Minggu 21 Juli 2019, 02:55 WIB

Rekonsiliasi

Ono Sarwono | Weekend
Rekonsiliasi

MI
Ilustrasi

REKONSILIASI keturunan Prabu Tremboko dengan putra Pandudewanata (Pandawa) terwujud ketika Arimbi resmi diterima Bratasena sebagai istrinya. Namun, fakta politik kemudian berubah (bermusuhan) setelah Brajadenta (anak Tremboko) terhasut Sengkuni dari Astina.

Pertikaian mereka kembali berkobar hingga terjadilah peperangan. Akibatnya, bukan hanya para elite Pringgondani yang menjadi korban tewas, melainkan juga sebagian besar rakyat.

Inilah risiko ketika rekonsiliasi tidak dilandasi keikhlasan untuk kepentingan yang lebih besar. Namun, pada akhirnya rekonsiliasi Pandawa (Amarta) dengan Pringgondani terpatri setelah ada pihak-pihak yang tulus ikhlas bekerja keras demi persatuan dan kesatuan

Jalani laku prihatin
Alkisah, Raja Astina Prabu Pandudewanata berteman sangat akrab dengan Raja Pringgondani Prabu Tremboko. Saking eratnya, hubungan mereka sudah seperti keluarga sendiri. Tremboko menempatkan diri sebagai adik karena dari berbagai aspek, ia merasa kalah awu (kalah wibawa) jika dibandingkan dengan Pandu.

Harmonisnya hubungan Pandu-Tremboko membawa konsekuensi hingga ke tingkat bawah, rakyat. Warga kedua negara hidup rukun, saling menghormati dan menghargai. Pringgondani pun seperti telah menjadi negara bagian Astina yang tidak terpisahkan.

Namun, tiba-tiba persaudaraan Pandu dengan Tremboko retak, dan kemudian menjadi pertikaian setelah keduanya diadu domba oleh Tri Gantalpati yang kelak kemudian hari kondang bernama Sengkuni. Puncaknya, terjadilah baku bunuh antarkeduanya hingga mereka sama-sama gugur.

Pascapeperangan Pandu-Tremboko, yang dalam seni pedalangan dikenal dengan sebutan Perang Pamukswa, menyisakan permusuhan antara anak-anak mereka. Putra tertua Tremboko, Arimba, menggantikan kedudukan bapaknya menjadi Raja Pringgondani, sedangkan takhta Astina dirampas Duryudana (Kurawa). Anak-anak Pandu terusir dari Astina.   
 Pandawa meninggalkan tempat kelahirannya, istana Astina, setelah lolos dari pembunuhan, pembakaran hidup-hidup, yang dilakukan Kurawa atas inisiatif Sengkuni yang sekaligus sebagai komandan lapangan. Aksi bengis ini tersua dalam lakon Bale Sigala-gala.

Bersama Kunti, ibunda, Pandawa Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten, hidup ngulandara, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Masuk keluar hutan naik gunung turun jurang. Pandawa menjalaninya dengan ikhlas dan dilandasi niat laku prihatin.

Dalam pengembaraannya, Pandawa tidak kehilangan watak kesatrianya, di antaranya dengan memberikan bantuan dan pertolongan kepada siapa saja yang diperlakukan tidak adil, atau yang sedang mengahadapi masalah. Seperti demang Ijrapa yang sedang terancam jiwanya jika tidak bisa memberikan makanan ‘pesanan’ rajanya, Prabu Baka. Pesanan itu adalah makanan pokok yang berwujud daging manusia.

Bratasena yang dijadikan menu untuk disantap Baka, akhirnya justru menghabisi hidup raja kanibal berwujud raksasa tersebut. Sirnanya Baka mengembalikan ketenteraman hidup Ijrapa dan keluarganya di Dusun Giripurwa serta rakyat Negara Ekacakra.

Brajadenta memberontak
Pandawa melanjutkan laku ke hutan Waranawata dan mesanggrah (tinggal sementara) di belantara tersebut. Pada suatu ketika, datanglah perempuan berwajah buta (raksasa) menemui mereka. Perempuan itu mengaku bernama Arimbi dari Negara Pringgondani.

Arimbi mengatakan keluar masuk desa dan hutan mencari kesatria Pandawa yang bernama Bratasena. Di depan Kunti, Arimbi tanpa tedheng aling-aling (blak-blakan) menyatakan dirinya sedang jatuh hati dan ingin menjadi istrinya.

