternatif," kata Yoshiko Iida, seorang terapis kecantikan berusia 45 tahun.

Berbeda dengan Yoshiko, seorang pria pensiunan berusia 85 tahun, Susumu Rokkaku mengatakan, "Saya memilih kandidat oposisi tetapi siapa pun yang terpilih, tidak ada yang akan berubah. Saya tidak punya harapan." (AFP/*/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More