Sabtu 20 Juli 2019, 05:25 WIB

Hati-hati Video Deepfakes

Rizky Noor Alam | Teknologi
Hati-hati Video Deepfakes

Dok.
Deepfakes

BELAKANGAN tengah ramai diperbincangkan mengenai sebuah teknologi anyar bernama deepfakes. Teknologi tersebut memungkinkan penggunaan wajah seseorang untuk disematkan kepada tubuh orang lain, dalam sebuah konten video.

Sayangnya, teknologi yang memanfaatkan artificial intelligence (AI) itu mulai banyak disalahgunakan, misalnya, menggunakan wajah seseorang dalam sebuah video porno atau bahkan dalam video tokoh masyarakat yang tengah memberi pernyataan hingga menimbulkan kesalahpahaman publik.

Maraknya penyalahgunaan deepfakes tersebut tentunya banyak membuat khawatir banyak figur publik, termasuk para Youtuber yang belakangan menjadi profesi idaman banyak orang di seluruh dunia.

Bahkan, menurut informasi yang Media Indonesia kutip dari CNET, Kamis (11/7), maraknya video hasil dari deepfakes menjadi salah satu fokus isu dalam acara tahunan Vidcon. Vidcon ialah sebuah acara perayaan video digital dan online kreator terbesar di dunia yang tahun ini dihelat di California, Amerika Serikat, selama 10-13 Juli lalu.

Dengan jumlah pengunjung sekitar 75 ribu orang dengan berbagai latar belakang usia, hal pertama dalam agenda Vidcon ialah presentasi tentang risiko deepfakes sebagai bagian dari industri yang berkembang.

“Pada dasarnya saya berpikir bahwa video sintetis semacam ini akan semakin penting untuk video online,” kata CEO Vidcon, Jim Louderback.

Manipulasi komputer terhadap video sebenarnya telah ada selama beberapa dekade, tetapi deepfakes merupakan pemalsuan video yang mampu membuat orang tampak melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan atau katakan. Video pun dihasilkan secara otomatis dengan teknologi kecerdasan buatan.

Kemajuan pesat dalam teknologi deepfakes telah membuat cuplikan-cuplikan video yang telah diolah menjadi lebih mudah dibuat dan sulit dideteksi. Hal tersebut telah membuat deepfakes sebagai alat yang efektif untuk menyebarkan informasi yang salah sehingga teknologi tersebut akan semakin membuka peluang ancaman di masa depan.

Salah satu deepfakes yang menarik atensi para pegiat dunia keamanan ialah video manipulasi senator AS, Nancy Pelosi, pasca­pertemuannya dengan Presiden AS, Donald Trump. Belakangan, video yang sempat viral itu dihapus Youtube.

Sementara itu, petinggi Instagram, Adam Mosseri, mengatakan platform berbagi foto itu masih mencari cara bagaimana mengatasi video deepfakes. “Kami tidak memiliki kebijakan terhadap deepfakes saat ini,” kata Mosseri kepada co-host CBS This Morning, Gayle King, seperti dilansir CNN. “Kami sedang mencoba mengevaluasi jika kami ingin melakukan itu dan jika demikian, bagaimana Anda akan mendefinisikan deepfakes.”

Menolak percaya

Namun, menurut Direktur Program Witness, sebuah organisasi HAM, Sam Gregory salah satu aspek yang paling merusak pada deepfakes saat ini bukanlah sekadar penyebaran informasi yang salah. Sebaliknya, deepfakes juga dapat membuat orang menjadi lebih berpegangan dalam gagasan bahwa apa pun yang mereka tidak ingin percayai ialah palsu.

“Para kreator memiliki peran yang sangat kuat. Mereka dapat mendorong retorika, demistifikasi dan menjelaskan apa yang terjadi. Dan menawarkan kepada orang-orang hal-hal praktis yang dapat mereka lakukan dalam hal literasi media,” kata Gregory.

Gregory pun menambahkan bahwa algoritme yang digunakan deepfakes dapat dengan cepat beradaptasi dengan kekurangan yang dimilikinya. Misalnya, pola kedipan mata dalam video deepfakes yang selama ini digunakan sebagai salah satu trik untuk mendeteksi sebuah video deepfakes.

Dirinya pun berpesan kepada orang-orang yang be­kerja di perusahaan-perusahaan yang mungkin dapat memviralkan deepfakes agar mereka perlu mencari tahu bagaimana mengidentifikasi apa yang disebut media sintetis dan bagaimana menghindarinya agar tak menjadi bumerang di kemudian hari.

Meskipun kekhawatiran tentang deepfakes condong ke arah apokaliptik, sebagian besar video deepfakes yang terlihat publik hari ini dapat diakses dari platform-platform besar, seperti Youtube, Reddit, atau Facebook. Misalnya, meme wajah aktor Nicholas Cage yang tiba-tiba menjadi bintang dalam film yang tidak diperankannya seperti Indiana Jones ataupun serial Friends.

“Ada peluang nyata untuk menghadapi hal ini yang menurut saya sebelumnya para platform tidak berhasil dalam membendung gelombang misinformasi,” imbuh Gregory. (Riz/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More