Sebelumnya, Arimbi meminta sang kakak, Arimba, mencarikan Bratasena yang sering hadir dalam mimpi-mimpinya. Ia mengaku tidak bisa hidup tanpa Bratasena. Namun, Arimba menolak menurutinya karena Bratasena ialah musuh, anak Pandu yang membunuh orangtuanya (Tremboko).  

Awalnya, Bratasena emoh menerima cinta Arimbi karena merasa jijik. Kunti, yang tahu ketulusan cinta Arimbi, lalu memberi solusi. Berbekal ilmu yang ia dapat dari resi Druwasa, Kunti mampu mengubah Arimbi menjadi cantik jelita. Bratasena akhirnya bersedia menyunting Arimbi.

Arimba marah besar mendengar pernikahan adiknya dengan Bratasena. Sulung putra Tremboko ini menolak dan tetap memandang Bratasena dan saudaranya (Pandawa) sebagai musuh yang harus disirnakan. Singkat cerita terjadilah peperangan dan Arimba tewas di tangan Bratasena.

Setelah Arimba mati, hubungan semua keturunan prabu Tremboko yang tersisa dengan Pandawa terjalin baik. Bahkan, terjadi rekonsiliasi dan sepakat membangun masa depan Pringgondani dan Pandawa yang gemilang.
Mendiang Tremboko, yang beristri Hamdimba, menurunkan delapan anak, yakni Arimba, Arimbi, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, Prabakesa, dan Kalabendana.

Seiring berjalannya waktu, cinta kasih Bratasena-Arimbi membuahkan seorang putra yang diberina nama Tetuka, yang kemudian kondang bernama Gathotkaca. Dewasanya, atas kesepatan keluarga Tremboko, Gathotkaca dijadikan raja di Pringgondani. Sang paman, Brajadenta, bersedia diangkat sebagai patih.

Namun, menjelang Gathotkaca diwisuda, Brajadenta membatalkan kesiapannya menjadi orang kedua di Pringgondani. Ia tegaskan, takhta Pringgondani hak mutlak anak-anak Tremboko. Karena itu, Gathotkaca tidak berhak, dan malah mesti disirnakan karena keturunan musuh. Terungkap, sikap mengeras Brajadenta ini akibat hasutan Sengkuni.

Langkah Brajadenta yang mbalela (memberontak) ini ditentang oleh adik-adiknya. Namun, tekadnya sudah bulat. Ia menegaskan siapa saja keluarga Tremboko yang tidak menyetujuinya, dijadikan musuh.  

Butuh pengorbanan
Maka, terjadilah peperangan sesama trah (anak keturunan) Tremboko. Pada akhirnya, dengan bantuan Brajamusti, Gathotkaca mampu membinasakan Brajadenta. Kedua pamannya itu mati bersama-sama dan menjelma menjadi ilmu kesaktian yang kemudian bersemayam di kedua telapak tangan Gathotkaca.

Di bawah kepemimpinan Gathotkaca, hubungan Pringgondani dengan Pandawa (Amarta) terjalin harmonis. Terjadi rekonsiliasi utuh hingga sampai akar rumput. Bahkan, ketika pecah perang Bharatayuda, Pringgondani mendukung penuh Pandawa melawan Kurawa yang menguasai Astina secara inkonstitusional.

Poin kisah ini ialah rekonsiliasi tidak akan terwujud bila tidak ada ketulusan, keikhlasan, dan atau masih ada ego serta dendam. Rekonsiliasi memang membutuhkan pengorbanan, yakni pengorbanan yang lebih besar, bagi bangsa dan negara. (M-2)

 

 

 

 

 

Baca Juga

CDC

Varian Terbaru Virus Korona Dominasi Infeksi Global

👤Abdillah Marzuqi 🕔Jumat 10 Juli 2020, 20:50 WIB
Varian tersebut diduga tidak membuat pasien lebih sakit dibanding virus...
Unsplash/ Lauren Fleischman

New Normal di Bisnis Penyewaan Busana

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 10 Juli 2020, 19:30 WIB
Busana yang disewakan kini juga...
Dok. EMPC 2020

Kompetisi untuk Para Produser Musik Elektronik Kembali Digelar

👤Fathurrozak 🕔Jumat 10 Juli 2020, 17:15 WIB
Tahun ini EMPC menggandeng label asal Belanda, Barong...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya