Minggu 21 Juli 2019, 08:00 WIB

Juli, Krisis Air Meningkat

Alexander Taum | Nusantara
Juli, Krisis Air Meningkat

MI/Liliek Dharmawan
BPBD Banyumas, Jawa Tengah menyuplai kebutuhan air bersih di Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas.

 

DISTRIBUSI air masih menjadi langkah tercepat guna menyelamatkan warga yang sudah mengalami krisis air bersih. Dana ratusan juta pun digelontorkan untuk aksi itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah DI ­Yogyakarta Biwara Yuswantana juga mengungkapkan jumlah air bersih yang harus didistribusikan terus bertambah. “Jika dibanding Juni, bulan ini kami pastikan jumlah air yang harus dikirim ke daerah terdampak akan bertambah.”

Selama Juni, pihaknya men­dis­tribusikan 200 tangki air di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, daerah paling terdampak kekeringan. Untuk Juli, sampai pertengahan bulan sudah 124 tangki air yang dikirim.

Kenaikan permintaan juga berlaku untuk kecamatan lain di kabupaten ini, yakni di Rongkop, Purwosari, Panggang, Tepus, dan Paliyan. ­Kondisi itu memperlihatkan bahwa daerah terdampak bencana kekering­an terus meluas.

“Kondisi musim kemarau pada ­tahun ini lebih kering dari tahun lalu. Kami harus melakukan antisipasi sehingga kebutuhan air bersih ­masyarakat tetap terpenuhi,” tandasnya.

Distribusi air bersih tidak hanya dilakukan pemerintah daerah. Di Bima, Nusa Tenggara Barat, kepolisian resor juga harus melakukannya.

“Kami sudah mengirim air bersih untuk warga Dusun Ndano Ndere, Desa Bajo. Krisis air sudah terjadi di wilayah ini dan warga harus berjalan 4 kilometer untuk mendapatkan air bersih,” kata Kapolres Bima Ajun Komisaris Besar Bagus S Wibowo.

Pertolongan juga datang untuk warga dari dua dukuh di Desa ­Harjasari, Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Mereka mendapat kiriman air bersih dari Lembaga ­Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap.

“Aksi Cepat Tanggap sudah mendistribusikan air bersih ke Gunungkidul, Tasikmalaya, Semarang, Karangasem, Pamekasan, Sukabumi, dan Pacitan,” tutur anggota ACT Jawa Tengah, Giyanto.

Tanpa bantuan
Tidak seperti warga di Pulau Jawa, bantuan air bersih tidak pernah menga­lir ke Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur. Krisis air bersih terjadi di daerah ini setiap musim kemarau.

“Mata air yang ada di desa kami debit­ airnya terus mengecil. Pada musim kemarau ini, kami hanya mendapat kucuran air dua kali dalam seming­gu karena harus berbagi dengan warga dari desa lain,” kata Yosevina Benga Walen, 56, warga Desa Sandosi, Witihama, Kabupaten Flores Timur.

Ketika air mengalir, satu keluarga hanya kebagian satu ember untuk air minum. Untuk kebutuhan lain, mereka harus membeli.
Komandan Kodim Flores Timur Letkol Inf Komang Agus mengaku pihaknya masih memetakan potensi dan tingkat kerawanan akibat keke­ringan.

“Anggota TNI akan segera diterjunkan ke wilayah terdampak untuk membantu warga.”

Dari Aceh Tamiang, sekitar 80 hektare tanaman padi di Desa ­Tanjung Mancang, Kecamatan Kejuruan Muda, mengalami puso. Tanah sawah sudah terbelah sehingga padi tidak bisa tumbuh baik.

“Umur padi sudah berusia satu bulan hingga dua bulan. Seharusnya sekarang saat paling membutuhkan air supaya pertumbuhannya tidak terganggu,” kata Ikhwan, petani.

Dinas pertanian setempat belum terlihat melakukan upaya untuk membantu warga.
“Kami butuh pompa air. Seharusnya dinas ­pertanian bisa meminjamkannya untuk petani,” lanjut Ikhwan. (FB/MR/AU/YR/JI/Ant/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More