Sabtu 20 Juli 2019, 08:10 WIB

Kekeringan Berlanjut Krisis Air Dimulai

Ferdinandus Rabu | Nusantara
Kekeringan Berlanjut Krisis Air Dimulai

MI/Palce Amalo
Saluran drainase di Persawahan Oepoi, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

FENOMENA kekeringan yang meluas di berbagai wilayah Tanah Air berlanjut dengan gejala kekurangan dan krisis air bersih yang mulai terjadi di ­sejumlah daerah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa ­Tenggara Timur (NTT), misalnya, mencatat kekeringan yang me­luas di wilayah itu menyebabkan sebagian besar kecamatan di Kabupaten Flores Timur (Flotim) mengalami krisis air bersih akibat menurunnya debit air pada sejumlah mata air.

Sekretaris Daerah Kabupaten Flotim sekaligus Kepala BPBD, Paulus Igo Geroda, kemarin, mengakui hanya tiga kecamatan yang tidak mengalami krisis air di wilayah itu. Sebaliknya 16 kecamatan masuk peta kerawanan kekeringan yang berdampak pada krisis air bersih.

“Kami memetakan potensi ­kerawanan kekeringan yang berkaitan dengan krisis air bersih. Dari 19 kecamatan yang ada di Flotim, hanya tiga yang tidak mengalami krisis air, yaitu Kecamatan Adonara Barat, Kecamatan Wulanggitang, dan Kecamatan Solor Barat. Tiga kecamatan itu memiliki sumber air di permukaan yang dapat mengalir ke desa-desa mereka, sedangkan 16 kecamatan lainnya masuk peta kerawanan kekeringan yang berdampak pada krisis air bersih,” tegas Paulus.

Gejala yang sama dilaporkan juga mulai melanda belasan desa di Kabupaten Sumba Timur, NTT. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumba Timur, Martina D Jera, mengakui ada 15 desa di wilayah itu yang mulai mengalami krisis air bersih.

“Sementara ini ada 15 desa yang tersebar di enam kecamatan yang mulai mengalami kesulitan air bersih,” kata Martina, kemarin.   

Mengenai penanganan, dia mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini pihaknya mulai menyalurkan air bersih ke desa-desa yang mengalami kesulitan air bersih dengan menggunakan mobil tangki.  

Di Jawa Barat, sejumlah warga di dua kecamatan di Kabupaten Garut, yaitu Caringin dan Leles, kesulitan mendapatkan air bersih. Hal itu pun sudah banyak dilaporkan masyarakat ke BPBD Garut. Warga berharap pemkab segera mendistribusikan air untuk kebutuhan rumah tangga warga.   

“Ada dua kecamatan, Caringin dan Leles. Untuk Leles sudah ada dikirim air dari dinas sosial,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut, Dadi Djakaria, kemarin.

Pengiriman
Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kondisi kekeringan terparah berlangsung di wilayah lereng Gunung Merapi, terutama di Kecamatan Kemalang dan Jatinom. BPBD Klaten pun dilaporkan terus menggiatkan pengiriman bantuan air bersih ke wilayah yang dilanda kekeringan akibat kemarau tersebut.

Kondisi kekeringan terparah di wilayah Kecamatan Jatinom antara lain di Desa Bandungan, Beteng, Temuireng, dan Socokangsi. Di Kecamatan Kemalang, kekeringan tersebar di empat desa, yaitu Kendalsari, Tegalmulyo, Sidorejo, dan Desa Balerante.

Dari Provinsi Aceh dilaporkan, ­akibat kekeringan, sekitar 80 hektare tanaman padi di Desa Tanjung ­Mancang, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, terancam gagal panen. Pada tanah sawah di wilayah itu dilaporkan sudah ada bercak-bercak yang menyebabkan pertumbuhan tanaman padi terganggu. Bahkan, sebagian di antaranya sudah mulai mengu­ning.

Di Jawa Timur, meskipun keke­ringan melanda sejumlah wilayah, produksi padi di provinsi itu hingga akhir 2019 diprediksi masih surplus 3,2 juta ton. Kepala Dinas Pertanian Jatim Hadi Sulistyo di Surabaya, kemarin, mengatakan kemarau panjang di wilayahnya tahun ini diprediksi mencapai puncak pada Agustus. (JS/MR/FL/Ant/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More