Minggu 21 Juli 2019, 00:25 WIB

Energi Kreatif dari Titik Temu

(Zuq/M-4) | Weekend
Energi Kreatif dari Titik Temu

MI/ABDILLAH M MARZUQI
Pameran Lukisan bertajuk The State of the art in Mount Elizabeth journey yang ­dihelat di Hotel Rafles Jakarta, Rabu (10/7).

Lukisan berukuran besar itu tampak mencolok mata. Apalagi ditempatkan pada sisi ujung yang agak terpisah dengan lukisan lain. Mudah dilihat dari sisi mana pun. Setidaknya setiap yang hadir bisa dengan mudah menandai lukisan itu sebagai yang istimewa.

Latar nuansa gelap menjadi ­penguat dari beberapa figur mencolok dengan warna yang tidak ­terlalu menghujam mata. Terdapat tiga bagian yang tersebar di ­beberapa bagian kanvas. Setiap bagian punya dua figur. Begitulah salah satu lukisan yang dipamerkan dalam tajuk The State of the art in Mount Elizabeth journey yang ­dihelat di Hotel Rafles Jakarta, Rabu (10/7).

Pameran itu memang istimewa, selain diadakan dalam rangka memperingati 40 tahun perjalanan Rumah Sakit Mount Elizabeth juga diselenggarakan lelang lukisan berjudul Meeting of Culture (2019) karya I Ketut Budiana. Hasil lelang bakal didonasikan.

Meeting of Culture ialah salah satu karya yang menapaskan semangat tersebut. Melalui karya itu, Ketut Budiana mengambarkan bahwa pertemuan budaya yang tak bisa dihindari. Ia menegaskan itu dengan mengambil simbol budaya budaya Bali dan Tiongkok.

Ketut Budiana ialah maestro kontemporer lukisan asal Bali. Ia menjalankan tradisi teknis dan ­estetis sambil menambahkan unsur modernitas serta pesan filosofis. Ia memperbarui tradisi Bali sambil tetap setia kepadanya.

Kisah cinta raja
Baginya, hubungan antara Bali dan Tiongkok ialah bagian dari pergerak­an alami. Ia menunjukkan dalam sapuan warna hingga membentuk kesan gelombang. Pertemuan Bali dan Tiongkok juga dilambangkan dalam kisah cinta antara raja Bali dan istrinya yang Tionghoa. Cinta mereka tetap hidup dalam kisah Jero Gede dan Jero Luh.

Bagian atas kanan lukisan terdapat figur lingga-yoni atau yang disebut pradana-purusa dalam bahasa Bali. Keduanya ditampilkan dalam sosok mengerikan, yakni putih dan merah. Warna itu pula yang dikaitkan dengan kama bang dan merah kama petak atau sperma dan sel telur.

“Mustahil untuk menghindari dua hal yang berlawanan yang kita sebut Rwa Bhineda, siang-malam, cahaya-gelap, bahagia-sedih, pria-wanita, surga-bumi.

Dua hal yang berlawanan ialah refleksi saya untuk mencipta karya seni. Saya mencoba menemukan titik pertemuan keduanya dan menjadikannya kekuatan kreatif untuk dituangkan dalam berbagai media, seperti kanvas, kertas, kayu, atau batu dalam lukisan, patung, topeng, atau apa pun yang menggunakan teknik,” terang Ketut.

Ketut Budiana ialah seniman yang sudah banyak melakukan unjuk karya di luar negeri. Ia telah mencatatkan nama di Eropa, Australia, India, dan Jepang. Ia juga menerima banyak penghargaan nasional dan internasional, salah satunya ialah One of the 100 Best Collection of Fukuoka Art Museum, Jepang. (Zuq/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More