Sabtu 20 Juli 2019, 01:20 WIB

Reproduksi Indonesia Sehat

Budi Wiweko Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) | Opini
Reproduksi Indonesia Sehat

Thinkstock
Ilustrasi

DEFINISI World Health Organization (WHO) tentang kesehatan reproduksi jelas menyatakan bahwa seorang individu dinyatakan sehat bila organ dan fungsi reproduksinya baik. Secara tersurat hal ini menjelaskan pentingnya suatu pasangan untuk mendapatkan keturunan.

Kesehatan reproduksi menggambarkan siklus kehidupan yang dimulai sejak jabang bayi di dalam rahim sang ibu hingga dilahirkan, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, lanjut usia, dan kemudian meninggal dunia.

David Barker pada 2002 telah menuliskan hipotesisnya bahwa the first nine month shape the rest of your life. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila semua negara berlomba-lomba untuk menyiapkan generasi penerusnya melalui pembangunan kesehatan reproduksi.

Angka kematian ibu dan angka kematian bayi menjadi salah satu parameter penting bagi kemajuan suatu negara, demikian pula dengan angka kejadian stunting yang memiliki dampak negatif bagi pembangunan generasi yang akan datang.

Sebagai sebuah negara kepulauan yang sangat luas dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta, tentu bukanlah hal mudah bagi Indonesia untuk mengendalikan serta menurunkan angka kematian ibu (305 per 100 ribu kelahiran hidup), angka kematian bayi (27 per 1.000 kelahiran hidup) serta angka kejadian stunting (saat ini sebesar 30%).

Diperlukan sebuah inovasi yang bersifat sistematis dan disruptif untuk memutus mata rantai kondisi yang sudah berlangsung kronik bagaikan sebuah benang kusut tanpa berujung pangkal.

Kebijakan perencanaan keluarga
Perencanaan keluarga (family planning) dan pendidikan kesehatan reproduksi harus dilakukan sejak usia remaja dengan tujuan menyadarkan para 'calon orangtua' akan pentingnya memiliki gambaran dan target untuk membina keluarga yang sehat dan sejahtera di masa datang.

Kebijakan ini harus dipelopori dan dipimpin Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan mengadopsi kearifan lokal setiap daerah yang ada di seluruh Indonesia.

Sesungguhnya hakikat dari perencanaan keluarga ialah bahwa setiap kehamilan harus direncanakan, disiapkan, dan dijaga dengan baik, atau dalam bahasa leluhur berarti kita harus menyiapkan bibit (sperma dan sel telur/genotipe), bobot (kualitas), dan bebet (penampilan/fenotipe).

Kebijakan pemerintah tentang vaksinasi kanker mulut rahim dan MMR (measles, mumps, rubella), perlu didorong pada skala yang lebih luas guna memproteksi para calon ibu hamil terhadap bahaya penyakit infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan jabang bayi di dalam rahim.

Sekitar 35% kehamilan yang sehat ditentukan juga oleh kualitas sperma yang baik karena itu penting sekali perubahan paradigma dalam kesehatan reproduksi bahwa laki-laki berperan besar untuk terjadinya kehamilan yang sehat. Isu tentang gender dalam kesehatan reproduksi tidak lagi menjadi domain utama perempuan, tetapi harus didukung kedua pasangan.

Inovasi kesehatan reproduksi
Kemajuan teknologi digital, internet of thing (IOT) dan artificial intelligence (AI) merupakan potensi luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas layanan kesehatan reproduksi. Deteksi dini dan pengembangan biomarker nirinvasif ditengarai dapat memberikan dampak signifikan pada layanan kesehatan reproduksi.

Banyaknya pengguna telepon seluler di Indonesia saat ini (280 juta penduduk) dan pengguna internet (83 juta penduduk) merupakan modal dasar bagi kita untuk mengembangkan 'program nasional kesehatan reproduksi berbasis teknologi'.

Sebagai contoh, hal sederhana yang dapat kita lakukan ialah dengan mewajibkan semua siswi sekolah dasar dan menengah mencatat siklus haid serta keluhan yang menyertainya dalam sistem informasi kesehatan reproduksi nasional.

Berbasis siklus haid dapat terdeteksi umur biologis dan kemungkinan penyakit perempuan yang dapat mengganggu kualitas kehamilan seperti adanya gangguan pematangan sel telur (biasanya ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur) dan kista cokelat yang umumnya disertai keluhan nyeri yang luar biasa saat menstruasi. Informasi ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga dalam pengembangan program perencanaan keluarga demi terwujudnya generasi emas Indonesia.

Ide dan pemikiran disruptif harus diterjemahkan dengan kecanggihan teknologi sehingga memudahkan akses sekaligus mendorong partisipasi masyarakat untuk menciptakan Indonesia reproduksi sehat. Hal ini sesuai dengan konsep precision medicine, yaitu 4 Ps, promotive, prevention, prediction, dan participatory, yang dipercaya akan mengakselerasi sehatnya reproduksi Indonesia menuju generasi emas pada 2045. Think big, start small, and act now.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More