Minggu 21 Juli 2019, 01:15 WIB

Piknik di Kilometer 21

(Eno/M-2) | Weekend
Piknik di  Kilometer 21

MI/RETNO HEMAWATI
Makan siang di sebuah tempat yang sungguh indah di pinggir sungai. Para pejabat dan staf Pemkot Mahakam Ulu

PERJALANAN akhirnya meng­antarkan kami, peserta misi Heart of Borneo, tiba di Ujoh Bilang. Ujoh Bilang ialah salah satu kampung di Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Kampung ini juga merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Mahakam Ulu.

Kami disambut dengan ­sangat baik oleh Wakil Bupati Kabupaten Mahakam Ulu, Y Juan Jenau di tempat pertemuan yang merupakan aula Gereja Santo Petrus Ujoh ­Bilang. Di sini kami dijamu dengan tarian penyambut tamu dan kudapan yang tidak kalah lezatnya.

Sehari setelah tiba di Ujoh Bilang, kami semua menuju suatu tempat bernama Kilometer 21 di Kampung Batu Majang, masih di kecamatan serupa. Perjalanan ini ditempuh selama satu jam dari kota dengan menggunakan kendaraan double cabin dengan kapasitas mesin besar.

Di penyeberangan Long Bagun telah menanti feri. Mereka mengangkut kendaraan bermotor dan juga manusia. Gratis untuk manusia, sedangkan untuk mobil, dikenai ongkos Rp100 ribu, dan motor Rp20 ribu. Penyeberangan ini hanya berlangsung sekitar 10 menit, ­idak termasuk waktu pemuatan. Setelah itu perjalanan mulai penuh perjuangan karena melewati perkebunan dan sungai kecil dengan medan naik-turun nan licin.

Sampai di tempat tujuan, kami dijamu piknik makan siang di sebuah tempat yang sungguh indah. Terpal telah terhampar di pinggir sungai. Para pejabat dan staf Pemkot Mahakam Ulu juga telah berkumpul di tempat ini.

Yang laki-laki sebagian besar berenang di sungai sekaligus menjala ikan, sedangkan yang perempuan menyiapkan makanan dengan cara meracik bumbu, membersihkan ikan yang baru saja ditangkap, dan memasaknya. Ada pula yang memanfaatkan air bersih sungai untuk mencuci kendaraan.

Keasrian dan keaslian tempat ini masih sangat terjaga. Apa yang ada di depan mata, hamparan sungai nan jernih beserta ikan yang hidup di dalamnya. Kilometer 21 yang merupakan salah satu dari anak Sungai Mahakam juga berlimpah ikan dengan bera­gam jenis, antara lain pulutan, jelawat, kendia, kalibere, ikan mas, lais, belida, repang, maser, salap, bagarius, baung, dan patin. Namun, kami tak hanya disajikan ikan. Ada pula ayam bakar terhidang.

Sambil menunggu masakan matang, kami pun berkeliling. Mengudap biji pohon daun salam yang warnanya merah merona. Berasa manis tetapi beraroma sesedap daunnya. Unik.

Istri Wakil Bupati, Martina Luaq Juan, akhirnya mengajak kami berkumpul setelah makanan siap terhidang. ­Seperti liwetan ala Sunda, kami duduk berjajar memanjang dan menikmati hasil tangkapan.

“Kami sering ke sini saat ­waktu luang, atau saya juga mengajak teman-teman berkebun saat libur tiba sebagai alternatif,” tutur Wabub Y Juan Jenau.

Seusai makan, sampah tersisa dikumpulkan dan dibakar. Tidak lupa kami membeli hasil bumi dari penduduk setempat untuk oleh-oleh berupa sekantong penuh aneka sayuran segar yang ditawarkan menjelang kami pulang, tepat beberapa menit sebelum senja tiba. (Eno/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More