Minggu 21 Juli 2019, 00:00 WIB

Belajar Sejarah dari Pengarsipan

Tosiani | Weekend
Belajar Sejarah dari Pengarsipan

MI/TOSIANI
Memopulerkan musikalisasi puisi karya

MINGGU (14/7) siang, ruang pamer Gedung Aksara di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, masih lengang. Melalui pintu dan dinding kaca terlihat foto-foto, catatan pada kertas, dan kaus dari arsip lama grup musik duo AriReda.

Grup musik ini dikenal sebagai bentukan dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), dan aktif memopulerkan musikalisasi puisi karya sejumlah sastrawan kondang, seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad.

Ada perasaan sedih mendalam menyeruak ketika pertama ­memasuki ruangan pameran arsip. Ada pula tangis yang tertahan dengan rasa sakit di sela kerongkongan. Alunan musik terdengar lirih dari video di layar sebelah kanan pintu masuk mengiringi suara Reda bernyanyi. Tidak terlalu terdengar liriknya, konon ia melagukan puisi.

Sementara itu, si empunya arsip s­ekaligus vokalis Ari Malibu dan Reda Gaudiamo, yakni Reda ­Gaudiamo, berdiri di tengah ­ruangan. Dia sembari melihat ke arah tempelan foto-fotonya bersama Ari Malibu di dinding. Meski mengenakan gaun merah dan mengesankan tampilan ceria, tetap tak mampu menutupi gurat kesedihan di wajahnya.

Rasa sedih ketika melihat berbagai dokumen masa lalu dari grup musik AriReda itu juga dialami pengunjung pameran bersama Dewi. Ia juga tidak menyangka, salah seorang personelnya sudah tidak ada. “­Rasanya sedih, saya tidak menyangka salah satu anggota Ari Reda sudah meninggal,” tutur Dewi.

Dari sisi kiri pintu masuk memutar hingga kanan terlihat jelas perjalanan awal AriReda terbentuk pada 36 tahun silam, hingga akhir perjalanan grup ini di 2018 lantaran ditinggal salah satu personelnya bernama Ari. Ia meninggal lantaran kanker esofagus atau kanker ­kerongkongan pada tahun lalu.

Pameran ini, diceritakan Reda, memiliki banyak makna. Ini merupakan momen peringatan satu tahun meninggalnya Ari sekaligus mengenang dan menandai 36 tahun perjalanan musik dan ­persahabatan AriReda, juga mengiringi acara launching album baru bertajuk Perjalanan. Ini berisi delapan lagu yang merupakan musikalisasi puisi karya Todung Mulya Lubis.

“Waktu puasa kemarin saya bertemu Felix, manajernya AriReda, kami ingin membuat sesuatu dengan setahun meninggalnya Ari. Tadinya kami mau merilis satu ­album perjalanan, itu album yang terakhir kami buat bersama ­almarhum, puisi-puisinya Todung Mulya Lubis.

Tapi rilisnya pakai acara apa ya? Masa cuma rilis-rilis gitu aja. Kepikir buat konser, tapi kayaknya mencari tempat dan lain lain, bisa sih diusahakan, dan kayaknya bukan hal yang sulit juga, tapi rasanya ­sangat biasa. Terus tiba-tiba kepikir bikin pameran perjalanan 36 tahun AriReda. Karena album ini adalah album yang menutup perjalanan kami,” tutur Reda, Minggu (14/7).

Album puisi Todung dibuat era 1960 akhir sampai 1970 awal. Ketika itu Todung masih penyair muda. Beberapa puisi-puisinya bercerita pandangannya pada kehidupan.

Seperti perjalanan dan jadilah yang memberi orang motivasi. Ada puisi yang berisi doa dan tentang cinta. Satu saat sejarah menunjuk­an ­Todung mencatat peristiwa-­peristiwa yang berkaitan dengan negara. Puisi ­ranjang bercerita tentang kerinduan.

Tidak harus konser
Ketika itu, Reda berpikir, seperti­nya menarik kalau membuat sesuatu yang berbeda. Baginya, peluncuran album tidak harus konser, tidak harus pertunjukan. Kebetulan Felix sangat tertarik pada pengarsipan.

