Senin 22 Juli 2019, 07:20 WIB

Koalisi Abe Berpeluang Meraih Suara Mayoritas

mediaindonesia | Internasional
 Koalisi Abe Berpeluang Meraih Suara Mayoritas

(Photo by Kazuhiro NOGI / AFP)
Perdana Menteri Jepang dan presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, Shinzo Abe

 

WARGA Jepang memberikan suara dalam pemilihan majelis tinggi pada Minggu (21/7) ini. Blok penguasa dari sisi Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe, berupaya mempertahankan suara mayoritas dengan tetap mengusung rencana perubahan konstitusi pasifis.

Abe, pria berusia 64 tahun, yang menjadi pemimpin terlama Jepang, juga berharap hasil pemilihan dapat menopang mandatnya jelang kenaikan pajak konsumsi akhir tahun ini. Bersamaan dengan perundingan konflik dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Jajak pendapat menunjukkan Partai Liberal Demokratik (LDP) dan mitra koalisinya, Komeito, memiliki peluang menang lebih besar.

Pemungutan suara pada Minggu ini bertujuan mengisi setengah kursi Dewan Anggota, majelis tinggi parlemen yang kurang berpengaruh.

"Saya mendukung pemerintah saat ini karena tidak melihat alternatif yang potensial. Sejumlah partai oposisi terlihat menyedihkan. Saya tidak ingin menyerahkan kekuasaan kepada mereka," ujar Yoshiko Iida.

Berbeda dengan Susumu Rokkaku, pensiunan berusia 85 tahun, memilih kandidat oposisi.

"Siapa pun yang terpilih, tetap saja tidak ada perubahan. Saya tidak punya harapan," tukasnya.

Survei prapemilihan menyebut koalisi pengusung Abe diyakini akan memenangkan mayoritas kursi dari total 124 kursi yang diperebutkan.

"Sebagian besar kekuatan Abe berlandaskan dukungan pasif, yang ditimbulkan kekacauan pada kubu posisi dan minimnya saingan," tutur profesor ilmu politik Universitas Meiji, Shinichi Nishikawa.

Jika menang, Abe dapat berkuasa sampai November ketika dirinya memecahkan rekor jabatan PM Jepang terlama yang sebelumnya dipegang Taro Katsura. (AFP/Tes/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More