Dia merasa pendokumentasian arsip terhadap kegiatan musik itu penting. Jadi tidak sekedar foto-foto yang membuat orang belajar. Reda juga memiliki foto-foto jaman lama. Felix lantas menghubungi Adinda Simanjuntak dari Aksara dan dia tertarik untuk ikut serta pada pameran ini. Lalu, mereka mendapat bantuan dari Dirjen Kebudayaan Hilman Farid.

Album ini dibuat pada maret 2018 di Yogyakarta, dan kebetulan Todung Mulya Lubis mempercayakan puisinya untuk dibuat musikalisasi puisi oleh Ari Reda. Album ini berisi delapan lagu puisi, yakni Ranjang, Perjalanan, Jadilah, Sepi, Suatu saat Sejarah, Doa, Sajak Cinta, dan Selesai.

“Kami buat lagunya, yang buat Ari dan saya saja, direkam dalam waktu tiga hari sekaligus kami juga melengkapi album yang berisi musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono, itu ada 24 lagu kami rekam ulang. Itu masih belum keluar. Jadi waktu Maret itu kami menyelesaikan dua proyek,”kata Reda.

Pameran arsip ini berisi foto memorabilia, historiografi, ­kliping, dan arsip-arsip yang lama dari awal Reda dan Ari, artwork yang secara khusus dibuat seniman muda bernama Ruth Marbun. Juga ada lagu dari puisi-puisinya Gunawan Muhammad, ada kaus-kaus yang dibuat di belakang panggung, semua ada dalam packaging album.

Sewaktu menyiapkan pameran ini, dirasakan Reda, tidaklah mudah. Setelah 36 tahun bersama Ari, ia terbebani dengan begitu banyak kenangan bersama yang acap kali membuat ia meneteskan air mata, terutama saat memilah foto-foto yang akan dipajang di pameran. Ia menjadi teringat kembali momentum saat main bersama, konser, dan aktif dalam kegiatan.

“Ada emosi dan rasa yang terbawa. Sebenarnya proses terberat­nya ketika memilih foto. Setelah memutuskan oke kita pameran, saat itu emosi dan perasaan campur aduk, itu rasanya berat, ketika memilih itu sempat sambil menangis dan ­marah-marah. Saya bilang, ‘­berengsek lo Ri, kenapa sih harus pergi. Jadi ya orang boleh merencanakan tapi nasib berkata lain,” ungkap Reda.

Mengenang Ari
Menyanyi, bagi Reda bukan hal sulit karena ia jebolan grup padu­an suara. Namun, rasa grogi tetap membayanginya di awal-awal bernyanyi. Reda tidak pernah berpikir grup Ari Reda akan bertahan lama. Baik Ari maupun Reda memiliki karakter unik yang sulit menyatu.

Hal itu membuat Ari dan Reda lelah, sehingga tiap kali seusai bernyanyi, ia selalu berpikir itu menjadi yang terakhir menyanyi dengan Ari sebagai pemusik. Karena berpikir itu akan berakhir, Reda pun ­mengumpulkan, menyimpan semua foto dan file yang ada untuk kenangan.

“Saya tidak pernah berpikir akan nyanyi bersama dia selamanya karena Ari orang yang sangat sulit, seperti misalnya saat ngajarin nyanyi, dia maksa saya melatih suara dari nada rendah ke tinggi, padahal suara saya rendah. Buat Ari, saya itu melelahkan. Sementara itu, buat saya, dia itu ngeselin banget,” tutur Reda.

Kendati tidak pernah ingin menjadi seniman, bagi Reda, menyanyi sangat menyenangkan. Hal itu ia lakukan di sela waktu bekerja di sebuah majalah yang sangat melelahkan. Bagi Reda, bernyanyi seperti untuk ia bisa bernapas di sela rutinitasnya, sedangkan Ari ialah orang idealis yang amat serius menekuni hidup dengan bermusik. Namun demikian, grup AriReda diakui Reda seperti hidup enggan, mati tak mau. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More